;

KECELAKAAN KLATEN : Tertimpa Batu 10 Ton, Penambang Pasir Tewas di Lereng Merapi

SHARE
KECELAKAAN KLATEN : Tertimpa Batu 10 Ton, Penambang Pasir Tewas di Lereng Merapi
SOLOPOS.COM - Sejumlah warga menyaksikan proses evakuasi penambang pasir yang tewas ketiban bongkahan batu berdiameter 2,5 meter di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III di Balerante, Kemalang, Sabtu (5/9/2015) sore. Korban tewas dalam kejadian tersebut, yakni Mrajak, 35, Kadipolo RT 014/RW 004, Keputran, Kemalang. (Ponco Suseno/JIBI/Solopos)

Kecelakaan di Klaten kali ini kembali menimpa penambang pasir lereng Merapi.

Solopos.com, KLATEN — Aksi nekat Mrajak, 35, penambang pasir manual di Kawasan Rawan Bencana (KRB) III di Balerante, Kemalang, Klaten, Sabtu (5/9/2015) siang, berakhir tragis. Warga Kadipolo RT 014/RW 004, Keputran, Kemalang, tersebut tewas tertimpa batu kali seberat kurang lebih 10 ton.

PromosiUMi Youthpreneur 2022 Bentuk Dukungan PIP Terhadap Wirausahawan Muda

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, Mrajak memang dikenal sebagai penambang pasir di aliran Sungai Kaliworo, tepatnya sebelah barat Cekdam I di Balerante, Sabtu pagi. Pekerjaan ini sudah menjadi profesi Mrajak sehari-hari beberapa waktu terakhir. Saat itu, Mrajak bersama tiga temannya, di antaranya Harno dan Bagyo.

Keempat penambang itu memilih menambang pasir di sebelah barat Cekdam I Balerante. Lokasi penambangan berada di bawah bongkahan batu kali berdiameter 2,5 meter. Lokasi KRB tersebut masih termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

Siang hari, Mrajak cs berhasil menambang pasir di bawah tebing kritigan setinggi 100 meter. Sewaktu Mrajak cs sukses menggali pasir hingga kedalaman 1-2 meter, tiba-tiba terdengar suara longsoran pasir dan kerikil dari atas.

Nahas bagi Mrajak, dirinya tak mampu berlari menghindari bongkahan batu kali seberat kurang lebih 10 ton tersebut. Tubuhnya tergencet batu kali tersebut hingga tewas. Sementara, tiga temannya berhasil menghindari bongkahan batu kali itu.

Aparat Polsek Kemalang, tim Search and Rescue (SAR), petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten, yang memperoleh informasi tersebut langsung mendatangi lokasi kejadian. Petugas dan relawan sempat mengalami kesulitan saat mengevakuasi jenazah Mrajak yang berada di bawah bongkahan batu kali itu.

Ekspedisi Energi 2022

Proses evakuasi dengan menggunakan alat berat itu berlangsung hampir empat jam. Warga Balerante dan sekitarnya yang mendengar Mrajak tewas tertimpa batu besar juga berduyun-duyun ke lokasi kejadian. Proses evakuasi baru selesai pukul 15.40 WIB.

“Kami memperoleh informasi kejadian ini pukul 12.00 WIB. Kami langsung menuju ke lokasi kejadian. Lantaran peristiwa ini merupakan murni kecelakaan saat kerja, kami tidak melakukan tahap penyidikan. Jenazah langsung di bawa ke rumah duka untuk dimakamkan,” kata Kapolsek Kemalang, AKP I Wayan Nartha, saat ditemui wartawan di sela-sela evakuasi.

Sudah Biasa

I Wayan Narta sudah berulang kali mengingatkan warga agar tak menambang pasir di kawasan TNGM itu. Daerah tersebut merupakan daerah larangan untuk menambang pasir. “Warga di sini juga sudah pada mengetahui kalau sudah ada beberapa korban meninggal dunia karena tertimpa longsoran material saat menambang di sini. Meski dilarang, ternyata masih ada yang menambang,” katanya.

Hal senada dijelaskan salah satu warga Balerante, Sronto. Dirinya mengatakan peristiwa penambang pasir yang tewas karena tertimpa longsoran batu atau pasir sudah sering terjadi. Penambang pasir yang menjad korban di daerah larangan itu berasal dari berbagai daerah di kawasan Kemalang dan sekitarnya. “Sudah biasa kejadian seperti ini. Soalnya, memang lokasinya sangat rawan. Tapi, banyak yang nekat,” katanya.

Kepala Desa (Kades) Keputran, Wuryanto Nugroho, mengatakan Mrajak yang menjadi warga desanya itu sebenarnya sudah diingatkan agar tidak menambang di daerah rawan bencana. Lantaran terdesak kebutuhan ekonomi, Mrajak memilih pekerjaan penuh risiko itu.

Setiap harinya, Mrajak cs memperoleh uang hasil menambang pasir senilai Rp1,5 juta. Dalam satu hari, Mrajak cs minimal bisa mengumpulkan pasir sebanyak tiga truk. “Rencananya, jenazah langsung di bawa ke rumah duka [untuk dimakamkan],” katanya.

Baca juga: Evakuasi Jasad di Bawah Batu 10 Ton, Alat Berat “Njondil”



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago