Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Kotakata Kita

Kota jugalah yang memaksa saya setiap hari harus melihat jutaan orang yang bertahan hidup dengan gaji 1/16 dari harga sebuah jam tangan yang dipakai para pengunjung mal tiap kali parade weekend tiba.
SHARE
Kotakata Kita
SOLOPOS.COM - Ayu Prawitasari (Istimewa/Dokumen pribadi).

Solopos.com, SOLO—Beberapa kota terperangkap dalam ingatan usia dewasa saya, sementara beberapa lainnya hilang tanpa kesan. Kota-kota yang tak bisa saya lupakan adalah kota-kota yang indah, setidaknya begitulah yang dikatakan mata kanak-kanak saya.

Saya akan selalu ingat Jogja dengan lesehan Maliboronya ketika bapak membayar segelas jeruk panas seharga Rp8.000 sambil tertawa terbahak, tentu saja menertawakan kesialannya. Solo dengan sepasang sepatu murah di emperan Pasar Klewer.

PromosiPromo Menarik, Nginep di Loa Living Solo Baru Bisa Nonton Netflix Sepuasmu!

Malang dengan gedung bioskop tua yang kini sudah tidak ada, tempat Pakde berjaga di alun-alun Kayutangan. Surabaya dengan kebun binatangnya. Jakarta dengan kereta gantungnya di Taman Mini Indonesia Indah atau monyet-monyet yang menyeringai di Bedugul, Bali, yang membuat ibu ketakutan.

Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak

Pemahaman saya perihal kota menjadi jauh lebih kompleks ketika saya dewasa, namun kesan tentang kota tua tetap hidup dengan wajah aslinya di salah satu lapisan memori terbawah saya. Saya rawat dengan baik kenangan itu meski wajah kota-kota tersebut telah berubah total.

Seperti kata Sigmund Freud, peradaban selalu ditandai dengan hancurnya beberapa bagian kota lalu mereka bangkit lagi, menjadi kota-kota yang baru.
Sialnya, berbeda sekali dengan kota, pertumbuhan internal kita justru ditopang ingatan yang tidak pernah hancur.

Kita tidak bisa menghancurkan ingatan (tidak masalah kalau itu ingatan baik, namun nyatanya ini termasuk yang buruk) dengan cara apa pun lalu membangunnya menjadi ingatan baru.

Perubahan yang terjadi pada kita – yang menjadi kekuatan kita – justru berbasis dari ribuan kehancuran yang kita alami. Kreativitas pengalihan yang luar biasa, menurut Freud, (saya mengibaratkannya sebagai jutaan jalan baru, bukan jutaan bangunan baru hasil renovasi) yang membuat kita bangkit kembali.

Jadi saya mengamini Freud soal ingatan ini – termasuk juga soal ingatan buruk atau trauma yang selalu mengikuti hidup kita. Saya tahu manusia gemar meromantisasi kenangan indah, namun percayalah tidak ada yang salah dengan itu karena jelas kenangan indah jauh lebih lebih baik diromantisasi dibandingkan kenangan buruk.

Kenangan indah adalah bahan bakar imajinasi supaya kita tidak mudah depresi. Metode yang tepat dalam menghadapi hidup yang keras adalah kelunakan, jadi itulah sebenarnya fungsi imajinasi. Bagi saya, kenangan yang indah perihal kota selalu memberikan harapan supaya beberapa bagian kota tetap ramah di tengah wajah keseluruhannya yang menurut saya saat ini begitu menakutkan.

Baca Juga: Kita (Semua) Butuh Kerupuk

Patah hati saya pada kota dimulai ketika saya datang ke Solo untuk melanjutkan sekolah. Saat berjalan kaki dari tempat kos menuju kampus, saya melihat seorang laki-laki lansia sedang makan. Butiran nasi menghiasi bibir dan pipinya yang cekung sementara sampah berserakan di kakinya. Piring plastik di sampingnya hanya menampung nasi yang butirannya berjarak, satu gorengan yang saya lupa apa, dan satu kerupuk.

Ketidakberdayaan di tengah keindahan kota itu membuat saya terpukul. Yang saya rasakan adalah kombinasi antara terkejut, sedih, takut, dan entah persepsi suram apa lagi yang memukul-mukul kemanusiaan saya.

Saya tak pernah melihat jenis kerapuhan seperti itu meski setelah saya ingat-ingat lagi mungkin pernah walau itu pun sangat samar. Kejadiannya sudah lama sekali, waktu saya masih kecil di Jember, Jawa Timur.

Saat itu, ibu menangis nyaris histeris mendengar tetangga belakang rumah saya gantung diri karena terjerat utang yang nominalnya sebenarnya tak banyak-banyak amat.

“Kenapa dia tidak minta bantuan tetangga saja? Uang segitu kan bisa dicarikan. Kenapa dia malah bunuh diri?” tanya ibu berulang-ulang entah kepada siapa.
Begitulah. Kota membuat saya berkali-kali patah hati karena paradoksnya yang sungguh tak lucu. Orang-orang yang makan dengan asupan tak layak, sementara di tengah kota berkarung-karung sampah makanan segar dibuang begitu saja karena keberlimpahan. Kelebihan yang sia-sia.

Kota jugalah yang memaksa saya setiap hari harus melihat jutaan orang yang bertahan hidup dengan gaji 1/16 dari harga sebuah jam tangan yang dipakai para pengunjung mal tiap kali parade weekend tiba.

Cerita lain adalah tentang para buruh yang kesulitan mencari tempat tinggal, mengumpulkan uang untuk membayar kontrakan baru, berpindah-pindah setiap tahun, sementara orang-orang kaya sibuk mengoleksi rumah atau tas mewah yang harganya lebih mahal dibandingkan mobil saya.

Kisah patah hati terbaru dan saya tahu itu bukan yang terakhir adalah saat saya membaca berita kiriman seorang reporter. Kejadiannya beberapa pekan lalu. Sebuah berita di newsroom tentang penghancuran 183 kios pedagang di Taman Satwa Taru Jurug yang dijaga puluhan polisi membuat saya merasakan ketidakberdayaan yang sama saat saya melihat seorang kakek dengan butiran nasi di pipinya.

Penghancuran tersebut terjadi karena Taman Satwa Taru Jurug akan berubah menjadi Solo Safari. Pemerintah Kota memutuskan para pedagang tidak bisa berada di tempat itu lagi karena keberadaan mereka tak sesuai dengan konsep kebun binatang modern.

Kalimat yang mendeskripsikan pedagang tak bisa masuk kebun binatang dan hanya bisa menunggu di luar sejak Subuh, melihat kios mereka yang hancur tanpa bisa berbuat apa-apa, membuat mata saya terpaku. Kalimat itu menghantui saya selama berhari-hari. Kalimat tersebut benar-benar merangkum wajah paradoks kota yang selama ini sangat saya takuti.

Meski berita itu telah berlalu tanpa ada kejelasan titik tengahnya karena pedagang tetap keberatan dipindah ke pasar tradisional sementara pemerintah berkukuh tak memberikan solusi lain, kalimat tersebut tetap tak bisa pergi dari ingatan saya.

Kemakmuran

Saya tidak ingin naif dengan mengatakan perubahan tak perlu atau penataan kota adalah kesia-siaan, namun memindah orang yang telah bekerja di suatu tempat selama belasan tahun tanpa pertimbangan matang bagi saya juga hanya akan menambah masalah jangka panjang.

Pengusiran tanpa solusi matang hanya akan menambah jumlah orang miskin di kota ini. Kebijakan tersebut juga bakal menambah panjang spiral kekerasan struktural yang muncul akibat perasaan terpinggirkan, kecemburuan, kemarahan, serta ketidakadilan di tengah segregasi yang makin tajam – di balik rumah-rumah indah; di balik restoran mahal yang menjamur; di balik hotel-hotel berbintang yang tumbuh; atau di balik kekhawatiran masyarakat perihal taman rakyat yang bakal berubah menjadi taman megah se-Asia Tenggara, Balekambang.

Solopos Stories

Saya selalu yakin kualitas hidup kita ditentukan dari lingkungan tempat kita tinggal. Untuk mewujudkan kemakmuran memang tidak semudah membagi angka pertumbuhan secara merata karena itu juga konyol sekali.

Namun, bukan berarti kerakusan manusia tidak berbatas karena logika ekonomi, logika pasar, dan logika investasi bukanlah hukum fisika yang memuat atom tanpa pikiran dan perasaan. Hukum-hukum ini melibatkan manusia sehingga jauh lebih kompleks yang saya yakin bakal membuat ilmuwan fisika kelelahan.

Tulisan Katrine Marcal di bukunya Siapa yang Memasak Makan Malam Adam Smith ketika membandingkan John Maynard Keynes dan Mahatma Gandhi tiba-tiba memenuhi pikiran saya. Keynes pernah berkata bahwa kita harus berpura-pura bahwa yang adil itu tidak adil dan yang tidak adil itu adil karena yang tidak adil itu berguna dan yang adil itu tidak. Saya setuju dengan pendapat itu karena memang keserakahanlah yang ampuh untuk membuat ekonomi berputar.

Nah, sementara itu terjadi, akibatnya adalah kondisi yang disebut Gandhi bahwa ada orang-orang di dunia ini yang begitu laparnya sehingga Tuhan tidak dapat muncul di hadapan mereka kecuali dalam wujud roti.

Paradoks lagi dan lagi hingga saya bayangkan pendulum itu terus terayun-ayun sampai saya berangkat tidur. Sialnya lagi, saat saya mencoba memejamkan mata, bayangan filsuf Herbert Spencer, tampak menari-nari di kegelapan. “Kau ingin kemakmuran atau integrasi sosial? Pilih saja bergantian dan kadang-kadang.”

 

(Esai ini terbit di Harian Solopos edisi 23 Januari 2023. Penulis adalah wartawan Solopos Media Group)



Info Digital Tekno
Indeks
Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Info Perbankan
Indeks
Interaktif Solopos
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Kuis Solopos - Seru-seruan Asah Otak
      Emagz Solopos
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      ISSN BRIN
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode