Kisah Petani Bawang Merah Klaten Sukses Dapat Omzet Rp100 Juta, Sebelumnya Kerja di Hotel Jakarta

Galih Andika Saputra, 28, petani milenial asal Desa Ngemplak, Kecamatan Kalikotes, Klaten, sukses membudidayakan bawang merah dengan omzet tinggi.
Kisah Petani Bawang Merah Klaten Sukses Dapat Omzet Rp100 Juta, Sebelumnya Kerja di Hotel Jakarta

Solopos.com, KLATEN — Galih Andika Saputra, 28, sukses menjadi petani dengan membudidayakan bawang merah. Tak tanggung-tanggung, omzet yang didapat mencapai puluhan juta hingga pernah mencapai Rp100 juta.

Putra pertama pasangan Sugiyo dan Siti Mastiyah itu merintis menjadi petani sejak Mei 2020. Sebelum terjun ke sawah, Galih merantau ke Jakarta dan bekerja di salah satu hotel bintang lima sebagai store man. Merantau ke Jakarta sudah dilakoni Galih sejak lulus dari SMK Muhammadiyah 1 Klaten Utara. Sambil bekerja, Galih menempuh jenjang perguruan tinggi dan lulus S1 Teknik Informatika dari Unindra Jakarta pada 2019.

Hingga pada awal 2020, sektor ekonomi tak terkecuali perhotelan terpuruk gara-gara pandemi Covid-19. Kondisi hotel sepi membuat Galih membulatkan tekad pulang kampung setelah tujuh tahun merantau di Jakarta. “Bukan karena PHK atau apa, tetapi saat itu memang niat pulang karena hotel sepi,” kata Galih.

Baca Juga: Petani Milenial Klaten Sukses Budi Daya Bawang Merah, Omzetnya Tembus Rp100 Juta

Sesampainya di kampung halaman, Galih mencari-cari peluang demi dapat penghasilan. Hingga akhirnya tertarik menjadi petani setelah mengetahui besarnya potensi pendapatan yang bisa diperoleh dengan modal belasan juta rupiah bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah.

Pemuda itu lantas belajar cara bercocok tanam bawang merah. Dia mendapatkan gambaran cara menanam hingga merawat bawang merah sampai bisa dipanen dari teman-temannya yang lebih dulu menjadi petani. Galih juga mencari referensi bercocok tanam bawang merah melalui internet.

Bermodal Rp15 juta dari uang tabungan yang ia kumpulkan selama bekerja di hotel, Galih mempraktikkan ilmu yang dia peroleh pada lahan dengan luasan sekitar 1.600 meter persegi. Sawah milik orang tua dia manfaatkan untuk bercocok tanam.

Semua proses produksi termasuk perawatan dia kerjakan sendiri. Sekitar dua bulan kemudian, bawang merah yang dia tanam bisa dipanen dan laku Rp45 juta. Alhasil, pendapatan bersih yang bisa dia peroleh mencapai Rp25 juta. Galih menjajal bertanam jenis hortikultura lainnya selain bawang merah seperti gambas.

Baca Juga: Ternyata Ada Warung Makan Gratis di Klaten, Ini Lokasinya

Dari hasil cocok tanam gambas itu, Galih bisa mendapatkan omzet Rp7 juta dengan modal Rp700.000. Omzet terbesar yang dia peroleh selama lebih dari setahun terakhir menjadi petani yakni Rp100 juta dari budi daya bawang merah. Pemasaran bawang merah dilakukan Galih memanfaatkan media sosial.

“Bawang merah yang saya tanam saat ini sudah ada 10 orang yang menawar. Saya mencari harga tertinggi,” kata Galih.


Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago