Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Kisah Karso Djukut, Jualan dengan Pikulan hingga jadi Angkringan

Sejarah angkringan di Klaten yang diawali dengan pikulan tumbu pada 1940 oleh Karso Djukut dari Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.
SHARE
Kisah Karso Djukut, Jualan dengan Pikulan hingga jadi Angkringan
SOLOPOS.COM - Koordinator Pemberdayaan Desa Ngerangan, Kabupaten Bayat, Klaten, Suwarna, saat menceritakan tentang sejarah asal usul angkringan, Sabtu,(13/8/2022). (Solopos.com/Wildan Farih Kurniawan).

Solopos.com, KLATEN — Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menjelaskan arti kata angkringan sebagai pikulan atau gerobak dorong untuk berjualan berbagai macam-macam minuman dan makanan di pinggir jalan.

Angkringan tak langsung menjadi gerobak. Namun diawali dengan pikulan tumbu pada 1940 oleh Karso Djukut yang berasal dari Desa Ngerangan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Desa Ngerangan, desa pelosok di Kecamatan Bayat yang berbatasan langsung dengan wilayah Kabupaten Gunungkidul, DIY, menjadi daerah asal para pencetus warung hik atau angkringan.

Koordinator Pemberdayaan Desa Ngerangan, Suwarna, Sabtu (13/8/2022), menceritakan kisah Karso Djukut diawali pada 1930.

Pada saat itu kondisi ekonomi Karso Djukut sebagai anak pertama dari lima bersaudara cukup memprihatinkan. Karso Djukut kemudian pergi ke Solo dengan pakaian dan perbekalan seadanya.

Baca juga: Di Tepi Pintu Perlintasan, Seniman Klaten Menaruh Asa Lewat Angkringan

Sesampainya di Kerten, Solo, Karso Djukut berhenti dan melihat keributan. Karso Djukut terdiam di bawah pohon dan kebingungan.

“Setelah itu 1940 ada Mbah Wono yang menolong Karso Djukut karena melihat kondisinya terlihat kasian. Akhirnya Mbah Wono mengajak Karjo Jukut untuk merawat kerbau dan bertani,” ujar Suwarna.

Karena melihat Karso Djukut giat bekerja, Mbah Wono akhirnya diberi kesempatan untuk berjualan makanan dengan memikul tumbu dengan tambir atau tampah bambu.

Setelah beberapa tahun tepatnya pada 1943, Karso Djukut berinovasi menambah dua ceret untuk membawa kopi, teh, dan jahe.

Baca juga: HARI JADI KLATEN : Malam Nanti, 150 Pedagang Ramaikan Festival Wedangan di Jl. Pemuda Klaten

Angkringan pikul ini tidak di menyediakan kursi, sehingga para pembeli harus nongkrong atau nangkring untuk menikmati makanan dan minuman tersebut. Hal itu yang kemudian membuat penjaja makanan ini disebut angkring atau Nangkring. Sekarang lebih familiar dengan kata angkringan.

“1950 Karso Djukut memulai mengajak warga desanya untuk berjualan angkringan ke Solo. Awalnya masih ikut dengan Mbah Wono mereka dibelikan kandang kebo untuk beristirahat pada siang hari dan berjualan pada sore sampai malam hari lalu disetorkan ke Mbah Wono,” kata Suwarna.

“Sejak saat itu angkringan di Solo mulai berkembang,” ujar Suwarna.

Berjualan dengan dipikul membuatnya terkena air panas, oleh karena itu dia membuat gerobak dorong dengan roda pada 1975.

“Dari tahun 1990 sampai sekarang angkringan mulai menyebar diseluruh penjuru. Saat masa ini angkringan sudah menyebar di seluruh Jawa Tengah seperti Salatiga, Bawen, Ungaran, Magelang, Purwodadi, Wonosobo, Pati, Demak dan lain-lain,” kata Suwarna.

Baca juga: KULINER SEMARANG : Angkringan Polke Sajikan Menu Tradisional untuk Berbuka Puasa

“Biasanya mereka mencoba memulai usaha dengan mengembara dua orang terlebih dahulu lalu setelah sukses merantau mereka akan mengajak teman lagi dari desa untuk mengembangkan angkringan mereka,” ungkap Suwarna.

Setelah tahun 1990 angkringan mulai tersebar di Jawa Barat dan Jawa Timur. Lalu pada 2010 angkringan mulai menyebar di seluruh wilayah indonesia. Bahkan akhir-akhir ini angkringan sudah ada di negara lain. Hal tersebut bisa terjadi karena dibawa oleh para mahasiswa yang kuliah di luar negeri.

Sekarang angkringan menjadi nilai luhur spirit masyarakat Desa Ngerangan. Inisiator Kampung Pariwisata Ngerangan, Muchsin Dwi mengaku bangga menjadi pengusaha angkringan.

“Yang membuat kita bangga itu mampu mengkaver biaya pendidikan bisa dikatakan 90 persen anak pelaku angkringan adalah lulusan S1,” kata Muchsin.

“Kalau sekarang ada angkringan atau Hik dengan konsep milenial dengan menu-menu yang milenial mayoritas lari ke Jogja dan Purwokerto. Angkringan menyesuaikan pangsa pasar setempat dengan mempertimbangkan makanan milenial sepeti mi spageti ataupun makanan yang lainnya,” kata dia.

Baca juga: Hik, Wedangan, dan Angkringan, Mana yang Lebih Dulu Ada?



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode