top ear
Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Solopos-Tri Rahayu)
  • SOLOPOS.COM
    Kusdinar Untung Yuni Sukowati (Solopos-Tri Rahayu)

Kasus Covid-19 Terkendali, Sekolah di Sragen Bakal Coba Pembelajaran Tatap Muka

Disdikbud sudah menyiapkan konsep pembelajaran tatap muka, namun tetap menunggu keputusan dari Gugus Tugas Covid-19 tingkat Kabupaten Sragen.
Diterbitkan Sabtu, 8/08/2020 - 06:20 WIB
oleh Solopos.com/Tri Rahayu
3 menit baca

Solopos.com, SRAGEN — Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati akan mencoba pembelajaran tatap muka untuk para siswa setingkat SD dan sekolah menengah pertama (SMP) mulai Oktober mendatang. Model pembelajarannya tidak penuh satu pekan tetapi cukup tiga hari dalam sepekan dan siswa yang masuk dibatasi 50% dari jumlah rombongan belajar (rombel).

Tak Lagi Zona Hijau, Satgas Covid-19 Izinkan Sekolah Tatap Muka di Zona Kuning

Penjelasan itu disampaikan Yuni, sapaan Bupati, saat ditemui Solopos.com, seusai sosialisasi kepada tujuh perguruan pencak silat di Balai Desa Taraman, Sidoharjo, Sragen, Jumat (7/8/2020). Yuni berani mencoba pembelajaran tatap muka itu dengan pertimbangan kasus Covid-19 di Sragen lebih bisa terkendali daripada daerah-daerah lainnya.

“Saya pikir Sragen bisa mengendalikan [kasus Covid-19] dengan baik. Kenapa harus menunggu zona hijau. Semua sudah mulai menggagas [pembelajaran tatap muka]. [Pembelajaran] daring juga kendalanya banyak dan itu yang kami takutkan. Ya, masalah kuota terutama. Sampai Pak Menteri bilang sampai mau bayar kuota segala,” ujarnya.

Kabar Gembira! Dalam Sehari 62 Pasien Covid-19 di Grobogan Sembuh

Tak Ingin Tergesa-Gesa

Yuni berencana pembelajaran tatap muka itu kemungkinan akan dilaksanakan setelah evaluasi triwulan selesai. Dia mengatakan dalam setahun ada empat kali evaluasi pembelajaran lewat pembagian rapor. Dia mengatakan kemungkinan pembelajaran tatap muka itu dicoba setelah tiga bulan ke depan terhitung dari Juli-September.

Yuni tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil kebijakan tersebut. Yuni perlu ada pembahasan secara intensif sembari menyiapkan sarana dan prasarananya. Dia mengeluh pembelian thermometer sampai sekarang belum datang.

“Kami menggagas tatap muka itu tetapi harus menyaipakan hardware-nya dulu. Semua anak-anak pengin masuk sekolah karena lewat daring juga sulit. Kami mengusahakan [pembelajaran tatap muka]. Mungkin kami coba tidak penuh satu pekan. Kalau tidak tiga hari masuk dalam sepekan. Semua sedang kami atur karena tidak mungkin [pembelajaran tatap muka] langsung serentak tetapi harus bertahap,” jelasnya.

Laksanakan Inpres, Karanganyar Siapkan Sanksi Pelanggar Protokol Kesehatan

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sragen Suwardi mengatakan Disdikbud sudah menyiapkan konsepnya tetapi pelaksanaannya tetap menunggu keputusan dari Gugus Tugas Covid-19 tingkat Kabupaten Sragen.

Dia menerangkan konsepnya yang masuk hanya separuh atau 50% kelas dan masuknya hanya tiga hari dalam sepekan. Selama pembelajaran tatap muka itu, kata dia, wajib memberlakukan protokol kesehatan.

Pembatasan Jumlah Pelajar

Suwardi tidak ingin kebijakan pembelajaran tatap muka di Sragen itu justru akan menimbulkan klaster baru Covid-19 di sekolah. Dia menyarankan dalam pengambilan kebijakan itu harus hati-hati.

Pandemi Covid-19, JNE Komitmen Bantu UMKM

“Yang jelas kami sudah siap konsepnya. Kapan pun dilaksanakan sudah tinggal jalan. Selama ini sudah ada model tatap muka dengan home visit dengan pembatasan lima anak per kelompok. Namun, dalam pelaksanaan tidak bisa mengawasi,” ujarnya.

Suwardi mengatakan kalau dari Kemendikbud tetap menunggu status daerah menjadi zona hijau baru diperbolehkan untuk pembelajaran tatap muka. Namun, secara prinsip, terang dia, dikembalikan ke daerah masing-masing.

Dia mengatakan persebaran virus corona itu bisa dilihat dari zonasi daerahnya. Kalau melihat tren di Sragen, ujar dia, cenderung imbang persebarannya dan semua itu kebijakannya ada di tangan Bupati.

“Pembatasan itu nanti pada jumlah siswa 50%, waktu tiga hari dalam sepakan, per hari untuk kelas rendah maksimal dua jam untuk kelas tinggi maksimal empat jam,” tambahnya.


Editor : Profile Jafar Sodiq Assegaf
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com



berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini