Kisah Gembul Populerkan Satai Apus dari Solo ke Pracimantoro  

Satai apus yang banyak ditemui di angkringan tidak menggunakan daging ayam maupun kambing, tetapi memakai tepung terigu sebagai bahan utama.
SHARE
Kisah Gembul Populerkan Satai Apus dari Solo ke Pracimantoro  
SOLOPOS.COM - Sate Apus buatan Tri Widiyanto (Gembul) yang sudah siap dijual, Kamis (13/1/2022). (Solopos/Luthfi Shobri Marzuqi)

Solopos.com, WONOGIRISatai apus atau dikenal sebagai satai vegetarian merupakan salah satu kuliner unik yang bisa ditemui di beberapa angkringan atau hik di Kota Solo. Kuliner unik itu sempat viral karena tidak menggunakan daging ayam maupun kambing, tetapi memakai tepung terigu sebagai bahan utama.

Meski cukup terkenal di Kota Solo, tak banyak yang tahu salah satu keturunan perintis satai apus berada di Dusun Sumberalit, Desa Sedayu, Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri. Pewaris itu bernama Tri Widiyanto, 29. Ia adalah keponakan Tumijem, yang mempopulerkan kuliner satai apus kepada keluarganya.

PromosiUMi Youthpreneur 2022 Bentuk Dukungan PIP Terhadap Wirausahawan Muda

Ketika Solopos.com menilik rumah Gembul, panggilan akrab Tri Widiyanto, sekaligus tempat produksi satai apus, Kamis (13/1/2022), ia sedang mencuci adonan tepung terigu yang akan dijadikan satai apus.

Baca Juga: Badut Hibur Vaksinasi Anak 6-11 Tahun di SDIT Nurul Iman Wonogiri

“Saya namakan Satai Apose Gembul,” begitu ucap Gembul ketika ditanyai nama usaha satai apusnya. “Proses produksinya bertahap. Jadi, setelah tepung terigu dicampurkan dan dibuat adonan seperti membuat donat, saya cuci menggunakan air mengalir. Setelah dirasa bersih, kemudian saya rebus,” kata dia.

Dalam proses membuat adonan, mencuci, dan merebus, kata Gembul, masing-masing perlu waktu 30 menit. Setelah proses merebus, ia memerlukan waktu satu jam untuk memotong adonan yang sudah mengembang menjadi seukuran satai tusuk.

Selepas proses tusuk-menusuk rampung, Gembul masuk pada proses pembakaran satai selama satu setengah jam sebelum siap dijajakan ke warung hik di Pracimantoro.

Ekspedisi Energi 2022

Baca Juga: Gratis tapi Tidak Gratisan, 70% per Tahun Lulusan BLK Wonogiri Bekerja

Gembul menekuni jualan sate apus di Pracimantoro sejak 2015. Namun, bakatnya mengolah campuran adonan tepung terigu menjadi satai vegetarian itu sudah dimulai sejak ia membantu buliknya, Tumijem, di Solo.

Sepeninggal Tumijem, Gembul memilih melanjutkan usaha satai apus sendiri dan berpisah tempat dengan keluarganya. “Sebenarnya sampai sekarang ada tiga saudara saya di Solo yang melanjutkan usaha satai apus. Tapi saya memilih kembali ke tempat kelahiran saya di Pracimantoro mendirikan usaha sendiri,” lanjutnya.

Berbekal kemandirian usaha dan menjadi satu-satunya pelaku usaha satai apus di Pracimantoro, ia kini berhasil menjangkau 15 warung hik untuk dititipi satai apus.
Baca Juga: Penuhi Syarat, Klaten Tunggu Dropping Dosis Vaksinasi Booster

Selain menitipkan satai apus ke angkringan, Gembul juga menjajakan produknya ke Pasar Pracimantoro setiap pagi. “Biasanya jam tujuh pagi kalau mau menjajakan sendiri di pasar. Kalau sudah habis, ya saya langsung memulai produksi lagi. Begitu setiap hari,” tutur Gembul.

Tri Widiyanto, 29, pelaku sekaligus pewaris usaha kuliner satai apus di Pracimantoro sedang menusuk potongan adonan yang sudah direbus untuk dijadikan satai apus, Kamis (13/1/2022). (Solopos.com/Luthfi Shobri Marzuqi)

 

Terdampak Covid-19

Sebenarnya, kata dia, produksi Satai Apose Gembul sedang lesu karena pandemi Covid-19. Sebelum ada pandemi Covid-19, dalam sehari ia bisa menghabiskan 20 kilogram tepung terigu. Saat pandemi Covid-19 hingga kini, ia hanya berani menghabiskan 10 kilogram.

Meski produksinya berkurang, produksi satai apus bikinan Gembul selalu habis setiap hari. Alasannya ia menjadi satu-satunya penggiat kuliner satai apus se- Pracimantoro. “Banyak yang sudah mencoba juga [membuat satai apus], tapi mereka semua gagal karena salah pada proses mencucinya,” imbuh Gembul.

Baca Juga: 1 Ekskavator Dikerahkan di Bendung Soka Klaten, Warga Desa Lega

Alasan kedua, Gembul menjaga cita rasa yang menurutnya khas di lidah masyarakat setempat. “Saya dari dulu sampai sekarang mengutamakan bahan-bahan yang berkualitas misalnya kecap, gula jawa, saya selalu samakan,” kata dia.

Selain bahan-bahan berkualitas, dalam meracik bumbu satai, Gembul selalu menyamakan takaran pada setiap produksi. “Kalau di desa, masyarakat lebih cenderung mementingkan rasa. Beda dengan kota seperti di Solo, di sana yang penting makanannya ada,” ujarnya.

Ketika ditanya penghasilan, Gembul mengatakan dalam sehari bisa mendapat untung Rp100.000. Namun dibandingkan sebelum merebaknya Covid-19, keuntungan itu bisa mencapai dua kali lipat.  Dari hasil itu, Gembul kini berhasil mendirikan rumah sendiri.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago