Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

KTNA Sragen Kecam Keputusan Pemerintah Impor Beras 200.000 Ton

Kebijakan pemerintah mengimpor beras 200.000 ton menyakiti hati petani Sragen. KTNA Sragen menyebut kebijakan tersebut menunjukkan pemerintah tak berpihak kepada petani.
SHARE
KTNA Sragen Kecam Keputusan Pemerintah Impor Beras 200.000 Ton
SOLOPOS.COM - Ketua KTNA Sragen, Suratno, Selasa (11/10/2022). (Solopos.com/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Keputusan pemerintah membuka kembali keran impor beras komersial sebanyak 200.000 ton menyakiti para petani di Sragen. Pemerintah disarankan memperbaiki tata niaga beras dari hulu ke hilir ketimbang mengimpor beras.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen, Suratno,  gerah dengan kebijakan impor beras. Hal ini menunjukkan  pemerintah tidak berpihak kepada petani. Dia menyatakan perbedaan data tentang cadangan pangan (beras) nasional antara Kementerian Pertanian, Badan Urusan Logistik (Bulog), dan Badan Pusat Statistik (BPS) yang memicu impor tersebut.

PromosiPromo Menarik, Nginep di Loa Living Solo Baru Bisa Nonton Netflix Sepuasmu!

“Suka tidak suka [impor beras]. Mau tidak mau, petani yang dirugikan atas kebijakan impor beras itu. Impor beras akan berdampak pada anjloknya harga beras di tingkat bawah. Padahal, coba lihat biaya produksi yang dikeluarkan petani yang melejit luar biasa sejak adanya kenaikan harga BBM [bahan bakar minyak]. Belum lagi berkurangnya subsidi pupuk yang membuat petani harus membeli pupuk nonsubsidi yang harganya selangit,” jelas Suratno.

Dengan adanya impor beras, harga jual gabah kering panen (GKP) yang sedang bagus bisa jadi anjlok karena stok beras yang bakal melimpah setelah ada beras impor.

Baca Juga: 200.000 Ton Beras Impor Segera Masuk Indonesia, Bapanas: Tak Ganggu Petani!

Suratno mengatakan harga GKP sekarang sedang baik yakni tembus Rp6.250 per kg untuk padi yang dipanen menggunakan combine harvester. Tetapi bila dipanen menggunakan thresser maka harganya turun menjadi Rp5.900 per kg. Dengan harga itu, ujar dia, petani masih bisa mendapat untung meski biaya produksi tinggi. Namun, ia khawatir kebahagiaan petani hanya berlangsung sesaat karena adanya beras impor.

Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak

Dia juga mempertanyakan kesuksesan program IP400 yang mewajibkan petani panen empat kali dalam setahun. Jika program IP400 itu berhasil, menurut dia, pemerintah tak perlu impor karena cadangan beras nasional cukup.

“Kami di KTNA bisa apa. Di mana-mana melawan kebijakan impor beras ternyata pemerintah tetap impor. Kami hanya bisa berharap impor beras itu dilakukan sesuai kebutuhan selama 1-2 bulan ke depan, karena mulai Februari 2023 sudah panen raya,” jelasnya.

Baca Juga: Mendag Beri Izin Impor 500.000 Ton Beras, Begini Respons Mentan

Kilas Balik 2022 - Emagz Solopos

Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sragen, Sakri, mengatakan Kementerian Pertanian sebenarnya tidak menghendaki impor beras saat berkunjung ke Sragen. Dia hanya bisa berharap semoga kebijakan impor beras itu tidak sampai menggangu atau menjatuhkan harga beras.



Info Digital Tekno
Indeks
Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Info Perbankan
Indeks
Interaktif Solopos
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Emagz Solopos
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Interaktif Solopos
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Solopos Stories
      Part of Solopos.com
      ISSN BRIN
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode