Ketika Swab Test di Buleleng Berakhir Ricuh, Dandim Mengaku Dipukul, TNI Hajar Warga

Video anggota TNI memukuli warga Buleleng, Bali, viral di media sosial. Insiden itu kabarnya dipicu pemukulan kepala Dandim, namun dibantah warga.
Ketika Swab Test di Buleleng Berakhir Ricuh, Dandim Mengaku Dipukul, TNI Hajar Warga
SOLOPOS.COM - Tangkapan layar video aparat TNI yang disebut memukulo warga Buleleng, Bali. (Instagram/detik.com)

Solopos.com, BULELENG — Kegiatan tes swab antigen massal yang dilakukan Satgas Covid-19 di Desa Sidetapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali, Senin (23/8/2021) berakhir ricuh. Sejumlah aparat TNI disebut memukuli sejumlah warga yang konon menolak di-swab.

Informasi lain menyebut kericuhan itu diawali karena kepala Komandan Kodim (Dandim) 1606/Buleleng, Letkol (Inf) Muhammad Windra Lisrianto, dipukul warga. Dandim mengatakan anak buahnya spontan menghajar DI karena melihat kepalanya dipukul dari belakang.

Video aparat TNI memukuli warga itu kemudian viral di media sosial.

Mengutip detik.com, salah satu warga yang dipukuli aparat TNI tersebut berinisial DI, 24. Warga Desa Sidetapa itu disebut yang memukul Dandim.

“Tidak ada [pemukulan kepada Dandim], orang saya tidak melawan. Saya di bawah, duduk,” kata DI saat dimintai konfirmas, Selasa (24/8/2021).

Menurut versi DI, kejadian berawal saat dia pulang dari kebun untuk makan siang, sekitar pukul 10.00 Wita. DI mengaku lupa memakai masker. Saat melintasi lokasi tes rapid antigen, DI yang naik motor dicegat oleh personel TNI. Karena tak memakai masker, DI takut dan mencoba lari.

DI menyebut hampir jatuh karena ditarik petugas, tetapi masih bisa meloloskan diri. Sekitar 40 meter dari lokasi, ternyata ada lagi anggota TNI yang mengadang.

DI mengatakan teman yang diboncengnya, AG, 23, dipukul saat itu oleh prajurit TNI. Karena temannya dipukul, DI menuturkan dirinya pun menghentikan laju motor.

“Lalu saya nanya, ‘Pak kenapa teman saya dipukul?’ Tidak tahu kenapa [petugas] marah-marah langsung mukul, langsung nyekik. Terus saya diseret sejauh 30 meter ke titik lokasi yang pertama,” cerita DI.

“Sejauh saya diseret, saya juga ditendang dari belakang, padahal saya sudah tidak melawan. Tapi terus saja saya ditendang. Setelah sampai di titik 30 meter, saya diduduki dan disiram pakai air berdua,” imbuhnya.

Adik dan Paman Ikut Jadi Korban

Sekitar 15 menit kemudian, DI menyebut pamannya datang untuk melerai. Namun, lanjut DI, pamannya ikut dihajar juga.

“Kami bertiga dipukuli lagi, padahal kami tidak melawan. Setelah itu datang lagi adik saya. Karena adik saya tahu kalau saya dipukul sampai luka, dicekik, otomatis kan adik saya marah. Adik saya melawan, tapi melawan belum sampai mukul, adu mulutlah. Setelah itu, adik saya dipukuli sampai bibirnya robek,” jelasnya.

DI menyebutkan hal itu membuat ayahnya mendatangi lokasi dan membawanya pulang. Namun prajurit TNI masih mengikutinya hingga ke rumah.

“Kemudian datang bapak saya membawa saya pulang ke rumah, kebetulan dekat jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi, dibawa pulang. Terus tentaranya ini ikut, dikejar saya, sampai di depan rumah,” terang DI.

DI lalu mendengar penjelasan aparat TNI yang menyampaikan alasan pemukulan karena dirinya menabrak personel TNI. DI membantah hal tersebut.

“Setelah di depan rumah, kenapa dipukul karena tidak pakai masker. Tapi di penjelasannya pihak aparat, saya dibilang nabrak aparat. Kan tidak mungkin saya nabrak, kalau saya nabrak pasti saya jatuh. Jadi berbeda dengan fakta yang di lapangan,” ujar DI.

“Dibilang saya yang mengeroyok aparat, padahal kan saya tidak melawan, saksi mata ada,” sambung dia.

Atas kejadian itu, DI sudah menjalani visum et repertum. DI menjelaskan hasilnya ditemukan luka di leher, kening, dan kaki. DI mengaku juga punggungnya terasa sakit.

“Tidak ada [penolakan swab rapid antigen], saya kan sudah pernah swab. Sudah ada buktinya. Dia itu [petugas] sosialisasi kepada masyarakat belum merata, artinya masyarakat belum ada yang tahu kalau hari itu akan dilakukan swab. Saya kan takut jadinya kalau saya ditekan, makanya saya lari,” pungkas DI.

Keterangan Versi Dandim

Dandim 1606/Buleleng, Letkol (inf) Muhammadi Windra Lisrianto, akhirnya melaporkan warga Desa Sidetapa itu ke polisi. Pelaporan dilakukan usai warga tersebut memukul kepala Dandim saat pelaksanaan skrinig rapid test antigen di desa tersebut.

“Ya semalam kita sudah (melaporkan warga tersebut). Karena ternyata bukan saya sendiri yang dipukul,” kata Dandim, Selasa.

Namun, setelah adanya pelaporan ke polisi, Windra mengaku menerima informasi pihak warga tersebut mau datang ke Kodim. Mereka akan datang hari ini ke Kodim 1606/Buleleng.

“Kita mau lihat (setelah mereka datang) bagaimana kelanjutannya. Sekarang katanya (mereka datang), informasinya sekarang mau ke Kodim,” terang Windra.

Windra menegaskan jika mereka mau bermediasi dan meminta maaf, pihaknya bakal menyelesaikan perkara tersebut secara damai. Menurutnya, sesama manusia bisa saling memaafkan.

“Ya namanya manusia kan kita saling memaafkan lah ya. Tapi cara mereka kemarin membuat video viral itu sepotong saja. Mudah-mudahan bisa berakhir baik,” kata dia.

Lalu jika mereka bersedia meminta maaf apakah laporan akan dicabut? Windra mengatakan bahwa pihaknya bakal menyesuaikan.

“Ya kalau itu kita akan sesuaikan (laporannya), karena niat kita memang membantu masyarakat. Dibayangkan saja, kita lihat yang kegiatan (rapid test) antigen, mereka menolak melawan petugas kemudian melakukan pemukulan, kan seperti itu. Itulah sebenarnya yang kurang sesuailah,” tuturnya.

“Kita kan sebagai warga negara yang baik harus mendukung pemerintah. Anggota saya memukul (warga itu) karena saya dipukul duluan. Jadi jangan memandang kesalahannya itu dari satu sisi saja,” kata dia.

Dilihat Utuh

Sementara itu, Kapenrem 163/Wira Satya, Mayor (Arm) Ida Bagus Putu Diana Sukertia, meminta peristiwa pemukulan itu dilihat secara utuh. Sebab, viral TNI memukul warga hanya menampilkan sepenggal peristiwa.

“Menanggapi apa yang beredar di media sosial (video singkat yang beredar) mohon dilihat secara utuh, bukan sepenggal saja tanpa melihat apa penyebab awal atau proses terjadinya,” kata Ida Bagus, dilansir dari Antara, Selasa.

Akibat insiden tersebut pelaksanaan swab antigen di Desa Sidetapa dihentikan sementara waktu. Untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan Dandim 1609/Buleleng kembali mengupayakan mediasi. Namun, karena situasi warga Desa Sidetapa sudah berkumpul, untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, mediasi kembali dilanjutkan dengan keluarga oknum pelaku dengan melibatkan Perbekel Sidetapa dan tokoh masyarakat Desa Sidetapa agar permasalahan dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

Satu setengah jam kegiatan mediasi berlangsung namun hasilnya belum ditemukan titik temu. Hal ini karena dari pihak keluarga pelaku yang merasa menjadi korban pemukulan meminta waktu untuk melaksanakan musyawarah dengan keluarga besar.

“Karena situasi belum memungkinkan kegiatan swab test antigen dihentikan oleh Dandim 1609/Buleleng karena masyarakat Desa Sidetapa menolak untuk dilanjutkan kegiatan tersebut,” katanya.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago