top ear
Ilustrasi anak-anak korban kekerasan seksual. (winnipegsun.com)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi anak-anak korban kekerasan seksual. (winnipegsun.com)

Kasus Kekerasan Anak di Wonogiri Banyak Terjadi di Perdesaan

Rendahnya pengawasan orang tua terhadap perilaku anak bermedia sosial menjadi salah satu faktor penyebab tingginya kekerasan anak di perdesaan.
Diterbitkan Rabu, 28/10/2020 - 15:24 WIB
oleh Solopos.com/Aris Munandar
2 menit baca

Solopos.com,WONOGIRI--Peningkatan kasus kekerasan terhadap anak di Wonogiri pada masa pandemi Covid-19 rata-rata terjadi di daerah perdesaan.

Satuan Bhakti Pekerja Sosial (Sakti Peksos) Dinas Sosial (Dinsos) Wonogiri, Wahyu Widi Pertiwi, mengatakan selama pandemi Covid-19 ini hanya ada satu kasus di daerah perkotaan. Selebihnya di daerah perdesaan.

Menurut Widi, hal ini disebabkan rendahnya pengetahuan orang tua di daerah perdesaan terhadap teknologi informasi. Terutama tentang cara mengoperasikan handphone dan menggunakan media sosial. Akibatnya, para orang tua ini tidak mampu mengawasi penggunaan handphone anaknya yang kerap digunakan untuk bermedia sosial.

Ngeri! Kekerasan Anak di Wonogiri Meningkat Saat Pandemi, Didominasi Kejahatan Seksual

"Dengan fakta itu, anak yang saat ini sudah cakap dalam bermedia sosial menjadi lebih leluasa karena tidak diawasi orang tua. Selama ini mungkin anak perdesaan dianggap lebih anteng atau penurut dibanding anak kota. Namun, di Wonogiri anggapan itu mungkin kurang tepat jika melihat tempat kejadian kasus saat ini," kata dia.

Berbeda dengan di daerah perkotaan, sebagian besar orang tua sudah paham dalam mengoperasikan hape dan menggunakan media sosial. Sehingga pengawasan orang tua kepada anak cukup tinggi.

Widi mengatakan di perdesaan suasananya cenderung sepi. Selain itu jarak antar rumah juga jauh. Rata-rata kasus kekerasan seksual dilakukan di tempat-tempat yang sepi seperti itu.

Pertama di Wonogiri, Ada Bayi yang Positif Covid-19

"Sebenarnya tidak hanya orang tua. Lingkungan juga harus bisa melakukan pengawasan dan kontrol kepada anak. Dengan begitu kasus kekerasan anak bisa turun," kata Widi.

Pendampinga terhadap korban

Kepala Dinsos Wonogiri, Kurnia Listiyarini, mengatakan pendampingan kasus anak dilakukan oleh pekerja sosial mulai dari kasus muncul hingga setelah muncuk putusan pengadilan. Sementara itu, orang tua dan lingkungan akan mendapat edukasi.

Korban kekerasan akan mendapat bantuan sebesar Rp2 juta. Pada 2020, Dinsos sudah menyerahkan bantuan kepada 10 korban kekerasan anak. "Bantuan itu untuk penguatan korban. Selain itu untuk membantu perekonomian keluarga juga," kata Kurnia.

Sehari! Kasus Terkonfirmasi Positif Covid-19 di Wonogiri Bertambah 12 Orang

Diberitakan sebelumnya, kasus kekerasan terhadap anak di Wonogiri meningkat selama masa pandemi Covid-19. Kejahatan seksual mendominasi penyebab kekerasan tersebut.

Berdasarkan data yang dihimpun Solopos.com dari Dinas Sosial Kabupaten Wonogiri, sejak Januari hingga September 2020 tercatat ada 26 kasus kekerasan terhadap anak.

Dari jumlah tersebut, 15 kasus disebabkan karena kejahatan seksual atau persetubuhan. Adapun faktor lainnya yakni pencurian dengan jumlah delapan kasus, pencabulan dua kasus dan laka lantas satu kasus.


Editor : Profile Kaled Hasby Ashshidiqy
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini