Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Kemendikbudristek Tetapkan Manuskrip Imam Tabbri Jadi WBTB Pertama Asal Sragen

Manuskrip Kitab Primbon Imam Tabbri menjadi WBTB pertama di Sragen
SHARE
Kemendikbudristek Tetapkan Manuskrip Imam Tabbri Jadi WBTB Pertama Asal Sragen
SOLOPOS.COM - Kepala Bidang Pembangunan Kebudayaan Disdikbud Sragen, Johny Adhi Aryawan memperlihatkan salinan manuskrip Haji Tabbri di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen pada Jumat (30/9/2022). (Solopos.com/Galih Aprilia Wibowo).

Solopos.com, SRAGEN–Kitab Primbon Haji Syekh Imam Tabbri asal Sragen ini ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Indonesia pada Jumat (27/9/2022).

Kepala Bidang Pembangunan Kebudayaan Disdikbud Sragen, Johny Adhi Aryawan mengatakan Kitab Primbon Haji Syekh Imam Tabbri berhasil mendapat rekomendasi penetapan WBTB Indonesia, saat ini tinggal menunggu surat keputusan (SK) penetapan.

PromosiTokopedia Card Jadi Kartu Kredit Terbaik Versi The Asian Banker Awards 2022

Ia menambahkan karya manuskrip tersebut adalah sastra yang ditulis oleh Haji Syekh Tabbri (Haji Tabbri), yang selesai ditulis pada 1857 Masehi.

“Saat ini manuskrip tersebut disimpan olah Ahmad Wahyu Sudrajad, keturunan kelima dadi Haji Tabbri,” terang Johny pada Solopos.com saat ditemui di kantornya Jumat (30/9/2022).

Ia menambahkan Kitab Primbon Haji Tabbri dulunya disampaikan dalam tradisi sorongan di Pondok Pesantren Haji Tabbri di Desa Donoyudan, Kecamatan Kalijambe.

Setelah lulus, para santri Haji Tabbri tersebut kemudian berdakwah agama Islam, terutama di Kalijambe, namun juga menyebar ke bagian utara Bumi Sukowati, yaitu Sumberlawang, Plupuh, Gemolong, dan Gesi.

Johny mengatakan manuskripnya sendiri telah didaftarkan sebagai warisan budaya benda, yaitu cagar budaya pada 2019 lalu. Kemudian WBTB ini, adalah warisan nilai-nilai pengetahuan dan karakter yang terkandung dalam manuskrip tersebut.

Walaupun manuskrip tersebut sudah tidak diketahui judulnya dikarenakan sampulnya yang telah hilang, namun secara turun temurun penyebutan yang diberikan oleh pihak keluarga adalah Kitab Primbon Haji Syekh Imam Tabbri.

“Naskah tersebut terbagi menjadi beberapa bagian tulisan, yaitu materi keagamaan untuk kepentingan dakwah Isalm, maulid qashar, tauhid, kumpulan doa dan amalan-amalan, pengetahuan filsafat dan tasawuf. Kemudian pengetahuan tentang ilmu falaq dan penanggalan Jawa,” ujar Johny.

Teks pada manuskrip tersebut ditulis pada kertas daluwang (dluwang) berukuran 23 cm x 19 cm, tidak bergaris, menggunakan aksara Arab, Pegon, dan Jawa. Kondisi naskah sudah sedikit rapuh dan hampir seluruh lembar kertas mengalami rusak atau robek di pinggir manuskrip. Namun secara keseluruhan, tulisan masih bisa dibaca dengan baik. Hanya beberapa bagian kecil saja yang benar-benar mengalami pelapukan, sehingga benar-benar tidak bisa terbaca.

“Saat ini satu-satunya anggota keluarga yang menguasai pengetahuan isi manuskrip tersebut adalah Ahmad Wahyu Sudrajad, sebagai keturunan kelima. Mulai 2020, Ahmad secara khusus mengajarkan pengetahuan isi manuskrip kepada beberapa anggota keluarga Haji Syekh Imam Tabbri.

Johny menambahkan manuskrip tersebut, sementara ini adalah satu-satunya manuskrip historiografis yang ditemukan in situ di Sragen.

“Pentingnya pelestarian pengetahuan isi manuskrip tersebut salah satunya karena memuat catatan peristiwa penting yang dapat menjadi sumber penulisan sejarah perjuangan agama Islam,” terang Johny.

Upaya pelestarian manuskrip tersebut akan lebih optimal apabila didukung dari berbagai pihak, baik maestro, keluarga dan bisa bekerja sama dengan unsur pemerintah, komunitas, sejarah, seniman, dan akademisi.

“Untuk menjaga pewarisan pengetahuan isi manuskrip bisa dilakukan melalui berbagai cara misalnya, meningkatkan piwulang manuksrip tersebut di kalangan keluarga atau komunitas, kemudian mengenalkan kembalai pengetahuan isi manuskrip di pesantren-pesantren, guru agama, dan sebagainya,” tambah Johny.

Selain itu juga membentuk kader penutur-penutur baru yang menguasi isi manuskrip tersebut, selanjutnya melakukan revitalisasi isi manuskrip manuskrip tersebut sebagai ragam senin. Kemudian menyajikan da mengajarkan revitalisasi seni ke kalangan keluarga atau komunitas manuksrip tersebut.

Pamong Budaya Muda/Sub Koordinator Cagar Budaya dan Koleksi Museum Disdikbud Sragen, Andjarwati Sri Sayekti mengatakan penetapan WBTB tersebut dilaksanakan di Yogyakarta pada Jumat malam.

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode