Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Kasus PMK Tinggi, PMI Grobogan Ajari Peternak Buat Eco Enzyme

Kasus penyakit mulut dan kuku di Grobogan mengundang kepedulian PMI Grobogan untuk mengajari peternak membuat Eco Enzyme.
SHARE
Kasus PMK Tinggi, PMI Grobogan Ajari Peternak Buat Eco Enzyme
SOLOPOS.COM - Kasi Pelayanan Masyarakat PMI Grobogan Gesit Kristyawan (kedua dari kanan) menjelaskan tentang pembuatan Eco Enzyme kepada warga di Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Grobogan. (Istimewa/PMI Grobogan)

Solopos.com, PURWODADI — Kasus penyakit mulut dan kuku atau PMK di Grobogan terus bertambah, hal ini mengundang kepedulian PMI Grobogan untuk mengajari peternak membuat Eco Enzyme.

Data dari Dinas Peternakan dan Perikanan atau Disnakkan Grobogan menyebutkan hingga Kamis (30/6/2022) sudah ada 1849 kasus PMK dengan rincian 1.808 ekor sapi, 38 ekor kerbau dan 3 ekor kambing.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Dari total kasus tersebut 1.419 merupakan kasus aktif, kemudian 75 kasus baru, di mana sudah ada 422 ekor ternak sembuh, yakni 411 ekor sapi dan 11 ekor kerbau. Sapi mati 6 ekor dan disembelih paksa 2 ekor.

Menurut KasiPelayanan Masyarakat PMI Grobogan Gesit Kristyawan, Eco Enzyme memiliki sejumlah manfaat yang bisa diaplikasikan untuk pertanian dan peternakan.

Manfaat tersebut lanjut Gesit yang juga pegiat Eco Enzyme di Grobogan, bisa juga untuk menyembuhkan luka, pembersih lantai, detox, hand sanitazier, dan pengusir hama.

Baca juga: Weleh! Pemprov Jateng Terima Banyak Aduan Jalan Rusak

Eco Enzyme lanjut Gesit, merupakan hasil fermentasi dari air, gula merah/molasi, sisa buah, dan sayuran selama 90 hari.

“Eco-Enzyme dikembangkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong, pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand, yang melakukan penelitian sejak 1980-an. Kemudian diperkenalkan secara lebih luas oleh Dr. Joean Oon, seorang peneliti Naturopathy dari Penang, Malaysia,” jelasnya.

Eco Enzyme sambutng Gesit, memiliki manfaat untuk mengobati luka pade hewan seperti yang terjadi saat ini yakni penyakit mulut dan kuku. Serta bisa dicampur untuk makanan ternak.

“Dari penerapan Eco Enzym yang dilakukan di beberapa tempat, menunjukan hasil bagus. Karena setelah luka sembuh sapi kembali mau makan,” ujar Gesit.

Baca juga: Disnakkan Akan Cek Info Puluhan Sapi Mati di Geyer Diduga PMK

Mengingat manfaat tersebut, sambung Gesit, PMI Grobogan tergerak untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat terutama peternak.

“Pelatihan dilakukan di Kandang Komunal di Dusun Sangeh, Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh yang diikuti oleh 45 warga baik pria maupun perempuan,” kata Gesit.

Harapannya dengan pelatihan pembuatan Eco Enzyme ini masyarakat dapat memanfaatkannya untuk menekan kasus PMK di Kabupaten Grobogan.

 

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode