Kisah di Balik Pemukiman di Lahan Bekas Makam Kuno China di Semarang

pada masa pemerintahan Orde baru yang dipimpin oleh Alm Presiden Soeharto, populasi di Kota Semarang meningkat sehingga diperlukan lahan untuk membangun pemukiman baru.
SHARE
Kisah di Balik Pemukiman di Lahan Bekas Makam Kuno China di Semarang
SOLOPOS.COM - Areal Makam Tionghoa atau Bong Cina di Kedungmundu yang disulap menjadi pemukiman warga (Sumber: Youtube /Antropologi Sosial UNDIP 2020)

Solopos.com, SEMARANG — Selain di Kawasan Bangkong, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang, Jawa Tengah, area pemakaman etnis Tionghoa/China kuno di Semarang yang sekarang berubah menjadi pemukiman juga ditemukan di Kedungmundu, Kecamatan Tembalang.

Berdasarkan pantauan Solopos.com melalui kanal Youtube Antropologi Sosial UNDIP 2020, dengan judul video Folklore Kedungmundu: Pemukiman Di Atas Makam”, Rabu (17/11/2021), kawasan makam etnis Tionghoa di Kelurahan Kedungmundu ini sudah ada sejak tahun 1797. Menurut sejarahnya, periode tahun tersebut tercatat sebagai masa di mana etnis Tionghoa kali pertama menginjakan kaki di tanah Jawa, khususnya di  Semarang.

PromosiOrang Solo Suka Belanja Gadget di Tokopedia, Seller Untung 2 Kali Lipat

Kondisi kontur tanah di Kedungmundu berupa perbukitan sehingga berdasarkan analisa feng shui, sebuah penilaian tata letak, arah angin, desain bangunan hingga energi positif dan negatif dalam tradisi Tionghoa, kawasan Kedungmundu cocok dijadikan sebagai pemakaman. Hal ini juga dipercaya dapat memberikan pengaruh baik bagi keluarga yang ditinggalkan.

Baca Juga:Ngeri! Ada Makam China Kuno di Tengah Kampung Semarang

Di kawasan Kedungmundu ini, ditemukan juga peninggalan hasil dari migrasi besar-besaran warga etnis Tionghoa ke pulau Jawa. Peninggalan itu berupa prasasti yang berasal dari Dinasti Ming dan Qing. Dalam prasasti tersebut terulis tahun 1916 dan dalam prasati tersebut terdapat tulisan aksara Tiongkok kuno.

Pakar dan penggiat sejarah Tionghoa, Irawan Rahardjo mengatakan bahwa meskipun belum dimengerti secara pasti isi dari tuilisan prasasti tersebut, namun dipastikan tulisan prasasti tersebut memiliki makna peringatan atau kutukan bahwa akan ada bencana atau musibah bagi siapapun yang berani membongkar isi makam di kawasan Kedungmundu tersebut.

Prasasti ini kemudian dijadikan sebagai batu peringatan sehingga tidak ada yang berani membongkar makam kuno China di Kedungmundu, Semarang. Namun seiring berjalannya waktu, pada masa pemerintahan Orde baru yang dipimpin oleh Alm Presiden Soeharto, populasi di Kota Semarang meningkat sehingga diperlukan lahan untuk membangun pemukiman baru.

Baca Juga:Mie Ongklok Wonosobo: Anget Kemebul Nilai 10

Karena tidak diiimbangi dengan kondisi keuangan yang memadai, akhirnya pemerintah Orde Baru saat itu mengijinkan penggunaan lahan pemakaman yang sudah tidak terawat untuk dijadikan pemukiman. Peraturan ini akhirnya banyak merujuk pada makam-makam kuno etnis Tionghoa, salah satunya yang ada di kawasan Kedungmundu ini.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kawasan pemakaman, khususnya makam-makam etnis Tionghoa atau yang dikenal dengan sebutan Bong Cina di Kota Semarang berubah fungsi menjadi pemukiman warga. Dihimpun dari berbagai sumber dan literasi, faktor-faktor tersebut di antaranya adalah keluarga dari ahli waris makam jarang ada yang merawat Bong Cina lagi sehingga kondisinya menjadi terbengkalai.

Selain itu, banyak areal makam yang berada di atas lahan milik warga sekitar. Salah satu tuan tanah yang menguasai kompleks makam Bong Cina mengaku memiliki luas tanah di lahan makam berhektar-hektar. Dia juga mengatakan bahwa setiap ahli waris Bong Cina menyewa lahan tersebut dengan jangka waktu tertentu. Saat jangka waktu sewa habis, maka otomatis jika ada yang hendak membeli lahan makam untuk dijadikan pemukiman dengan biaya tinggi, tuan tanah akan merelakan area pemakaman tersebut untuk diubah menjadi pemukiman warga.

Baca Juga:Efek Pandemi, Karimunjawa Hanya Dikunjung 10 Wisatawan Asing

Makam Tionghoa kuno di tengah pemukiman padat penduduk di Semarang yang masih utuh
Makam Tionghoa kuno di tengah pemukiman padat penduduk di Semarang yang masih utuh (Sumber: Youtube/J Christiono)

Karena faktor inilah, akhirnya banyak area Bong Cina yang berubah fungsi menjadi area pemukiman padat penduduk. Bahkan dalam area pemukiman tersebut masih ditemukan pecahan-pecahan bekas makam dan ada juga makam yang masih utuh yang ditemukan di tengah pemukiman warga.

Seperti yang sudah diberitakan Solopos.com sebelumnya, makam Kedungmundu ini dulunya berada di tengah hutan. Sejak 1990, melalui kebijakan pemerintah dengan menginjinkan pembangunan pemukiman di lahan pemakaman menjadi kawasan Kedungmundu ini berubah dari yang dulunya berupa hutan menjadi pemukiman padat penduduk. Bahkan ada beberapa rumah warga yang masih dekat dengan makam Tionghoa tersebut.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago