[ X ] CLOSE

Kisah Perjuangan Tancuti Cerdaskan Ibu-Ibu Buta Aksara di Karanganyar

Tancuti dibantu rekan tutor di PKBM dan dua orang warga setempat mengajar 20 ibu-ibu usia 40 tahun hingga 60 tahun di Jumapolo Karanganyar.
Kisah Perjuangan Tancuti Cerdaskan Ibu-Ibu Buta Aksara di Karanganyar
SOLOPOS.COM - Tritancuti Keksi Endah Nuraeni, 39, mengajar ibu-ibu di Desa Jumantoro, Kecamatan Jumapolo, Karanganyar, sebelum pandemi Covid-19. (Istimewa-dok pribadi)

Solopos.com, KARANGANYAR — Tritancuti Keksi Endah Nuraeni yang akrab disapa Tancuti, 39, membuktikan pengabdian tidak selalu dihitung dari berapa keuntungan yang didapat setelah “berkorban”.

Staf berstatus wiyata bakti (WB) di Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Pendidikan Kecamatan Jumapolo itu pernah diganjar penghargaan oleh negara sebagai juara dua Taman Baca Masyarakat (TBM) tingkat nasional tahun 2018. Hadiah diserahkan di Pontianak pada Juli 2018.

Perjalanannya menuju juara tidak sekedip mata. Lulusan D3 Teknik Telekomunikasi Politeknik PPKP DIY itu kepincut dengan dunia pendidikan saat beraktivitas bersama sang ibu. Ibunya, sebelum pensiun, bekerja sebagai Penilik Pendidikan Luar Sekolah di Kecamatan Jumapolo.

Baca juga: Meraba Konsep Merdeka Belajar di Tengah Pandemi

Tancuti muda mengutarakan mimpinya ingin memiliki pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Langkah pertamanya banting setir dari jurusan teknik ke keguruan.

Dia melanjutkan pendidikan strata 1 (S1) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univet Bantara Sukoharjo pada 2008.

Saat ini, Tancuti sedang menyusun tesis pendidikan strata 2 (S2) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Univet Bantara Sukoharjo. Dia menyandang status mahasiswa pascasarjana sejak 2019.

“2007 Itu ikut program pendidikan luar sekolah dalam rangka memberantas buta aksara. Lalu pingin bikin [PKBM] sendiri. Diawali merintis taman baca masyarakat [TBM] di rumah. Awalnya hanya untuk anak-anak yang les di rumah. Saya buka perpustakaan kecil. Anak-anak yang les pinjam buku. Waktu itu bayar Rp500 per pekan,” kata warga RT 001/RW 001, Desa Jumapolo, Kecamatan Jumapolo, saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu (4/7/2021).

Baca juga: Penampakan Jalan Lawu Karanganyar yang Sepi saat Penyekatan PPKM Darurat

Setelah TBM berjalan, dia merintis program pendidikan anak usia dini (PAUD) pada 2008. Hingga kini sudah ada 20 PAUD di 12 desa di Kecamatan Jumapolo.

Mimpinya mendirikan PKBM terwujud pada 2009. Jerih payah istri Yunanto Adi Nugroho itu tampak satu tahun setelah itu. Izin penyelenggaraan pendidikan luar sekolah atas nama Prima Education keluar pada 2010.

Keaksaraan Usaha Mandiri

Selama 11 tahun, PKBM Prima Education memiliki sejumlah program, seperti PAUD, Keaksaraan, Kesetaraan (Kejar Paket A, B, C), dan Pendidikan Kewirausahaan. Salah satu programnya, yakni Keaksaraan Fungsional melibatkan dua puluh orang ibu buta aksara di Desa Jumantoro, Kecamatan Jumapolo.

“Tujuan akhirnya keaksaraan usaha mandiri. Fokusnya bukan hanya melek aksara, tetapi juga memiliki ketrampilan. Kami kenalkan ketrampilan sesuai potensi di desa, yakni pertanian dan empon-empon. Jadi kami arahkan membuat jamu, mengolah bahan yang tersedia di lingkungan sekitar. Kami sisipkan cara menghitung laba dan lain-lain. Pembelajaran tersampaikan, ketrampilan dapat,” jelas dia.

Baca juga: PPKM Darurat, Aktivitas Wong Karanganyar di Tempat Umum Dibatasi Pukul 17.00 WIB

Rata-rata ibu-ibu itu bekerja di sawah, ladang, dan berdagang. Mereka akan datang untuk belajar secara berkelompok setiap Sabtu pukul 13.00 WIB-15.00 WIB.

“Susah-susah gampang mengajar peserta didik di usia senja. Metodenya menyisipkan keaksaraan lewat program ketrampilan usaha mandiri. Tidak fokus baca, tulis, hitung, tetapi juga membangun usaha. Misal diajari memotret produk, diperlihatkan contoh label yang bagus,” ujar dia.

Dari semua upaya itu, Tancuti mengakui usahanya sempat terhalang pikiran sejumlah orang nggo apa ta isoh maca, nulis, ngitung? (Untuk apa bisa membaca, menulis, dan berhitung?). Apalagi belajar pendidikan dasar di usia senja.

Menerima Penghargaan

Tetapi uluran tangan pengabdi pendidikan lain dari warga setempat membuka jalan. “Peran serta warga setempat, tokoh masyarakat yang disegani itu berpengaruh. Pendidikan sepanjang hayat tidak mengenal usia. Di situ tantangannya. Syukurlah berjalan lancar beberapa tahun ini,” ungkapnya.

Baca juga: Ada 1.633 Lowongan Guru PPPK Kabupaten Karanganyar, Ini Formasinya

Usaha Tancuti dan rekannya berhasil mengantarkan salah satu peserta didik Keaksaraan Fungsional naik pesawat, menginap di hotel, dan menerima penghargaan dari negara. Juara tiga nasional program Keaksaraan Usaha Mandiri.

“Itu membahagiakan. Awalnya tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Bisa menjadi kebanggaan untuk mereka. Sekarang, peserta keaksaraan yang sudah pintar ikut membantu temannya belajar,” tutur dia.

Sekarang, ibu-ibu itu tidak lagi meminta bantuan anaknya untuk menulis nama di selembar amplop saat akan menyumbang. Mereka juga tidak lagi membubuhkan cap jempol saat menghadapi selembar kertas persetujuan kredit.

“Pingin banget semua [ibu-ibu] itu bisa mandiri di usia senja. Bisa mengembangkan usaha secara online. Selain itu lebih cinta lingkungan, gotong royong, menghormati orang lain. Mimpi saya, mereka mandiri secara pendidikan dan ekonomi. Pelan tapi pasti,” jelasnya.

Sayangnya untuk saat ini program Keaksaraan Fungsional tersebut harus berhenti sementara waktu karena pandemi Covid-19.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago