[x] close
Klaster Tarawih di Jateng Ditemukan di 5 Kabupaten, Mana Saja?
Solopos.com|jateng

Klaster Tarawih di Jateng Ditemukan di 5 Kabupaten, Mana Saja?

Penyebaran Covid-19 dari klaster tarawih terjadi di lima kabupaten di Jateng. Kepala Kanwil Kemenag Jateng kurang sepakat dengan penyebutan klaster tarawih.

Solopos.com, SEMARANG – Kasus penularan atau klaster Covid-19 dari kegiatan salat tarawih ditemukan di lima kabupaten di Jawa Tengah (Jateng). Kelima kabupaten itu yakni Brebes, Sukoharjo, Sragen, Pati, dan Purbalingga.

Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Jateng, Musta’in Ahmad, membenarkan  munculnya klaster Covid-19 dari kegiatan salat tarawih di lima kabupaten tersebut. Meski demikian, ia belum bisa memerinci berapa warga yang dinyatakan terpapar Covid-19 dari klaster tersebut di tiap
wilayah.

“Yang terbaru sih informasinya ada penambahan di Purbalingga. Tapi, data secara detail kami masih memperinci,” ujar Musta’in saat dihubungi Solopos.com, Minggu (9/5/2021).

Baca Juga: 56 Warga Positif , Perumahan di Pati Klaster Baru Covid-19

Musta’in mengaku sebenarnya kurang setuju jika kasus penularan Covid-19 dari warga yang menjalankan ibadah salat tarawih itu disebut klaster tarawih.
Menurutnya belum tentu kasus penularan Covid-19 itu berasal dari kegiatan tarawih.

“Bisa jadi si pasien yang positif itu tertular bukan dari salat tarawih. Apakah yang bersangkutan terpapar virus di masjid? Kita kan enggak tahu. Bandingkan saja dengan hiruk pikuk yang ada di mal, rumah makan, kan penerapan prokes [protokol kesehatan] jauh lebih longgar dibanding dengan yang ada di masjid. Masak tempat-tempat itu [mal dan rumah makan] jauh lebih aman dibanding masjid?” tutur Musta’in.

Disiplin Prokes

Kendati demikian, Musta’in mengimbau kepada umat Islam yang menjalankan salat tarawih atau kegiatan keagamaan lainnya untuk menerapkan prokes pencegahan Covid-19 secara disiplin.

“Menurut saya, apakah itu klaster atau tidak, yang terpenting jangan abaikan prokes. Gunakan masker saat di masjid, terapkan jaga jarak, dan sering cuci tangan. Itu upaya kita mencegah penularan Covid-19,” imbau mantan Kepala Kanwil Kemenag Kota Solo itu.

Baca Juga: 6 Klaster Covid-19 Boyolali Masih Aktif Dengan Total 52 Kasus Positif

Mustain juga meminta warga untuk tidak menggelar salat Id saat perayaan Idulfitri 1442 Hijriah di tanah lapang. Warga diimbau menggelar salat Id di masjid atau musala yang ada di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.

“Hasil tausiah MUI [Majelis Ulama Indonesia] Jateng, salat Id sebaiknya digelar di masjid atau musala. Jangan di lapangan karena akan menimbulkan kerumunan dan berpotensi memunculkan penularan Covid- 19,” terang Musta’in.


Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago