Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Klaten Sentra Gula di Zaman Hindia Belanda, Ini Deretan Pabrik Gulanya

Kabupaten Klaten pernah menjadi daerah penghasil gula yang cukup besar di Indonesia.
SHARE
Klaten Sentra Gula di Zaman Hindia Belanda, Ini Deretan Pabrik Gulanya
SOLOPOS.COM - Ilustrasi Perkebunan Tebu. (Istimewa/ptpn2.com)

Solopos.com, KLATEN — Kabupaten Klaten pernah menjadi daerah penghasil gula yang cukup besar di Indonesia. Sejak awal tahun 1800-an, banyak berdiri pabrik gula Belanda di kawedanan Klaten, Gondangwinangoen, Pedan, dan beberapa kawedanan lainnya.

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, Senin (8/8/2022), pertengahan abad ke-18 menjadikan Jawa sebagai salah satu pemasok gula terbesar didunia. Hasil tersebut masih dapat dirasakan pada masa kemerdekaan sampai tahun 1970-an.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Hal itu disebabkan oleh pabrik-pabrik gula yang dibangun di berbagai wilayah Jawa, salah satunya Kabupaten Klaten. Keberadaan berbagai pabrik gula diprakarssai oleh pemerintah Hindia Belanda.

Dilansir dari tesis berjudul Makna Diferensiasi Karya Seni Lukis Pasren di Kabupaten Klaten oleh Waluya Tahun 2012, perusahaan perkebunan di Klaten telah mulai berkurang karena masa peperangan yang lama. Bahkan pada masa penjajahan Jepang, banyak perusahaan perkebunan yang diubah menjadi perusahaan yang hasilnya hanya dibutuhkan oleh Jepang.

Ketika zaman Hindia Belanda, di Klaten terdapat 32 perusahaan dengan perincian 15 pabrik gula, 13 perusahaan tembakau, satu perusahaan karung dan tiga berg-cultuur-ondernemingen.

Baca Juga: Asale Desa Kebon Klaten, Dulu Perkebunan Keraton Solo

Di masa penjajahan Jepang, jumlah perusahaan menjadi berkurang drastis. Dari jumlah 32 perusahaan itu menjadi delapan perusahaan perkebunan. Sisa pabriknya di antaranya empat pabrik gula, satu perusahaan tembakau, dua pabrik makanan, dan satu pabrik karung.

Pabrik-pabrik tersebut contohnya Pabrik Gula Gondangwinangun, Pabrik Karung Goni di Delanggu, perusahaan tembakau Wedi-Birit (kebonarum, Gayamprit, Jongandan (Ketandan, Trucuk).

Sebetulnya, daerah Klaten juga mempunyai banyak perusahaan kopi yang berulang kali berubah menjadi pabrik penggilingan beras. Akhirnya, pada 1937 di Kelurahan Prambanan ditanami rosela dan kapas.

Di kecamatan lainnya, tentara Jepang menebangi tanaman milik perusahaan Belanda. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan apabila Belanda datang lagi maka mereka tidak akan menemukan perusahaannya yang dulu.

Baca Juga: Sejarah Pabrik Gondang Winangoen Klaten, Museum Gula Jawa Tengah

Lantaran adanya perusahaan perkebunan yang telah ada berpuluh-puluh tahun di Klaten, masyarakat Kabupaten Bersinar dapat mengenal tanaman perkebunan baru. Kemudian, rakyat Klaten menanam berbagai tanaman, salah satunya tembakau bernama tembakau rakyat yang meliputi tembakau Virginia dan tembakau Jawa.

Selain menanam tembakau, mereka juga menanam tebu. Hal ini disebabkan pada tahun 1953, pemerintah menganjurkan menanam tebu guna menambah hasil produksi gula. Penyelenggaraan penanaman tebu diserahkan kepada Yayasan Tebu Rakyat (Yatra) di Solo.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode