Kisah John Lobo, Guru Katolik di Mojokerto yang Ikut Bangun Masjid

Ini sangat berkesan bagi saya yang sehari-hari berdinas sebagai Guru Agama Katolik di SMA Negeri 2 Kota Mojokerto.
Kisah John Lobo, Guru Katolik di Mojokerto yang Ikut Bangun Masjid
SOLOPOS.COM - John Lobo ikut dalam pembangunan masjid di Mojokerto. (Istmewa)

Solopos.com, MOJOKERTO — Awalnya tidak pernah tebersit dalam pikiran John Lobo terlibat dalam pembangunan masjid. Perjalanan hidup
John Lobo yang merupakan pemeluk agama Katolik akhirnya membuat dia terlibat dalam pembangunan Masjid Sirathal Mustaqim di RW 13, Desa Japan, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.

Cerita John Lobo yang juga merupakan guru Katolik terlibat dalam pembangunan ini dimuat di laman Kementerian Agama pada 22 November 2021 lalu.

John Lobo mengisahkan keterlibatan dirinya dalam pembangunan masjid bermula dari tugasnya selaku Ketua Rukun Tetangga (RT) 007/RW 013, Desa Japan. Laki-laki dengan nama lengkap Yohanes Donbosco Lobo biasa disapa dengan John Lobo.

Oleh warga RT 007, dia telah ditunjuk sebagai Ketua RT sejak 2018. Sebagai Ketua RT, dia pun rutin hadir dalam Rapat Rukun Warga (RW). Dia juga terlibat dalam berbagai kegiatan pemerintahan baik di tingkat RW maupun desa, seperti kegiatan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Desa (Musrengbangdes), persoalan sampah, pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), hingga pembangunan masjid.

Baca Juga: Kehangatan Toleransi dari 2 Karyawan Muslim di Gereja Wedi Klaten

“Pengalaman yang terakhir ini [pembangunan masjid], tak akan saya lupakan. Ini sangat berkesan bagi saya yang sehari-hari berdinas sebagai Guru Agama Katolik di SMA Negeri 2 Kota Mojokerto. Di Desa Japan ini, saya betul-betul merasakan bagaimana kehidupan masyarakat yang sangat inklusif,” kata dia sebagaimana dikutip dari laman Kemenag, Sabtu (22/11/2021).

John Lobo dipercaya menjadi Ketua RT dengan jumlah warga sekitar 234 jiwa dari 78 Kepala Keluarga. Dari jumlah itu, keluarga John Lobo, satu-satunya yang beragama Katolik.

“Meski menjadi satu-satunya keluarga Katolik, saya pegang prinsip inklusif dalam pergaulan, terlibat aktif dalam kehidupan bersama, dan menjunjung tinggi budaya setempat,” papar dia.

Awal mula keterlibatan John Lobo dalam pembangunan masjid bermula dari rapat rutin pada 18 Agustus 2021. saat rapat dibicarakan masalah pembangunan masjid di lingkungan fasilitas umum (fasum) RW 013 Japan Asri-Pitaloka. Dalam rapat itu dibahas pula pembentukan panitia pembangunan masjid.

Sebagai salah satu Ketua RT, John Lobo pun dilibatkan dalam panitia. Dia dipercaya dalam panitia sebagai seksi hubungan masyarakat (humas). Tugas yang diemban dia adalah mengumpulkan dukungan persetujuan warga terkait keberadaan fasum yang akan dipakai dalam pembangunan rumah ibadah masjid dan membangun komunikasi dengan berbagai pihak perihal proses hingga selesainya pembangunan masjid.

Baca Juga: Masjid dan Gereja Berdekatan, Jonggrangan Klaten Jadi Pilot Project Kerukunan Umat Beragama Jateng

“Dalam perjalanan waktu, nyali saya kadang ciut ketika mengumpulkan tanda tangan dukungan warga untuk pembangunan masjid di kompleks Fasum RW. Komentar dan pertanyaan kritis muncul dari teman-teman muslim,” tulis dia.

“Pak John, panjenengan [Anda] itu bukan muslim mengapa meminta tanda tangan perihal penggunaan fasum kepada umat muslim. Bahkan terlibat langsung dalam panitia pembangunan masjid,” sebut John mencontohkan komentar salah satu warga.

John menanggapi komentar itu dengan senyuman. Dia menyampaikan permohonan maaf sambil menjelaskan tugasnya sebagai Ketua RT, yang mesti hidup bersama di tengah masyarakat.

“Saya kira ini tahapan yang paling sulit yang akan saya lewati. Namun, nyatanya saya mengalami kemudahan ketika menyampaikan proposal dan permohonan donasi warga.”

Baca Juga: Indahnya Keberagaman, Sopir Muslim Asal Bantul Kerja di Gereja 32 Tahun

Dia juga selalu memanjatkan doa kepada Tuhan agar mendapatkan kemudahan. Setiap hendak melangkahkan kaki keluar rumah untuk menjumpai warga dalam urusan pembangunan masjid, saya selalu berdoa singkat agar mendapatkan tanggapan positif dari warga. “Tentu, saya berdoa secara Katolik, dengan membuat tanda salib.”

Ikut Usulkan Nama Masjid

Tak sampai di situ. Kejadian unik lain dialami John Lobo ketika pertemuan di sebuah angkringan kafe kuno milik warga di RW 013. Sekitar 11 orang perwakilan tiap RT, tokoh agama dan masyarakat, bertemu. Pertemuan ini atas undangan penasihat pembangunan, dengan agenda memilih nama masjid yang akan dibangun.

Saat itu penasehat meminta tiap anggota membawa usulan dua nama yang bakal dipilih sebagai nama masjid. Dua nama mesti berbeda. Ada delapan RT, total 18 usulan nama. Lalu dikocok seperti arisan, nama yang keluar bakal menjadi nama masjid yang akan dibangun.

“Inilah awal yang sulit bagi saya. Maka saya pun meminta nasihat nama masjid yang saya usulkan. Akhirnya saya memasukan sepotong kertas yang digulung dengan tertulis sebuah nama. Ketika dikocok, keluar golongan kertas kecil bertuliskan Al-Iqlas. Itu usulan nama pertama yang saya tulis,” ujar dia.

Saya pun tersenyum meski mulut terbalut masker warna putih. Hati kecil saya berkata, “Al-Iqlas itu pilihan saya.” Nama itu akhirnya dianulir, beberapa tokoh agama menimbang nama itu telah dipakai oleh musala di sekitar perumahan. John Lobo pun mengikhlaskan dan memberi kesempatan untuk mengocok undian lagi. Kocokan kedua keluarlah nama Sirathal Mustaqim.

Baca Juga: FKUB Karanganyar Gelar Workshop Moderasi Agama Untuk Keharmonisan Umat

“Bagi saya nama itu punya kedalaman makna. Bagi saya nama tidak sekadar diberikan atau dilekatkan begitu saja pada sesuatu. Begitupun dengan nama bakal masjid yang muncul atau keluar setelah diundi. Sirathal Mustaqim berarti jalan yang lurus.”

Demikian harapan yang tersirat bahwa masjid yang dibangun tepat di RT 05 RW 13 Japan Asri tersebut adalah sarana ideal yang membawa jemaah untuk menggapai kesalehan hidup.

John Lobo
John Lobo ikut dalam pembangunan masjid di Mojokerto. (Istmewa)

Proses pelaksanaan pembangunan masjid diserahkan sepenuhnya kepada warga RT 005 mengingat keberadaanya terletak di area tersebut sekaligus mengobati kerinduan warga setempat akan kehadiran tempat ibadah. Itu juga karena sebagian besar RT di RW 13 telah memiliki musala.

Baca Juga: Toleransi Bukan Sekadar Kata-Kata

Dia menyebut arahan ketua RT setempat warga saling bahu membahu untuk dan bekerja sama membangun masjid. Sedangkan untuk konsumsi didukung oleh kelompok dasa wisma dari keseluruhan RT yang ada.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago