top ear
Keripik belut olahan salah satu warga Desa Gedongan, Baki, Sukoharjo. (Solopos/Indah Septiyaning W.)
  • SOLOPOS.COM
    Keripik belut olahan salah satu warga Desa Gedongan, Baki, Sukoharjo. (Solopos/Indah Septiyaning W.)

Keripik Belut Asal Gedongan Sukoharjo Laris Manis hingga ke Luar Jawa

Kuliner berupa keripik belut asal Gedongan, Baki, Sukoharjo, laris manis hingga ke pasar luar Jawa.
Diterbitkan Minggu, 26/01/2020 - 11:00 WIB
oleh Solopos.com/Indah Septiyaning Wardani
2 menit baca

Solopos.com, SUKOHARJO – Memasuki wilayah Desa Gedongan, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo akan disuguhi aktivitas sejumlah penduduk setempat membuat keripik belut. Industri keripik belut telah dilakoni warga setempat sejak puluhan tahun lalu.

Bisnis kuliner ini mulai berkembang pesat dalam 10 tahun terakhir. Dari semula hanya dua pedagang, kini tumbuh menjadi sembilan pedagang keripik belut. Keripik belut telah menjadi ikon desa setempat.

Pada awalnya, Gedongan belum dikenal sebagai sentra industri kuliner keripik belut. Namun, setelah mendapatkan pendampingan dari pemerintah desa setempat berupa pelatihan dan pengemasan, geliat industri keripik belut semakin terlihat.

Salah satu putra pemilik usaha keripik belut Sumber Rejeki Sutikno, Halim Sugiyono, mengatakan usaha keripik belut telah dirintis sejak 25 tahun lalu. Usaha rumahan ini hanya mengandalkan anggota keluarga sebagai tenaga kerja.

Berawal dari ketertarikan akan kandungan protein tinggi pada belut, keluarganya menjajal mengolahnya menjadi keripik.

“Awalnya dimakan sendiri oleh anggota keluarga. Karena enak dan renyah lalu banyak yang suka dan sampai sekarang akhirnya menjadi usaha keripik belut,” kata dia ketika berbincang dengan Solopos.com, Minggu (19/1/2020).

Keripik belut olahan salah satu warga Desa Gedongan, Baki, Sukoharjo. (Solopos/Indah Septiyaning W.)
Keripik belut olahan salah satu warga Desa Gedongan, Baki, Sukoharjo. (Solopos/Indah Septiyaning W.)

Dalam sehari, Halim Sugiyono mengatakan mampu mengolah satu kwintal belut menjadi keripik enak dan renyah. Belut ini dipasok dari para petani belut dengan harga beli Rp40.000 per kilogramnya.

Belut-belut ini kemudian diolah menjadi keripik yang kini diberi label Sumber Rejeki. Bahkan keripik belut buatan keluarganya kini telah merambah ke pasar luar Jawa.

“Pengolahan keripik belut dikembangkan dengan jumlah besar. Karena pemasarannya tidak hanya di Jawa saja, tapi sampai luar Jawa,” katanya.

Sama halnya dengan bisnis lainnya, usaha keripik belut juga mengalami pasang surut. Meski demikian Gedongan tetap menjadi sentra industri keripik belut.

Berbagai inovasi terus dikembangkan dengan menciptakan variasi keripik belut. Terutama dalam segi cita rasa keripik belut yang diproduksinya. Tak hanya itu, dari segi pengemasan pun keripik belut semakin diperhitungkan agar lebih menarik lagi.

Kepala Desa (Kades) Gedongan, Kecamatan Baki, Lilik Hartanto, mengatakan berbagai upaya terus dilakukan pemerintah desa bersama pemerintah kabupaten (Pemkab) dalam mengembangkan usaha keripik belut di wilayah Gedongan.

Salah satunya melalui pelatihan bagi para pelaku usaha keripik belut. Pelatihan diberikan termasuk bagaimana pengolahan hingga pengemasan agar lebih menarik dan tak kalah di pasaran.

“Keripik belut ini menjadi salah satu potensi desa yang tengah dikembangkan desa. Usaha keripik belut juga menjadi penyokong perekonomian warga Gedongan,” katanya.

Di wilayahnya mayoritas penduduknya bekerja sebagai petani. Namun, kini dalam perkembangannya banyak penduduk mulai membuka usaha selain keripik belut juga warung ayam bakar. Usaha tersebut mulai banyak dilirik penduduk karena peluang pemasukan pendapatannya cukup besar.

Editor : Profile Chelin Indra Sushmita
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkini