[x] close
Kisah 2
Solopos.com|soloraya

Kisah 2 "Penguasa" di Balik Nama Sendang dan Sumur di Dusun Tandon Wonogiri

Menurut para sesepuh, penamaan Dusun Tandon berkaitan dengan pembangunan Waduk Tandon oleh penjajah Jepang pada 1942.

Solopos.com, WONOGIRI -- Dusun Tandon berlokasi di Desa Pare, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Di dusun tersebut terdapat dua sumber air yakni Sendang Nyi Ageng Gadung Melati dan Sumur Mbah Jenggot.

Ada cerita menarik di balik penamaan sendang dan sumur di Dusun Tandon Wonogiri tersebut. Hal itu seperti dituturkan pegiat seni di Dusun Tandon, Ngatno, yang pernah mendokumentasikan kisah di balik pembentukan hingga penamaan dusun tersebut.

Ngatno saat dijumpai di rumahnya, Jumat (7/5/2021) lalu, mengatakan menurut narasumber, seiring kepindahan warga ke wilayah Dusun Tandon di waktu dulu, ada dua "penguasa" dusun yang tak berwujud turut pindah.

"'Penguasa' itu, yakni Nyi Ageng Gadung Melati dan Mbah Jenggot," kata Ngatno yang kini berusia 74 tahun.

Baca juga: Pencairan Dana Desa di Wonogiri Tercepat di Jawa Tengah

Bagi yang meyakini, lanjut dia, kedua makhluk gaib itu pindah ke sendang dan sumur yang sekarang berada di Dusun Tandon.

"Karena itu warga menamai kedua tempat itu sebagai Sendang Nyi Ageng Gadung Melati dan Sumur Mbah Jenggot," jelasnya yang juga Ketua RT 001 Dusun Tandon itu.

Untuk diketahui, di Selogiri terdapat sebuah waduk yang secara administrasi namanya Waduk Krisak, tetapi masyarakat lebih mengenalnya sebagai Waduk Tandon. Waduk tersebut letaknya di Dusun Tandon, Desa Pare, Kecamatan Selogiri.

Baca juga: Ditutup 5 Hari Gara-Gara Covid-19, Pasar Tirtomoyo Wonogiri Sudah Buka Lagi

Ngatno menjelaskan berdasar keterangan sejumlah sesepuh yang menjadi narasumbernya dahulu, penamaan Dusun Tandon berkaitan dengan pembangunan Waduk Tandon oleh penjajah Jepang pada 1942.

Jepang membangun waduk dengan menenggelamkan Dusun Kledokan. Lokasi itu dipilih karena kawasan dusun tersebut paling rendah dan ada sungai yang mengarah ke kawasan itu. Saat itu penduduk Kledokan sebanyak ratusan jiwa.

Dataran Lebih Tinggi

Jepang awalnya menyuruh warga pindah ke kawasan lereng Gunung Tretes, Desa Keloran, namun warga menolak. Warga memilih pindah ke area persawahan yang letaknya di dataran lebih tinggi dari Kledokan tapi Jepang tidak memperbolehkannya.

Narasumber Ngatno mengatakan warga tidak boleh pindah ke wilayah itu karena lahan di wilayah tersebut subur, sehingga akan dikuasai Jepang sendiri. Masyarakat tetap ingin pindah di areal persawahan.

Ngatno menambahkana tiga tokoh masyarakat yakni Wiryo Taruno, Somo Pawiro, dan Kromo Tiyono, menghadap Raja Mangkunegara VII sebagai raja yang menguasai wilayah tersebut saat itu. Mereka menyampaikan aspirasi kepada raja, sampai akhirnya raja mengizinkan.

Baca juga: Jalanan Wonogiri Lengang Jelang Lebaran, Polisi: Warga Patuh Larangan Mudik & Di Rumah Saja

“Lalu warga Kledokan pindah ke lokasi yang diinginkan. Prosesnya secara bertahap karena ganti rugi yang diberikan Jepang tidak lancar. Warga baru mau pindah setelah menerima ganti rugi,” imbuh Ngatno.

Warga pindah di tiga lokasi baru yang awalnya persawahan hingga akhirnya menjadi permukiman. Tiga tempat yang ditempati warga Kledokan saat ini bernama Dusun Tlogorejo, Tandon, dan Pare.

Mayoritas warga pindah ke Dusun Tandon. Sekarang Dusun Tandon terdapat tiga rukun tetangga atau RT, yakni RT 001 terdapat 85 keluarga, RT 002 ada 41 keluarga, dan RT 003 42 keluarga. Ketiga RT masuk rukun warga atau RW 002.

“Tokoh terdahulu menamakan Dusun Tandon karena terinspirasi dari kondisi dusun lama mereka yang saat itu menjadi waduk. Waduk bisa diartikan sebagai tandon atau tempat menyimpan/menampung air. Lalu kata tandon dipilih untuk menamai dusun. Tokoh terdahulu berharap dusun baru yang mereka tempati selalu menyimpan keberkahan. Alhamdulillah dusun kami sekarang cukup maju,” ulas Ngatno.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago