KEKERASAN TERHADAP ANAK : Gadis yang Diarak Tanpa Busana di Sragen Jadi Anak Asuh Kak Seto
Solopos.com|news

KEKERASAN TERHADAP ANAK : Gadis yang Diarak Tanpa Busana di Sragen Jadi Anak Asuh Kak Seto

Kekerasan terhadap anak di Sragen membuat Kak Seto tersentuh. RS, gadis yang diarak tanpa busana, jadi anak asuhnya.

Solopos.com, SRAGEN — Ketua Dewan Konsultatif Nasional Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Seto Mulyadi atau lebih akrab dengan nama Kak Seto memungut korban pengarakan gadis tanpa busana, RS, 14, sebagai anak asuh. Keputusan pribadi Kak Seto itu diambil setelah mendengarkan curahan hati (curhat) RS, Minggu (24/1/2016).

Sebelumnya, RS ingin curhat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Kak Seto. Keinginan RS disampaikan langsung kepada psikiaternya, Sugiarsi, yang juga Koordinator Aliansi Peduli Perempuan Sukowati (APPS) Sragen, Kamis (21/1/2016) lalu. Keinginan RS pun didengar Kak Seto yang kebetulan ada kunjungan di Solo, Minggu pagi.

Kak Seto hadir di kediaman orang tua angka RS di kawasan Karangmalang, Sragen. Kehadiran Kak Seto disambut hangat keluarga RS yang didampingi para aktivis APPS, perangkat desa, aparat kepolisian, TNI, dan tetangga RS. Kak Seto datang menggunakan mobil milik legislator Partai Golkar Sragen Pujono Elli Bayu Effendi. Bayu, sapaan akrabnya, kenal dekat dengan Kak Seto karena sama-sama mantan pengasong jalanan.

Di hadapan Kak Seto, RS hanya merunduk. Mimik mukanya tak terlihat karena tertutup masker kain. RS tak kuasa bercurhat di depan pemerhati anak itu dan hanya menyerahkan selembar kertas putih berisi coretan tinta warna biru tak beraturan. Ketika membukanya, sekilas Kak Seto membaca dan mengetahui isi surat itu. “Saya ingin mengetahui curhatan anak itu lebih dalam lagi dan secara pribadi,” kata Kak Seto setelah membaca tulisan itu.

Puluhan orang yang berjubel di ruang sempit di rumah RS pun paham. Perlahan mereka keluar rumah sederhana itu. Kak Seto berbincang dengan RS didampingi orang tua angkat, Sugiarsi, dan beberapa aktivis perempuan.

“Intinya, anak itu minta keadilan atas perlakukan itu [pengarakan secara bugil]. Dia [RS] juga mohon perhatian untuk masa depan dan pendidikannya. Saya sanggup membiayai pendidikannya sampai lulus SMA. Kalau di sekolah formal masih takut, ya bisa melalui pendidikan informal,” ujar Kak Seto saat ditemui wartawan seusai bertemu RS.

Kak Seto menyebut RS seperti anak asuh baginya. Pembiayaan pendidikan RS, kata dia, atas inisiatif pribadi. Kak Seto mengapresiasi perjuangan APPS, Forum Anak Sukowati, aparat keamanan, wartawan, dan warga di kawasan Karangmalang yang bersama-sama bertanggung jawab atas kasus pengarakan gadis tanpa busana itu.

Dia akan terus menjalin komunikasi dengan APPS sekalu pendamping RS. Bahkan Kak Seto ingin belajar dengan Sugiarsi. “Kasus ini harus dikawal terus agar Sragen bisa menjadi kabupaten layak anak,” harapnya.

Kasus yang dialami RS di mata Kak Seto merupakan kasus keempat di Indonesia. Dia menekankan kunci atas penuntasan kasus itu terletak pada kepedulian dan tanggung jawab bersama semua elemen masyarakat. Pelaku atas kejahatan anak, ujar dia, harus dihukum sesuai aturan hukum terutama sesuai UU Perlindungan Anak.

Ketua APPS Sragen, Sugiarti, menambahkan selain meminta keadilan dan jaminan masa depannya RS juga ingin tetap tinggal di APPS. Dia menyampaikan Kak Seto sempat menawarkan sekolah informal yang dirintisnya, yakni home schooling. Bagi Sugiarti, pilihan sekolah itu tergantung pada RS.

“Kak Seto memang mau membiayai pendidikan RS sampai ke jenjang SMA. Kak Seto juga mau memfasilitasi pendidikan RS sampai ke perguruan tinggi. Kehadiran Kak Seto menjadi harapan masa depan RS. Kak Seto sebagai pembina KPAI pasti juga akan berkoordinasi dengan lembaga lain di tingkat nasional,” kata Sugiarsi.

Close Video
Promo & Events
Baca Juga
View All
Berita Terpopuler
Indeks
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago