Kisah Mistis Watu Nganten di Blora, Pengantin Baru Dikutuk Jadi Batu

Keberadaan Watu Nganten yang merupakan seonggok batu berada dibawah himpitan pohon tua itu bukan tanpa sebab
Kisah Mistis Watu Nganten di Blora, Pengantin Baru Dikutuk Jadi Batu

Solopos.com, BLORA — Jika Watu Nganten di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi adalah sebuah spot yang indah, berbeda dengan Watu Nganten yang ada di Kabupaten Blora. Watu Nganten yang berlokasi di Dukuh Ngelobener, Kel/Kec Jepon ini justru adalah hasil dari kisah mistis.

Mengutip Liputan6.com, Kamis (15/7/2021), keberadaan  Watu Nganten yang merupakan seonggok batu berada dibawah himpitan pohon tua itu bukan tanpa sebab. Supardi yang merupakan sesepuh dukuh setempat menceritakan bahwa dulu ada sepasang suami-istri yang baru menikah lalu dikutuk menjadi batu lantaran mereka membuang hajat sembarangan.

Suami adalah seorang pemuda Dukuh Ngelobener dan istri dari Desa Brumbung. Peristiwa itu terjadi saat Supardi masih kecil sehingga dia tidak mengetahui pasti siapa nama pasangan suami istri tersebut. Dirinya juga menambahkan bahwa seusai menikah, sepasang pengantin itu mulanya hendak pergi ke rumah orang tuanya dengan menunggang kuda.

Baca Juga: Sego Krayahan, Menu BTS Meal Khas Tradisi Sedekah Bumi di Blora

Saat berada di tengah hutan dan saat itu kondisinya masih hutan belantara, tiba-tiba pengantin pria tidak bisa menahan rasa ingin buang hajat. Dia kemudian langsung buang hajat di sebuah tempat yang tidak disadari adalah tempat yang  dikenal angker.

Perbuatan pasangan itu membuat jin penunggu tempat itu marah lantaran tempatnya telah dikotori dengan kotoran hajat. Apalagi kedunya buang hajat tanpa permisi dan akhirnya sepasang pengantin itu pun terkutuk menjadi batu.

Kuda tunggangan mereka lalu meneruskan perjalanannya sendiri. Sampai di rumah, kedua orangtuanya heran, dan bertanya kepada kuda kemana anak dan menantunya. Kuda pun mengantarkan orangtuanya itu ke suatu tempat, namun yang didapati hanyalah seonggok batu yang berimpitan dengan pohon besar.

Baca Juga: Gedung SMPN 5 Blora Berawal dari Institoet Boedi Oetomo

Sejak saat itu, kata Supardi, ada pantangan tidak boleh menikahkan orang Dukuh Ngelobener dengan orang Desa Berumbung. Batu itu pun dianggap punden oleh warga sekitar dengan sebutan Watu Nganten. Sejak saat itu, lokasi adanya Watu Nganten itu dikeramatkan dan masyarakat setempat selalu melakukan ritual sedekah bumi di kawasan tersebut.

Selain di Dukuh Ngelobener di Kabupaten Blora, kemistisan Watu Nganten juga ada di Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Mengutip dari Suara.com, warga setempat percaya bahwa Watu Nganten ini adalah pasangan suami istri yang baru menikah sepekan lalu meninggal tertimpa batu saat berisitirahat dalam sebuah perjalanan.

Keberadaan batu itu menjadi sakral bagi warga setempat dan sering ada warga yang melakukan ritual di sana. Karena masuk dalam jalur proyek pembuatan jalan lintas selatan, keberadaan Watu Nganten ini harus dipindah, namun anehnya batu tersebut tidak bisa dipindah meskipun sudah dipecah dengan alat berat.

Baca Juga: Ajaran Saminisme Jadi Senjata Melawan Kolonialisme

Hingga akhirnya ada ritual khusus yang juga melibatkan pihak Keraton Ngayogyakarto Hadiningrat yang diadakan tepat pada Kamis Kliwon, tepatnya tanggal 12 September 2019. Singkat cerita, setelah melalui proses panjang dari ritual, batu itu berhasil dipecah dengan alat berat.

Kendati demikian, warga setempat telah mewanti-wanti bahwa siapapun yang melewati jalur ini kelak bisa menjadi tumbal sehingga warga harus hati-hati.


Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago