Kenapa Jumlah Kaum Boro di Wonogiri Tinggi? Ini Jawabannya

Tingkat urbanisasi di Kabupaten Wonogiri terbilang cukup tinggi.
SHARE
Kenapa Jumlah Kaum Boro di Wonogiri Tinggi? Ini Jawabannya
SOLOPOS.COM - Perantau peserta arus balik gratis menunggu keberangkatan bus menuju Jakarta di Terminal Giri Adipura Wonogiri. Beberpa dari mereka diantar sanak saudara untuk melepas keberangkatan menuju tanah rantau, Minggu (8/5/2022). (Solopos/Muhammad D. Praditia)

Solopos.com, WONOGIRI — Tingkat urbanisasi di Kabupaten Wonogiri terbilang cukup tinggi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonogiri menyebut jumlah perantau atau kaum boro asal Wonogiri saat ini sebesar 35 persen atau 350.000 orang dari 1 juta penduduk.

Upah minimum kerja (UMK) Kabupaten Wonogiri dinilai menjadi faktor utama banyaknya penduduk yang memilih merantau. UMK Wonogiri tahun 2022 senilai Rp1.839.043. UMK itu tergolong dua terbawah dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

PromosiUMi Youthpreneur 2022 Bentuk Dukungan PIP Terhadap Wirausahawan Muda

Salah seorang perantau asal Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Rizki Setyo, mengatakan mengatakan prospek kerja di luar Wonogiri lebih menjanjikan. Setelah lulus dari salah satu perguruan tinggi di Solo akhir 2021, ia bekerja di Bali.

Ia menilai lapangan pekerjaan di Wonogiri masih sedikit. Jika ada lowongan, kualifikasi yang dibutuhkan tidak sesuai dengan jurusan kuliahnya.

“Sekarang saya bekerja di perusahaan telekomunikasi di salah satu BUMN. Sebenarnya bukan keinginan saya bekerja di Bali. Kebetulan saya ditempatkan di Bali. Jika disuruh memilih, saya memang tidak ingin bekerja di Wonogiri,” kata Rizki saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (21/5/2022) sore.

Baca Juga: 1 Jam, Bupati Jekek Bicara Rentenir hingga Kemiskinan di Wonogiri

Ia menerangkan UMK di Wonogiri terbilang rendah. Terlebih bagi seorang laki-laki yang sudah berkeluarga atau pun mempunyai tanggungan orang tua. Tak heran, banyak penduduk laki-laki yang merantau.

Ekspedisi Energi 2022

“Biasanya, daripada enggak bekerja, mending bekerja di perusahaan-perusahaan di Wonogiri [perempuan di Wonogiri]. Terlebih beban tanggungan perempuan mungkin tidak sebanyak laki-laki sehingga bekerja di Wonogiri masih aman,” jelasnya.

Salah seorang pekerja garmen asal kecamatan Wuryantoro, Aminah Permata, mengaku memilih bekerja di tanah kelahirannya karena dapat dekat dengan anggota keluarga. Di samping itu, suasa di Wonogiri yang berupa pedesaan dianggap lebih tenang dan sejuk.

“Saya memang tidak diizinkan merantau oleh keluarga. Kalau pun boleh, paling bekerja di Solo. Misalnya saya indekos, masih suka balik ke rumah sepekan sekali. Kebetulan saya juga anak pertama dari enam bersaudara,” terang Aminah saat dihubungi Solopos.com, Selasa (24/5/2022) sore.

Baca Juga: Kaum Boro Sudah Balik ke Perantauan, Terminal Wonogiri Kembali Sepi?

Aminah tidak mempermasalahkan UMK Wonogiri yang masih rendah. Bagi Aminah yang belum menikah, hal itu sudah cukup untuk membiayai kebutuhan hidupnya.

“Semoga UMK di Wonogiri bisa meningkat lagi. Jika tidak dibarengi kenaikan UMK, masyarakat Wonogiri akan lebih memilih bekerja di luar daerah,” katanya.

Perda

Bupati Wonogiri, Joko Sutopo, mengaku sudah membuat peraturan daerah (perda) rencana tata ruang tata wilayah (RTRW). Salah satunya membangun industri di kawasan Wonogiri bagian selatan. Hal itu menjadi bagian dari rencana agar Wonogiri menjadi daerah vokasi.

“Kami sudah berkomitmen agar pendapatan domestik regoinal bruto (PDRB) di wilayah selatan dan wilayah utara Wonogiri menjadi seimbang. Sekarang, PDRB di wilayah utara senilai Rp2-an triliun [lebih sedikit]. Sementara di wilayah selatan hanya kurang lebih senilai Rp400-an miliar. Maka di wilayah selatan harus kami dorong zona industri besar,” ujar Bupati Jekek, sapaan akrab Joko Sutopo saat diwawancarai Solopos.com belum lama ini.

Baca Juga: Wonogiri Bagian Selatan Pusat Kawasan Industri, Sudah Tarik Investor?

Jekek mengatakan proses pembangunan zona industri di Wonogiri wilayah selatan sudah mulai berjalan. Ia memperkirakan puluhan ribu tenaga kerja Wonogiri akan terserap perusahaan-perusahaan di wilayah tersebut. Secara otomatis akan mengurangi niat masyarakat merantau ke luar kota.

Sirkuler

Fenomena urbanisasi pernah diteliti Didit Purnomo di Jurnal Ekonomi Pembangunan yang diterbitkan Universitas Muhammadiyah Surakarta tahun 2009. Berdasarkan jurnal tersebut, kaum boro Wonogiri cenderung bersifat sirkuler, yaitu lebih memilih kembali ke desa setelah memasuki masa tua.

Tenaga kerja Wonogiri lebih senang tetap tinggal di desa asal sepanjang tersedia lapangan pekerjaan.

“Para perantau hanya ingin bekerja pada daerah perantauan dengan pendapatan yang lebih tinggi dibandingan dengan daerah asal. Selisih pendapatan tersebut mendorong perantau tinggal lebih lama di daerah perantauan,” tulis Didit Purnomo.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago