top ear
Arif Budisusilo (Dokumen Bisnis Indonesia)
  • SOLOPOS.COM
    Arif Budisusilo (Dokumen Bisnis Indonesia)

Kembali Kerja

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (19/6/2020). Esai ini karya Arif Budisusilo, wartawan Bisnis Indonesia atau Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia (JIBI).
Diterbitkan Rabu, 24/06/2020 - 20:51 WIB
oleh Solopos.com/Arif Budisusilo
5 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Coronomy memang luar biasa dahsyat dampaknya pada kesehatan, ekonomi, hingga kehidupan sosialita, vice versa. Seorang teman bercerita kolega perempuannya yang biasa pakai alis mata sampai lupa cara memasangnya.

"Kelamaan stay at home," kata dia. Sejak awal, saya memang suka menyebut dampak virus corona ini sebagai "coronomy". Wabah penyakit yang dinamai Covid-19 tersebut telah mengakibatkan perubahan dramatis di berbagai sendi kehidupan. Ujung semuanya adalah ekonomi.

Kalau para perempuan yang biasa memiliki kehidupan profesional atau sosialita yang sangat dinamis, sekadar ilustrasi, sampai lupa cara pakai "bulu mata", nebelin "alis mata" atau apa pun namanya, artinya industri kecantikan pasti terdampak.

Ketua Dewan Penasihat Mustika Ratu, Putri Kuswisnuwardhani, mengatakan  kinerja sektor kosmetika turut terkena dampak Covid-19.  Pemakaian produk tata rias wajah menurun, tetapi penggunaan produk perawatan dan jamu meningkat.

"Ini setidaknya membantu sektor kosmetika untuk survive pada masa pandemi," kata Putri yang juga Anggota Dewan Pertimbangan Presiden 2019-2024 itu.

Dampak perubahan perilaku akibat Covid-19 terhadap industri kecantikan sekadar contoh saja. Banyak ilustrasi lain yang bisa memberikan gambaran lebih meyakinkan. Pekan ini saya mendapatkan angka penjualan otomotif yang memprihatinkan.

Penjualan mobil di pasar domestik pada Mei, contohnya, hanya 7,868 unit. Tahun lalu mencapai mencapai 84,056 unit. Artinya tak sampai 10%! Saya cek penjualan mobil di Grup Astra, yang Mei tahun lalu mencapai 45.085 unit, ternyata pada Mei tahun ini cuma 1.102 unit.

Sektor lain jauh lebih buruk, seperti perhotelan, ritel, dan lainnya yang tidak beroperasi selama periode pembatasan sosial berskala besar atau PSBB dan mulai dicanangkan gerakan "stay at home" begitu wabah Covid-19 terkonfirmasi awal Maret lalu.

Jangan kaget kalau angka pengangguran tiba-tiba melonjak. Tentu dampak selanjutnya angka kemiskinan merangkak naik. Kadin memprediksi pandemi Covid-19 memicu kenaikan jumlah pengangguran hingga 10 juta orang, termasuk yang dirumahkan maupun pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja.

Saya juga memperoleh angka dari Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, sekitar 70% pekerja yang kehilangan pekerjaan dan terdampak Covid-19 ini adalah mereka yang menerima penghasilan di bawah Rp1,8 juta sebulan. Jelas, data itu mengirimkan pesan, kehidupan mereka saat ini tentu amat memprihatinkan.

***

Coronomy memberi banyak pelajaran dan menghadirkan banyak evidence tentang ekonomi perilaku. Bahwa mesin utama penggerak ekonomi sejatinya adalah perilaku manusia.

Manakala perilaku manusia berubah, otomatis ekonomi berubah. Kira-kira begitu. Disrupsi teknologi belakangan ini adalah contoh nyata. Tatkala Internet menjadi enabler di banyak sekali aktivitas manusia, kehidupan dan aktivitas ekonomi pun berubah.

Semenjak Internet tumbuh pesat didukung infrastruktur digital yang berkembang pesat pula, perilaku manusia menjadi penggerak perkembangan ekonomi digital yang nyaris mendominasi aktivitas sehari-hari.

Dampaknya tentu signifikan bagi bisnis alias dunia usaha. Ramailah kemudian istilah disrupsi. Dulu kita mengenal outlet untuk mendapatkan barang ya warung atau toko. Belakangan hadirlah bisnis ritel skala besar, berkembanglah mal-mal, dan kemudian convenience store.

Pada era Internet sekarang ini, peran industri ritel yang melayani konsumen secara langsung tergeser oleh e-commerce dan toko digital. Konsumen tak perlu ke toko, cukup menggunakan aplikasi berbasis Internet. Pesan di aplikasi dan barang langsung diantar.

Peran toko selaku perantara banyak berkurang. Perubahan perilaku yang didorong kemajuan teknologi mengubah postur ekonomi. Transaksi keuangan berubah. Lahirlah financial technology alias fintech.

Industri keuangan, terutama perbankan, berubah. Saya dengar dari Pak Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank Central Asia, transaksi digital kini sangat mendominasi. Lebih dari 80% transaksi perbankan di BCA menggunakan saluran digital.

Selama pandemi Covid-19, transaksi digital kian intensif, menggeser transaksi di mesin ATM dan kantor cabang. Transaksi di ATM yang pernah mencapai 60% kini tinggal 10%. Di kantor cabang hanya tersisa 2%.

Transaksi di mesin ATM dan kantor cabang menurun signifikan semenjak Internet berkembang pesat, yang mengubah perilaku konsumen dalam menjalankan praktik perbankan sehari-hari.

Bayangkan seandainya BCA tidak cepat berubah dan melakukan inovasi teknologi dengan skala besar dan timely, pasti akan ditinggalkan oleh perubahan perilaku konsumennya.

Saat teknologi belum seperti saat ini, BCA pernah disingkat dengan pelesetan Bank Capek Antre. Kini, BCA suka dipelesetkan sebagai Banyak Cuan Alhamdulillah.

***

Tiga bulan ini menjadi bukti, tatkala wabah Covid-19 mulai menghajar Indonesia, dan respons kebanyakan manusia adalah tinggal di rumah alias stay at home, ekonomi mati suri. Perubahan perilaku manusia akibat Covid-19 itu benar-benar memukul bisnis dan ekonomi.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi bukan sekadar melambat, tetapi tumbuh negatif. Pada kuartal kedua tahun ini, diperkirakan ekonomi akan tergerus dalam, tumbuh minus lebih dari 3%.

Dengan kata lain, kue ekonomi Indonesia pada periode April hingga akhir Juni ini tidak membesar, melainkan mengerut. Tak mengherankan belakangan ini Presiden Joko Widodo memerintahkan menjalankan tatanan baru dalam kehidupan masyarakat.

Temanya adalah "Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19". Cara kita hidup diatur dengan protokol "adaptasi kebiasaan baru". Intinya, hidup kita mesti berubah. Saya ingin menyederhakanan saja: Yuk kembali kerja, dengan cara yang baru.

Tentu dengan disertai kehati-hatian dan kewaspadaan untuk menjalankan prosedur kesehatan yang maksimal. Bolehlah saya kutip obrolan dengan Mbak Putri Kuswisnuwardhani lagi.  Kembali kerja, katanya, merupakan keniscayaan.

"Paralel dengan perang melawan Covid-19, kita perlu memikirkan kelangsungan hidup dunia usaha dan masyarakat bawah," kata dia.

Covid-19 masih akan bersama kita untuk waktu yang masih cukup lama hingga diketemukan vaksin atau penangkalnya. Masyarakat diajak hidup dengan cara baru. Mengadopsi kedisiplinan dan mematuhi protokol pencegahan Covid-19.

Menghindari kerumunan orang dalam jumlah terlalu banyak. Menjaga kebersihan. Dan seterusnya. Saya tentu sepakat dengan Mbak Dhani. Tujuannya jelas, agar masyarakat tetap sehat, sekaligus ekonomi jalan kembali.

Upaya mengawal "keseimbangan baru" inilah yang tidak mudah. Terlebih, wabah Covid-19 telah mengubah "perilaku ekonomi". Konsumen menahan diri untuk belanja, bepergian, maupun pergi ke tempat-tempat keramaian.

Perilaku ini dikendalikan dampak psikologis akibat takut tertular Covid-19. Penting pula untuk memastikan "rasa aman" yang belum sepenuhnya terbangun di tengah masyarakat. Rasa aman hanya akan terbangun manakala kita memperoleh keyakinan bahwa perkembangan Covid-19 benar-benar terkendali.

Penting adanya transparansi informasi yang bisa diakses masyarakat setiap saat. Alangkah baiknya jika tersedia informasi up-date mengenai daerah atau kawasan berisiko dan kawasan yang masuk zona aman untuk beraktivitas.

Ringkasnya, masyarakat akan berani sepenuhnya beraktivitas kembali kerja. Kembali belanja, kembali piknik, dan kembali sekolah. Masyarakat akan sepenuhnya kembali beraktivitas bila benar-benar yakin berada di zona yang aman dari Covid-19.

Ada baiknya pengumuman rutin kasus positif Covid-19 setiap sore itu disertai penekanan pada informasi pemetaan daerah, wilayah, atau zona-zona yang aman untuk beraktivitas. Bisa pula membuka dashboard informasi tersebut melalui aplikasi yang dapat diakses langsung oleh publik melalui telepon pintar.

Bagi saya, guidance semacam itu akan jauh lebih menenangkan ketimbang tiap hari kepala kita dijejali informasi penambahan kasus positif Covid-19 yang terus mendaki.

Dengan begitu upaya menggerakkan kembali ekonomi dapat berjalan lebih efektif lantaran masyarakat benar-benar merasa aman dari Covid-19 dan bisa melakukan aktivitas ekonomi secara lebih produktif. Begitu pula sebaliknya.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini