[ X ] CLOSE

Kisah Beras Delanggu yang Kini Tinggal Nama

Beras Delanggu kini tinggal nama brand. Tidak ada petani di Delanggu, Klaten, yang menanam beras raja lele yang dikenal pulen dan enak.
Kisah Beras Delanggu yang Kini Tinggal Nama
SOLOPOS.COM - Wakil Bupati (Wabup) Klaten, Yoga Hardaya  saat melihat penggilingan padi berukuran mini di Karang, Kecamatan Delanggu, Sabtu (16/10/2021). Saat ini, Pemkab Klaten terus mengembangkan produktivitas padi varietas srinar dan srinuk sebagai produk unggulan Kabupaten Bersinar. (Solopos.com/Ponco Suseno)

Solopos.com, KLATENBrand beras Delanggu dinilai masih sangat menjual hingga saat ini. Beras Delanggu masih identik dengan beras berkualias tinggi. Tak mengherankan, banyak bakul beras di berbagai daerah di Tanah Air masih menggunakan brand beras Delanggu guna memikat pelanggannya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, nama brand beras Delanggu diambil dari nama kecamatan di Klaten, Delanggu. Kecamatan ini dulunya dikenal sebagai penghasil beras raja lele. Beras asli Delanggu dikenal dikenal pulen, wangi, dan rasanya yang enak. Umumnya, masyarakat yang mengonsumsi beras asli Delanggu adalah kalangan menengah ke atas.

Lamban laun, beras asli Delanggu mulai memudar. Para petani di Delanggu dan sekitarnya mulai meninggalkan tanaman padi raja lele karena dinilai membutuhkan waktu tanam yang lama. Hal itu termasuk tingginya potensi gagal panen karena tanaman padi raja lele relatif tingi yang mudah roboh diterpa angin kencang.

Baca Juga: Hari Pangan Sedunia, Perpadi Bagikan Beras Gratis ke Warga Delanggu

Meski di sekarang sudah tak lagi ditemui beras raja lele asli Delanggu, brand beras Delanggu telanjur dikenal banyak orang. Tak heran, banyak bakul beras yang tetap menggunakan brand beras Delanggu sekalipun beras yang dijual tak berasal dari Delanggu. Beras Delanggu dinilai tinggal nama brand.

Brand beras Delanggu sudah dibawa ke mana-mana. Beras Delanggu merupakan suatu brand yang hanya ada di Delanggu. Saat saya masih kecil, [orangtua] kalau enggak nempur beras Delanggu, maka enggak nempur dulu. Rasa beras raja lele Delanggu satu-satunya rasa yang paling lezat di Indonesia,” kata Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi (Perpadi) Jateng, Tulus Budiyono, saat memberikan sambutan di Hari Pangan Sedunia 2021 di Karang, Kecamatan Delanggu, Sabtu (16/10/2021).

Tulus mengatakan penggunaan brand beras Delanggu masih jamak dilakukan pedagang di berbagai daerah di Tanah Air hingga sekarang. Hal itu seperti di Purwodadi, Semarang, Boyolali, dan lainnya. Guna mengapresiasi brand beras Delanggu, Perpadi Jateng mendorong brand tersebut segera dipatenkan.

Baca Juga: Berpotensi Jadi Unggulan Baru Klaten, Padi Rajalele Srinuk Mulai Diuji Coba di 162 Hektare Sawah

Brand beras Delanggu memang sudah dibawa kemana-mana,” katanya.

Hal senada dijelaskan Ketua Perpadi Klaten, Mukhlis Mursidi. Dirinya berharap, Pemkab Klaten dapat berperan dalam mematenkan brand beras Delanggu.

“Kami mendukung penuh agar beras Delanggu dapat bangkit seperti di zaman dahulu. Brand beras Delanggu memang harus segera dipatenkan. Biar warga asli Delanggu pada khususnya dan warga Klaten umumnya yang bisa menggunakan brand ini,” katanya.

Wakil Bupati (Wabup) Klaten, Yoga Hardaya, mengatakan Pemkab Klaten telah berupaya melestarikan beras Delanggu dengan memodifikasinya menjadi varietas srinar dan srinuk. Tanaman padi raja lele tersebut dinilai memiliki berbagai keunggulan dibandingkan tanaman raja lele pada umumnya.

Baca Juga: Tersaingi Produk Impor, Harga Beras Delanggu Anjlok

Di antaranya, tinggi tanaman lebih pendek, usia panen hanya bituh waktu 120 hari (tanaman jenis lain mencapai 160 hari), bulir padi lebih banyak, dan tahan hama.

“Bupati sudah mulai memanen beberapa kali. Benihnya juga baru dikembangkan lebih lanjut. Ini juga segera dipatenkan [menjadi milik Pemkab Klaten],” katanya.

Yoga Hardaya mengatakan Pemkab Klaten turut mengembangkan varietas srinar dan srinuk dengan mewajibkan para aparatur sipil negara (ASN) membeli beras tersebut.

“Kebutuhan ASN di Klaten itu mencapai 92 ton per bulan. Sementara saat sekarang baru terpenuhi 20 ton per bulan. Memang, benih padi srinar dan srinuk ini masih terbatas. Itu dalam rangka melestarikan dan membumikan beras Delanggu juga,” katanya.

Camat Delanggu, Jaka Suparja, mengatakan sejumlah petani di wilayahnya sudah mulai menanam padi jenis srinuk. Minimal dalam satu desa telah ada demontration plot (demplot) tanaman srinuk seluas satu hektare.

“Pemerintah kecamatan segera mengumpulkan semuanya [pengusaha penggilingan padi] guna membahas pelestarian beras Delanggu,” katanya.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Ekspedisi Ekonomi Digital 2021
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago