Ketahui Dampak Dating Violence pada Perempuan

Depresi hingga berujung bunuh diri seperti dialami NW sebenarnya hanya sebagian dampak negatif dari tindakan dating violence.
Ketahui Dampak Dating Violence pada Perempuan
SOLOPOS.COM - Ilustrasi stop kekerasan terhadap perempuan. (Freepik)

Solopos.com, SOLO-Perempuan yang jadi korban dating violence atau kekerasan saat pacaran seperti dialami mahasiswi asal Mojokerto, Novia Widyasari, akan mengalami sejumlah dampak.  Mahasiswi di Universitas Brawijaya Malang itu diperkosa hingga hamil oleh kekasihnya, Randy Bagus Hari Sasongko.

Depresi hingga berujung bunuh diri seperti dialami NW sebenarnya hanya sebagian dampak negatif dari tindakan dating violence. Aksi kekerasan itu bisa saja memicu efek samping terhadap kesehatan korban maupun dampak terhadap aspek lainnya.

Dikutip dari Woman Health, ketahui berbagai dampak buruk terhadap kesehatan bagi korban dating violence:

1. Efek Fisik Jangka Pendek

Dampak yang paling terlihat di korban dating violence adalah fisik. Tindakan kekerasan yang dilakukan tentu berisiko menyebabkan cedera ringan hingga kondisi serius. Seperti, memar, luka, patah tulang, atau cedera pada organ dan bagian lain di dalam tubuh. Beberapa cedera fisik sulit atau tidak mungkin dilihat tanpa pemindaian, rontgen, atau tes lain yang dilakukan oleh dokter atau perawat.

Efek fisik jangka pendek dari kekerasan seksual juga bisa menyebabkan pendarahan pada vagina atau nyeri panggul, kehamilan yang tidak diinginkan, infeksi menular seksual (IMS ) seperti HIV.

2. Efek Fisik Jangka Panjang

Kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan seksual atau fisik, terkait dengan banyak masalah kesehatan jangka panjang. Mulai dari penyakit kronis, masalah pencernaan seperti sakit maag, masalah jantung, sindrom iritasi usus, mimpi buruk dan masalah tidur, sakit kepala migrain, hingga masalah seksual seperti rasa sakit saat berhubungan seks.

Pada beberapa peremouan bahkan bisa jadi mulai menyalahgunakan alkohol, obat-obatan, atau terlibat dalam perilaku berisiko seperti berhubungan seks tanpa kondom, sebagai pelarian dari dampak kekerasan yang pernah dialaminya.  Kekerasan seksual juga dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap tubuhnya sendiri, yang berujung menjadi pola makan tidak sehat atau gangguan makan.

3. Dampak Kesehatan Mental Akibat Kekerasan Terhadap Perempuan

Kekerasan fisik maupun seksual bisa menyebabkan ketakutan, kebingungan, kemarahan, atau bahkan mati rasa dan tidak merasakan apa-apa. Sehingga korban mungkin merasa bersalah atau malu.

Mengutip laman Suara.com pada Senin (6 /12/2021) ada beberapa efek kesehatan mental jangka panjang dari kekerasan terhadap perempuan dapat meliputi:

a. Gangguan stres pascatrauma (PTSD)

Hal ini disebabkan oleh trauma atau pengalaman yang mengejutkan atau menakutkan, seperti kekerasan seksual atau kekerasan fisik.

b. Depresi

Depresi termasuk penyakit serius, tetapi masih bisa diatasi secara medis. Segera dapatkan bantuan agar cepat merasa lebih baik. Jika Anda merasa tertekan, bicaralah dengan profesional kesehatan mental.

c. Kecemasan

Bisa berupa kecemasan umum tentang segala hal, atau bisa juga serangan tiba-tiba dari rasa takut yang hebat. Kecemasan bisa menjadi lebih buruk dari waktu ke waktu dan mengganggu kehidupan sehari-hari.

d. Mengisolasi Diri

Efek lain dapat mencakup mengucilkan diri dari orang lain, tidak ingin melakukan hal apa pun, tidak dapat mempercayai orang lain, dan memiliki harga diri yang rendah.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago