top ear
Ilustrasi kendaraan parkir di jalan kampung. (Solopos-dok)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi kendaraan parkir di jalan kampung. (Solopos-dok)

Kisah Warga Solo Punya Kendaraan Tanpa Garasi

Berita Kota Solo kali ini tentang kisah warga Solo yang punya kendaraan tanpa garasi.
Diterbitkan Minggu, 24/11/2019 - 05:00 WIB
oleh Solopos.com/Mahardini Nur Afifah
3 menit baca

Solopos.com, SOLO – Pemanfaatan jalan umum permukiman sebagai “garasi” sementara berpotensi menganggu kenyamanan warga lainnya. Salah satunya ketika ada kondisi darurat misalkan ibu hamil akan melahirkan, ada warga sakit, sampai mobil pemadam kebakaran butuh akses tanpa hambatan.

Tetapi, pada kenyataannya banyak orang yang dengan santai memarkir kendaraan pribadi di depan rumah di gang sempit tanpa memedulikan kondisi sekitar. Pemilik kendaraan mampu membeli kendaraan namun tak bisa menampung kendaraan pribadinya di rumah dan mengganggu fungsi jalan menjadi masalah klasik perkotaan.

Meski sering menyulut pertikaian, hal semacam ini cukup banyak dilakukan. Masyarakat pada akhirnya memaklumi hal tersebut dengan dasar tepa selira atau dalam bahasa Indonesia disebut tepa salira. Fenomena semacam itu ditemukan di berbagai wilayah, mulai dari ibu kota hingga kota berkembang seperti Solo, Jawa Tengah.

Denyut aktivitas di salah satu kampung di jantung Kota Bengawan mulai melambat begitu jarum jam bergerak melewati pukul delapan malam. Lalu-lalang orang dan kendaraan kian jarang.

Berbarengan dengan itu, pintu-pintu rumah tertutup rapat. Sayup-sayup terdengar suara televisi dari dalam. Lorong-lorong jalan di sana terasa lengang. Jalanan hanya ditunggui deretan sepeda motor yang terparkir di kanan dan kiri gang.

“Ya, kayak begini kami parkir kendaraan setiap hari,” ujar Siti, 45, warga setempat saat ditemui Solopos.com, Kamis (14/11/2019) malam.

Ibu dua anak ini memarkir tiga sepeda motor miliknya secara pararel persis di depan rumahnya. Tetangga di seberang dan samping rumahnya juga melakukan hal sejenis. Dari mulut gang yang cuma muat satu sepeda motor dan bagian dalam gangnya bisa digunakan dua sepeda motor berpapasan tersebut, terparkir sembilan sepeda motor. Pemandangan tersebut nyaris bisa ditemui sepanjang malam.

“Sudah tiga tahun kami mulai ikutan parkir kendaraan di luar rumah. Soalnya di dalam sudah penuh dagangan. Kalau mau memasukkan dan mengeluarkan motor setiap saat juga repot,” beber dia.

Selain ditunjang keamanan dan alasan kepraktisan, menurut Siti, memarkir kendaraan di jalan sudah menjadi kebiasaan sebagian warga kampunya yang memiliki keterbatasan lahan. Seperti rumahnya satu lantai seluas 60 m2 yang ditinggali empat orang dewasa.

“Ya kalau tetangga yang punya uang, ada yang beli lahan parkir saja. Ada juga pengusaha yang meminjami lahannya bisa dipakai pas malam hari waktu tokonya tutup. Tapi itu biasanya buat mobil. Yang motor kurang praktis,” jelasnya.

Siti berpendapat memarkir kendaraan di luar rumah sah-sah saja dilakukan asalkan tidak mengganggu mobilitas warga sekitar. Terlebih selama ini warga sekitarnya saling pengertian.

“Yang penting enggak menghalang-halangi orang lewat. Kan bisa diatur penataannya. Enggak di depan pintu rumah orang juga,” sambung Siti.

Problem punya kendaraan tapi tak punya lahan parkiran pribadi tak jarang memantik perselisihan antarwarga. Seperti yang dialami Heru, 35. Warga yang tinggal di perumahan pinggiran Kota Solo ini beberapa hari lalu adu mulut dengan tetangganya.

Pasalnya sang tetangga yang tidak memiliki tempat parkir kendaraan mandiri di rumah, memarkirkan mobil serampangan di tepi jalan tanpa mempertimbangkan akses keluar masuk kendaraan dari gerbang rumah Heru.

“Pagi-pagi mau antar anakku ke sekolah, mobilku enggak bisa keluar karena mobilnya di depan pagar pas. Yang punya mobil masih tidur. Aku terpaksa pindahin mobilnya, pinjam kunci buat nggeser biar enggak kelamaan dan anakku enggak telat. Kayak gini yang bikin ribut tinggal di perumahan,” keluhnya.

Memiliki hunian perumahan di Kota Solo dengan akses jalan hanya muat satu mobil disadari Ramona, 33, punya konsekuensi logis wajib berpikir dua kali saat ingin memiliki kendaraan roda empat. Namun, kebutuhan mobilitas keluarganya yang kini dianugerahi dua buah hati berusia balita menuntut mobil pribadi sebagai pilihan paling praktis.

“Kami sadar enggak mungkin beli lahan parkir dekat rumah. Karena harga tanah permeter sudah selangit. Paling gampang, ya sewa lahan parkir,” bebernya.

Mona sempat ditawari kaveling ruang terbuka hijau strategis milik perumahannya untuk tempat parkir. Beberapa mobil tetangganya diparkir di sana. Namun dia kurang sreg lantaran kondisinya tanpa atap dan berpotensi menggangu aktivitas warga yang ingin memanfaatkan ruang publik setempat.

Pilihan garasi sementara akhirnya jatuh pada menyewa tempat parkir milik seorang pemilik lahan berjarak sekitar 300 meter dari tempat tinggalnya. Kendati harus berjalan lebih jauh ketika akan mengunakan mobil, namun dia merasa lebih aman dan kendaraannya lebih terlindungi bangunan permanen.


Editor : Profile Chelin Indra Sushmita
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini