Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Kecamatan Terkecil di Sragen Ternyata Hanya Punya 2 Desa

Kecamatan terkecil di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, ternyata hanya memiliki dua desa dan enam kelurahan saja.
SHARE
Kecamatan Terkecil di Sragen Ternyata Hanya Punya 2 Desa
SOLOPOS.COM - Alun-alun Sasana Langen Putra Sragen, belum lama ini. (Solopos/Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN — Sragen Kota menjadi kecamatan terkecil di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, dengan luas wilayah mencapai 27,27 km persegi atau 2,90% dari total luas wilayah Kabupaten Sragen 941,6 km persegi.

Uniknya, Kecamatan Sragen Kota hanya memiliki dua desa saja, yakni Desa Tangkil dan Desa Kedungupit, serta memiliki enam kelurahan, yaitu Kelurahan Nglorog, Sragen Wetan, Sragen Tengah, Sragen Kulon, Sine, dan Karangtengah.

PromosiJos! Petani & Peternak Klaten Bisa Jadi Penopang Kedaulatan Pangan

Jumlah rukun tetangga (RT) di kecamatan ini sebanyak 368 RT atau hampir sama dengan jumlah RT di wilayah Kecamatan Karangmalang sebanyak 361 RT.

Laju pertumbuhan penduduk dalam kurun 2010-2020 di wilayah kecamatan terkecil di Sragen ini terhitung paling kecil, yakni 0,41%. Namun, kepadatan penduduknya tertinggi se-Kabupaten Sragen, yakni 2.551 per km persegi dengan total jumlah penduduk 69.558 jiwa atau 7,12% dari total penduduk hasil sensus BPS Sragen 2020 sebanyak 976.951 jiwa.

Baca Juga: Apa Itu Gotham City, yang Identik dengan Babarsari Yogyakarta?

Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dispendukcapil) Sragen, Adi Siswanto, saat dihubungi Solopos.com, Selasa (5/7/2022), mengungkapkan jumlah penduduk itu memang tidak berbanding lurus dengan luas wilayah.

Dia menjelaskan di Sragen Kota jumlah penduduknya tinggi karena memiliki daya tarik yang tidak dimiliki kecamatan lain.

Baca Juga: Harga Tanah di Solo Capai Rp65 Juta/M2, di Mana Lokasinya?

Selain itu, dia juga menyebut kecamatan terkecil di Sragen ini menjadi pusat pemerintahan, pusat ekonomi, pusat perkantoran, seperti di Solo, Semarang, Jakarta, dan kota-kota lainnya.

“Dengan daya tarik itu maka Sragen Kota menjadi episentrum penduduk. Orang kemudian memilih tinggal di wilayah Kota Sragen karena akses yang dekat dengan daya tarik tersebut. Di sisi lain mobilitas di perkotaan biasanya juga tinggi karena orang mencari pekerjaan, orang kantoran, dan bisnis dan seterusnya,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Solopos.com sebelumnya.

Baca Juga: Hukum Akikah dan Kurban di Hari Raya Iduladha, Boleh Digabung?



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode