top ear
Langkah Politik Anak Presiden
  • SOLOPOS.COM
    Achmad Syukri Prihanto/Istimewa

Langkah Politik Anak Presiden

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (25/9/2019). Esai ini karya Achmad Syukri Prihanto, praktisi pemasaran. Alamat e-mail penulis adalah as.prihanto@gmail.com.
Diterbitkan Sabtu, 28/09/2019 - 09:00 WIB
oleh Solopos.com/Achmad Syukri Prihanto
4 mnt baca -

Solopos.com, SOLO -- Panggung politik lokal Solo menghangat dengan kemunculan Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Joko Widodo, yang mendaftar menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Selama ini publik hanya mengenal Gibran sebagai pengusaha. Tampaknya sebentar lagi dunia politik akan dia masuki. Mengemuka kabar Gibran akan maju dalam pemilihan wali Kota Solo pada 2020. Gibran tidak terang-terangan menyatakan akan maju dalam kontestasi politik.

Esai ini tidak membahas kapasitas Gibran sebagai calon wali kota atau memperdebatkan langkah politiknya. Esai ini juga bukan untuk memperhitungkan peruntungan politik Gibran, namun sekadar menerka manuver anak muda Solo kelahiran 1 Oktober 1987 ini betul-betul maju sebagai kandidat wali Kota Solo atau sekadar testing the water.

Menurut Kamus Cambridge, testing the water adalah idom yang artinya to find out what people's opinions of something are before you ask them to do something. Mengukur pendapat orang atau kelompok tertentu mengenai sesuatu sebelum orang atau kelompok tertentu itu disuruh melakukan sesuatu.

Menurut literatur lain, test the water,  testing the water, adalah memancing reaksi publik sebelum mengeluarkan keputusan. Jika publik tidak bereaksi atau merespons positif, the show must go on, keputusan dilanjutkan. Ada juga yang mengartikan sebagai  judge people's feelings or opinions before taking further action atau menilai perasaan dan opini publik sebelum mengambil aksi lebih lanjut.

Dalam literatur komunikasi jurnalistik ada istilah yang semakna dengan testing the water, yaitu "balon percobaan" (proofballon).  Dalam Kamus Jurnalistik (Simbiosa, 2009), balon percobaan itu sebagai "suatu berita yang disiarkan secara sengaja untuk memancing reaksi publik untuk pemberitaan lebih jauh, umumnya bersifat politis...".

Perilaku Sebelum Pemungutan Suara

Publik sebenarnya tidak perlu nyinyir dulu. Ada yang mengatakan aji mumpung. Ada yang menuduh Presiden Joko Widodo mulai membangun politik dinasti. Ada yang khawatir kepercayaan publik kepada Presiden Joko Widodo menurun. Dalam pesta demokrasi terkadang perilaku kontestan sebelum pesta digelar (baca: pemungutan suara) lebih menarik untuk diikuti.

Mari menerka-nerka apa yang sesungguhnya sedang dimainkan oleh Gibran. Pertama, kemunculan Gibran sebagai kandidat kepala daerah sebenarnya lazim dipakai banyak calon pemimpin di Indonesia. Polanya hampir mirip.

Muncul melalui survei, melakukan safari politik, dan mulailah bertebaran spanduk-spanduk dukungan. Gibran muncul dalam survei Lembaga Laboratorium Kebijakan Publik Universitas Slamet Riyadi Solo. Gibran Rakabuming Raka masuk bursa calon wali kota Solo.

Popularitas Gibran mengalahkan popularitas Ketua DPRD Kota Solo Teguh Prakosa. Setelah survei dirilis, tidak ada perubahan berarti. Gibran hanya mengucapkan terima kasih atas dukungan masyarakat Solo. Selang beberapa waktu, Gibran menemui Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo di Rumah Dinas Wali Kota Solo Loji Gandrung pada Rabu (18/9).

Ini adalah safari politik pertama Gibran. Gibran menemui Wali Kota Solo F.X. Hadi Rudyatmo sekaligus Ketua DPC PDIP Kota Solo yang memiliki posisi strategis dalam penjaringan calon wali kota dan calon wakil wali Kota Solo.

Kita tunggu apakah Gibran punya agenda ke pondok pesantren, kelompok marginal, kaum buruh perkotaan, pedagang kaki lima, dan kelompok-kelompok lain. Safari politik ini biasa dilakukan oleh kandidat pemimpin. Safari politik yang dilakukan secara terbuka dan diliput media tentu menyimpan pesan yang ingin disampaikan.

Kedua, aksi Gibran bisa jadi mencerminkan sikap pribadi yang menginginkan ada perubahan di Kota Solo. Dalam berbagai kesempatan Gibran mengungkapkan Kota Solo semakin maju dan butuh sentuhan kaum muda. Pernyataan ini perlu digarisbawahi.

Di tengah riuhnya politik di Indonesia, Kota Solo perlu memunculkan pemimpin muda. Selama ini tokoh-tokoh masyarakat Solo yang muncul belum merepresentasikan kaum muda, apalagi jika menilik usia. Nama-nama yang disebut akan menjadi calon wali Kota Solo tidak bisa disebut muda.

Bukan Jalan Buntu

Ketiga, sejumlah partai politik di Kota Solo telah memberi sinyal dukungan. Partai Solidaritas Indonesia, Partai Demokrat, dan Partai Gerakan Indonesia Raya melalui ketua masing-masing menyatakan dukungan kepada Gibran secara terang-terangan. Bagaimana dengan PDIP? Partai penguasa di Kota Solo ini secara formal memang telah menutup pendaftaran karena telah mendapatkan pasangan Achmad Purnomo dan Teguh Prakosa.

Ini bukan jalan buntu untuk Gibran. Tradisi PDIP dalam menentukan kandidat kepala daerah adalah melalui rekomendasi Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat PDIP Megawati Soekarnoputri, apalagi lagi Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, masih membuka peluang bagi siapa pun yang ingin mencalonkan diri sebagai wali kota dan wakil wali kota.

Ia menyarankan siapa pun yang tertarik mendaftar untuk mengusung pasangan atau sudah sepaket, calon wali kota dan calon wakil wali kota. Saran itu juga berlaku untuk Gibran (Solopos, 20 September 2019).  Achmad Purnomo yang telah resmi mendaftar sebagai calon wali Kota Solo mengatakan seandainya rekomendasi tidak turun kepada dirinya, dia akan legawa (Solopos edisi 19 September 2019).

Peluang Gibran melaui PDIP Kota Solo masih terbuka lebar. Apa jadinyakalau PDIP Kota Solo tidak mengusung Gibran dan Gibran malah maju lewat partai politik lain? Partai Kebangkitan Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Goloangan Karya, Partai Nasional Demokrat di tingkat pengurus pusat telah bersuara untuk hal ini dan menunjukkan dukungan kepada Gibran.

Katakanlah Gibran maju sebagai calon wali Kota Solo maka ini saat yang tepat menguji kualitas demokrasi kita. Siapa saja berhak memilih dan dipilih. Jika Gibran maju sebagai kandidat wali kota sampai terpilih, tidak ada peraturan yang tidak memperbolehkan akibat bertalian keluarga dengan Presiden Joko Widodo.

Kalau Gibran adalah anak presiden, tentu presiden tidak memiliki hak politik apa pun untuk menentukan siapa pun  menjadi pemimpin di daerah. Penentunya adalah masyarakat Solo sendiri. Apakah Gibran benar-benar maju mencalonkan diri dalam pemilihan wali Kota Solo 2020 atau sekadar testing the water? Kita tunggu kejutan selanjutnya.

Editor : Ichwan Prasetyo ,
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkini