Kisah di Balik Sajian Makanan
Solopos.com|kolom

Kisah di Balik Sajian Makanan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa 25 Mei 2021. Esai ini karya Adib Baroya Al Fahmi, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia UIN Raden Mas Said Surakarta.

Solopos.com, SOLO -- Pada saat Lebaran 2021, meja ruang tamu mirip lokasi parade kuliner. Aneka penganan dari kue kering sampai kuping gajah, dari kacang kara sampai tapai ketan, dari makanan tradisional sampai makanan kekinian, berjajar di meja. Sungguh semarak!

Di Kabupaten Blora, Provinsi Jawa Tengah, tempat saya dilahirkan, tradisi berkunjung ke tempat sanak saudara saat Lebaran masih lestari dan jadi ritual yang dominan pada Lebaran. Demikian juga kala Lebaran lalu yang masih di tengah pandemi Covid-19. Tentu saja tradisi saling berkunjung itu dengan memperhatikan protokol kesehatan.

Setiap tuan rumah yang dikunjungi pasti tak ingin tamunya menganggur. Saya merasakan betul antusiasme tuan rumah, termasuk nenek saya, dalam memuliakan tamu. Meja di ruang tamu rumah nenek saya bahkan ditambah agar lebih panjang dan bisa menampung lebih banyak jajanan sekaligus mengakomodasi banyak tamu.

Mejelang Lebaran dua pekan lalu, saya iseng membuka koleksi majalah lawas, majalah khusus perempuan maupun majalah keluarga. Di beberapa majalah saya menjumpai iklan-iklan yang bertepatan dengan Idulfitri. Yang lekas saya temui adalah iklan mentega. Di Majalah Intisari edisi Agustus 1978 saya menemukan iklan mentega merek Blue Band.

Iklan ini sederhana. Tidak muluk-muluk atau cerewet. Iklan mencantumkan gambar plus resep pembuatan kue centhe manis. Ornamen yang mengindentikkan Islam dan Idulfitri adalah latar berbentuk kubah dan terdapat kalimat “Berbahagialah di hari Lebaran”. Tidak ada ikon ketupat, beduk, ucapan minal aidzin wal faidzin, dan sebagainya.

Penjelasan dalam iklan adalah sambutlah para saudara dan handai tolan dengan hidangan kue Blue Band yang lezat dan kaya vitamin itu. Suasana pasti lebih meriah! Kalimat iklan itu memastikan satu kata di angan-angan: meriah! Para pembeli dan pembaca Intisari diajak lekas berpikiran mentega lalu menghadirkan mentega di dapur dan memasak dengannya.

Nyaris 10 tahun setelah iklan di Majalah Intisari itu, saya menemukan iklan serupa di Majalah Sarinah edisi 27 April 1987. Iklan masih tentang mentega bermerek Blue Band, tapi ada beberapa perbedaan. Iklan bergambar para bocah yang mengantre, bersiap mencium tangan sesosok ibu bersanggul.

Kali ini iklan menggunakan ikon ketupat. Terdapat kalimat  ”Selamat Hari Raya, Selamat ber-Blue Band”. Pembuatan biskuit kelapa muda dengan kismis jadi resep makanan yang disarankan di iklan tersebut. Saya tak akan bertele-tele membahas mentega, tapi mengulas konteks dan makna (keterlibatan) berpangkal iklan mentega.

Iklan mengindikasikan bahwa ada kesungguhan dan ketelatenan dalam memasak makanan demi menyambut Lebaran. Kesungguhan itu tampak di dapur, kala asap kemebul. Aktivitas di bagian belakang rumah itu pun menjadi makin padat. Perhatian serius mengarah ke dapur.

Saya membayangkan ada kesibukan saat memasak di dapur, membuat makanan ini dan itu, untuk disuguhkan kepada tamu pada hari kemenangan. Dalam nuansa seperti ini, dapur (meski tradisional dengan beralas tanah dan perkakas kawak) jadi ruang persemaian rasa kekeluargaan dan ikatan senasib-seiman. Relung dapur tak nirmakna.

Sekian hikmah dan petuah lahir saat bahu-membahu memasak di dapur. Saya menganalogikan saat dapur ramai untuk memasak juga menjadi wahana silaturahmi antartetangga. Ada canda dan tawa yang membuncah saat memarut kelapa, mengiris lombok, atau mengaduk adonan tepung terigu bersama lelehan mentega.

Saya pikir peristiwa yang saya sebut ini kerap terjadi di dapur-dapur keluarga di Indonesia. Dalam hal memasak setidaknya sudah memperhitungkan waktu sebelum eksekusi. Seperti berapa lama waktu merendam bahan makanan. Merendam beras ketan atau singkong umpamanya. Memasak membuat pikiran dan raga selalu tertuju pada makanan yang sedang diolah.

Memasak juga memakan durasi waktu dan tenaga yang tak sedikit. Upaya menghadirkan makanan lezat tentu butuh perhitungan matang sejak dalam pikiran. Ada peluh yang menetes. Ada tangan yang mencipta. Makanan adalah tanda cinta yang impresif.

Silakan Makan

Saat makanan tersaji di meja dan para tamu datang untuk sowan sekaligus bermaaf-maafan, perbincangan pasti akan menyenggol makanan. Mulanya, tuan rumah akan meminta para tamu untuk melahap sajian yang disediakan. Bila tamu masih malu-malu, tuan rumah akan membuka lodhong atau stoples agar tamu segera mengambil makanan.

Tuan rumah pasti gelisah jika para tamu tak segera memakannya. Lagi-lagi, tuan rumah mempersilakan tamu untuk mengambilnya sendiri. Kalimat yang sering dilantunkan jamak, “Diicipi sekedhik mawon, Pak, Buk, Mas, Mbak, Dhik. Mangga lho…!” Jika tamu-tamu masih belum mengambil makanan yang tutup wadahnya terbuka, tuan rumah akan membawa wadah makanannya dan diarahkan tepat di hadapan tamu.

Ini adalah gaya tuan rumah di masyarakat kita dalam menyilakan tamu makan. Tentu masih banyak gaya lain lagi di daerah lain. Kadang-kadang ada yang sampai seperti memaksa. Saya menganggap ini kepedulian tuan rumah. Ini kebiasaan yang telah membudaya secara berurat akar. Dalam agama juga diajarkan untuk memuliakan para tamu.

Selanjutnya, tuan rumah akan berceloteh ihwal bagaimana makanan itu dibuat. Bumbu-bumbunya didapat dari mana, membeli atau mengngambil sendiri di kebun. Tuan rumah akan bercerita panjang lebar. Apabila salah satu bahan makanan mengambil di kebun tetangga, obrolan berlanjut tentang bagaimana kondisi tetangga tersebut.

”Iki lho, godhong gedhange njupuk nggone Mbah Wongso,” kata si tuan rumah.

Mbah Wongso ki kabare isih sehat, isih ethes, saben esuk isih bisa gopek kembang turi, sorene golek godhong gedhang,” demikian cerita berlanjut ihwal si pemilik awal daun pisang.

Soal makanan memantik obrolan ke segala hal. Perbincangan berlanjut berpangkal makanan. Sembari bercerita ke sana kemari, menimpali ocehan tuan rumah maupun tamu, makanan akan disantap perlahan-lahan. Bila makanan atau minuman tinggal sedikit, tuan rumah biasanya mengambil persediaan.

Saya beranggapan tuan rumah merasa bangga dan gembira bila makanan ciptaannya sendiri tandas disantap oleh para tamu. Kebiasaan orang-orang Indonesia adalah enggan menghabiskan semua suguhan yang disediakan tuan rumah. Apabila yang ada di meja justru makanan kaleng dari pabrik, saya kira yang dibicarakan hanya berujung makanan ini dibeli di toko sana atau membeli makanan tersebut mumpung ada diskon.

Tidak mungkin tuan rumah mengisahkan bahan-bahan panganan ini dibeli di mana, proses membikinnya bagaimana, wong yang membuat pabrik. Rasa tiap makanan bikinan pabrik memiliki standar seragam, takaran dan mutu sudah ditentukan sesuai manajemen industrial. Ini jelas berbeda dengan makanan khas daerah.

Makanan khas kedaerahan lebih variatif dan menggunakan bumbu atau rempah-rempah yang kuat. Pada saat memasak makanan sendiri, kita dapat menghendaki cita rasa yang beragam. Manis, pedas, asam, gurih, dan seterusnya. Tergantung selera. Tentu diselaraskan dengan kapasitas dan kegemaran anggota keluarga.

Kehendak benar-benar ada di tangan masing-masing pencipta atau pengolah. Saya mendapat cerita tentang memasak dari kawan saya. Bahwa ibunya menganggap masakan yang mau ngengkrong di tungku atau kompor itu digarap berbeda orang maka cita rasanya pasti berbeda. Waduh! Sedetail itu ya...



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago