Kisah Guru Senior YPAC Solo, 30 Tahun Mengabdi Ditemani Kursi Roda

Guru senior YPAC Solo, Sugian Noor, yang selama 30 tahun terakhir mengabdi ditemani kursi roda mendapatkan bantuan berupa sepeda motor modifikasi.
SHARE
Kisah Guru Senior YPAC Solo, 30 Tahun Mengabdi Ditemani Kursi Roda
SOLOPOS.COM - Guru senior YPAC Solo, Sugian Noor, mendapatkan bantuan berupa sepeda motor modifikasi untuk membantu aktivitasnya, Jumat (3/12/2021). (Solopos/Chrisna Chanis Cara)

Solopos.com, SOLO — Sugian Noor adalah salah satu guru senior yang dimiliki Yayasan Pembinaan Anak Cacat atau YPAC Kota Solo. Sejak 1992, penyandang tunadaksa itu menjadi pengajar bagi anak difabel dengan beragam kemampuan.

Keahlian memainkan berbagai alat musik membuat Sugi, sapaan akrabnya, didapuk menjadi guru seni dan budaya di YPAC hingga kini. Sugi juga membesarkan YPAC Music Percussion sebagai wadah kreasi siswa. Kelompok musik difabel itu bahkan sudah terkenal hingga penjuru Nusantara.

PromosiTop! Bos Tokopedia Masuk List Most Extraordinary Women Business Leader

Selama hampir 30 tahun mengabdi, Sugi setia dengan kursi roda yang menemaninya ke mana-mana. Sehari-hari ia mengayuh kursi roda dari rumahnya di Penumping. Laweyan, menuju YPAC di Jl Slamet Riyadi, Solo.

Belakangan kedua anaknya yang berusia sekolah dasar kerap membantu mendorong kursi rodanya untuk membantu sang ayah sampai ke sekolah. “Kadang diantar anak-anak, didorong dari rumah. Kadang juga jalan sendiri. Butuh sekitar 20 menit buat sampai YPAC,” ujar Sugi saat berbincang dengan wartawan di Omah Sinten, Jumat (3/12/2021).

Baca Juga: Amankan PPKM Level 3 Nataru, Begini Persiapan Polresta Solo

Guru senior YPAC Solo itu pun tak bisa menyembunyikan kegembiraannya saat mendapat bantuan sepeda motor dalam Hari Disabilitas Internasional 2021 di Omah Sinten, Jumat. Motor tersebut sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk menunjang mobilitas penyandang tunadaksa.

Berkontribusi di Lingkungan

Berbeda dengan motor modifikasi difabel kebanyakan yang memasang sespan (bak tambahan) di kanan atau kiri setang kemudi, sespan motor Sugi justru menyambung dengan sespan. Hal ini agar difabel bisa mengemudikan motornya sendiri meski menggunakan kursi roda. “Alhamdulillah, bersyukur sekali. Impian sudah terwujud,” ujar Sugi.

Motor tersebut berasal dari donasi yang digalang Loveland Indonesia dan Yayasan Tawon Gulo setahun terakhir. Dana yang terkumpul sebesar Rp16 juta dipakai untuk membeli Honda Beat seken serta biaya modifikasi di bengkel.

Baca Juga: Airnya Warna-Warni, Sungai di Solo Disebut Mirip Kue Lapis

Mekanik yang menangani motor Sugi juga seorang difabel. Sugi mengaku sudah tak asing dengan motor modifikasi karena pernah meminjam milik rekannya. “Paling hanya perlu adaptasi sebentar. Yang jelas, sekarang saya giliran mau antar anak ke sekolah,” ujar Sugi sambil tersenyum.

Founder Loveland, Mujadi Tani, mengatakan penggalangan donasi tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kalangan disabilitas. Loveland memilih Sugian Noor karena sosok guru YPAC Solo itu sudah terbukti kontribusinya terhadap lingkungan maupun warga difabel. “Om Sugi ini contoh difabel yang berbuat sesuatu. Kebetulan beliau juga belum punya motor jadi kami rasa bakal sangat pas,” ujarnya.

Selain memberikan motor, Loveland dan Tawon Gulo turut menguruskan SIM D sebagai izin berkendara bagi kalangan disabilitas. SIM diserahkan secara simbolis oleh petugas Polresta di peringatan Hari Disabilitas. “SIM ini gratis. Kami berterimakasih pada kepolisian yang turut peduli dengan kaum difabel,” ucap Mujadi.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago