Kemarau Datang, Petani Terancam Kekeringan

SHARE
Kemarau Datang, Petani Terancam Kekeringan
SOLOPOS.COM - Solopos Digital Media - Panduan Informasi dan Inspirasi

KARANGANYAR–Datangnya musim kemarau mebuat sejumlah petani di Desa Macanan, Kebakkramat, Karanganyar ketar-ketir. Pasalnya, selama ini mereka hanya mengandalkan sistem pengairan tadah hujan lantaran minimnya saluran irigasi.

Petani khawatir sawah yang baru saja mereka tanami pada bakal kekeringan seiring datangnya musim kemarau. “Ya kalau sawah di sini kan sangat bergantung pada hujan, kalau enggak ada hujan ya sulit air,” ujar seorang petani asal Dusun Pengin Tengah, Macanan, Suwito, 48, saat ditemui Espos di sawahnya, Rabu (15/5).

PromosiCara Meningkatkan Omzet & Performa di Tokopedia, Enggak Sulit Kok!

Menurut Suwito, lokasi persawahan milik warga yang jauh dari sungai membuat petani kesulitan mengakses saluran irigasi. Oleh sebab itu, selain mengandalkan guyuran hujan, sebagian petani memilih membuat sumur untuk mengairi sawah mereka.

“Kalau yang punya modal ya bisa bikin sumur sendiri, tapi kalau yang enggak punya modal kayak saya ya kelabakan, nunut nyedot air ke orang-orang yang punya sumur,” imbuh Suwito.

Suwito harus membayar Rp2.500 per jam untuk menyedot air dari sumur petani lain yang berdekatan dengan letak sawahnya. Sedikitnya, petani harus menyiapkan dana Rp5 juta untuk membuat sumur di area persawahan lengkap dengan mesin disel penyedot air.

Petani dapat sedikit bernapas lega dengan adanya bantuan pengairan yang diberikan Dinas Pertanian Karanganyar. “Tapi itu ngasihnya air cuma dua kali seminggu, ya masih kurang buat mengairi sawah, jadi kami juga harus usaha nyedot air dari sumur,” tuturnya.

Ekspedisi Energi 2022

Kepala Desa Macanan, Sutrisno mengaku tidak dapat berbuat banyak untuk membuat saluran irigasi karena sebagian area persawahan telah beralih ke tangan investor. Akibatnya, lahan yang semestinya dapat digunakan untuk membangun saluran irigasi dari sungai ke sawah telah dikeringkan dan akan dibangun pabrik.

“Ya sudah enggak mungkin bangun irigasi, hla wong salurannya saja sudah putus. Tanahnya sudah dijual petani ke investor, ada juga yang sudah habis buat bikin bata dan genting,” terang dia.

Dia menyayangkan banyaknya area pertanian yang telah berpindah ke tangan investor. Di satu sisi, dia mendukung kemajuan iklim investasi di desanya, namun di lain pihak Sutrisno tetap menginginkan pertanian di desanya dapat bertahan.

Oleh sebab itu, Sutrisno akan mengupayakan bantuan dana ke Dinas Pertanian untuk membuat sumur di area persawahan. Sumur itu kelak dapat digunakan dan dikelola petani secara bersama-sama. “Sebenarnya ada anggaran dari Dinas Pertanian untuk membantu program pertanian di desa, makanya saya akan mengajukan September nanti, tapi enggak bisa masuk anggaran 2013 soalnya pengajuannya sudah ditutup tahun kemarin,” pungkas Sutrisno.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago