top ear
Suryanto (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Suryanto (Istimewa/Dokumen pribadi)

Kampus Hijau untuk Siapa?

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu, 19 Desember 2020. Esai ini karya Suryanto, dosen di Fakultas Ekonomi dan Kepala Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Sebelas Maret.
Diterbitkan Sabtu, 26/12/2020 - 21:15 WIB
oleh Solopos.com/Suryanto
4 menit baca

Solopos.com, SOLO — Universitas Indonesia Green Metric (UIGM) mengumumkan anugerah kampus hijau di seluruh dunia pada 8 Desember 2020. Awalnya UIGM pada 2010 hanya diikuti oleh 95 kampus dan hingga 2020 telah diikuti oleh 912 kampus di seluruh dunia.

Menarik dicermati mengapa pemeringkatan yang dilakukan oleh kampus di Indonesia diikuti dan diakui oleh dunia. Tidak bisa dimungkiri, kesadaran mengenai isu pembangunan berkelanjutan merupakan isu global dan dihadapi oleh seluruh dunia.

UIGM mengukur peringkat kampus hijau melalui implementasi prinsip-prinsip keberlanjutan, yaitu aspek penataan dan infrastruktur; energi dan perubahan iklim; air; sampah; transportasi; dan pendidikan. Dari enam aspek tersebut kemudian dibagi menjadi beberapa indikator.

Kampus di Indonesia yang memperoleh predikat kampus hijau pada 2020 ini adalah Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, dan Universitas Gadjah Mada. Universitas Sebelas Maret selama tiga tahun berturut-turut berada pada posisi ke-7 nasional dan posisi ke-99 dunia.

Ini suatu capaian yang tidak ringan di tengah capaian-capaian kampus sedunia untuk mewujudkan kampus ramah lingkungan. Sedangkan tingkat dunia peringkat pertama adalah Wageningen University di Belanda, University of Oxford di Inggris, dan Nottingham University juga di Inggris.

Selama ini persepsi kita masih sering terbatas mengenai kampus hijau. Sebagian besar memaknai pada ruang terbuka hijau, sementara yang lain sudah lebih luas dari itu. Persepsi dari mahasiswa, dosen, dan karyawan (civitas academica) kampus sering berujung pada hal yang sama.

Tidak jarang di antara mereka juga mempertanyakan eksistensi kampus hijau. Seberapa besar manfaat kampus hijau untuk mereka dan juga untuk masyarak luas, untuk kita semua. Pemaknaan kampus hijau perlu terus dibenahi dan diperbarui. Pada awalnya terbatas lima aspek, kemudian berkembang menjadi enam aspek pada 2020, bahkan pada 2021 nanti pemaknaan kampus hijau ditambah dengan aspek sosial dan ekonomi.

Sebuah tantangan baru bagi perguruan tinggi, yaitu menumbuhkembangkan bisnis yang menggunakan konsep green economy (ekonomi hijau). Mengelola ruang terbuka kampus agar bermanfaat untuk umum dan pengabdian kepada masyarakat.

Implikasi bagi Masyarakat

Pertanyaan yang mengemuka adalah apa manfaat untuk masyarakat atas keberadaan kampus hijau? Bila kita dihadapkan pada pertanyaan bagaimana kontribusi kampus untuk menurunkan emisi karbon atau polusi di suatu kota, tentu kontribusi kampus hijau tidak terlalu signifikan.

Pencapaian kampus hijau dapat menjadi gerakan awal untuk memulai hidup yang lebih ramah lingkungan. Kampus hijau dalam aspek penataan dan infrastruktur adalah pelajaran bagi pengelola kampus untuk mewujudkan kampus yang hijau dalam arti  sebenarnya.

Kampus harus menyediakan ruang terbuka hijau yang memadai untuk civitas academica. Kampus harus memastikan sistem drainase dapat berfungsi untuk mengurangi dampak negatif. Inisiatif penyediaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau telah diadopsi juga oleh pemerintah daerah dan menjadi sasaran program pembangunan.

Pemerintah daerah menargetkan minimal 30% kawasan adalah ruang terbuka hijau dalam dokumen perencanaan pembangunan sesuai UU No. 26/2007. Kampus hijau juga mengisyaratkan pemanfaatan energi semestinya adalah energi ramah lingkungan.

Inisiasi untuk memanfaatkan listrik bertenaga angin atau surya adalah contoh pemanfaatan energi ramah lingkungan. Implementasi penggunaan energi alternatif harus digalakkan di tengah masyarakat, misalnya mobil listrik, mobil bertenaga surya, dan lain-lain.

Aspek pengelolaan air menghendaki kampus mampu mengurangi penggunaan air bersih. Kampus mendapat apresiasi bila mampu melakukan konservasi air dan semakin banyak memanfaatkan air daur ulang. Masjid kampus sering dijadikan indikator pemanfaatan air daur ulang.

Contoh implementasinya bisa kita perhatikan bangunan publik di sekitar kita, misalnya masjid dan hotel. Berapa banyak jemaah yang berwudu dengan menggunakan air per hari? Berapa banyak yang bisa dimanfaatkan dari sisa air wudu? Bisakah dimanfaatkan untuk flush toilet? Bisakah untuk menyiram tanaman? Atau, bisakah digunakan untuk memelihara ikan?

Dari aspek transportasi, kampus hijau menghendaki aksi nyata pengurangan penggunaan bahan bakar fosil atau bahan bakar yang tidak ramah lingkungan. Kampus yang menyediakan sarana transportasi rendah karbon akan diapresiasi tinggi oleh UIGM.

Bila gerakan menggunakan sarana transportasi ramah lingkungan juga dilakukan oleh lembaga lain, misalnya dimulai di lembaga pemerintahan di tingkat daerah, tentu merupakan kemajuan yang signifikan. Di Universitas Sebelas Maret setiap Jumat pada pekan pertama setiap bulan ada program menggerakkan civitas academica menggunakan sarana transportasi ramah lingkungan.

Ternyata gerakan ini diapresiasi oleh sebagian besar civitas academica Universitas Sebelas Maret. Dosen, karyawan, dan mahasiswa banyak yang bersepeda atau berjalan kaki menuju kampus. Aktivitas manusia sejauh ini tidak bisa tanpa menghasilkan sampah. Hal yang paling mungkin adalah mengurangi sampah dan mengelola sampah agar tidak menambah beban lingkungan.

Kampus hijau mendidik mahasiswa berperilaku mengurangi dan mengelola sampah. Pengurangan sampah yang tidak ramah lingkungan, misalnya plastic, dapat diberlakukan di kantin kampus. Pengelolaan sampah juga dapat diinisiasi oleh kampus dengan mendirikan bank sampah yang dikelola mahasiswa.

Gerakan ini juga dapat diimlementasikan dengan mudah ke kantin-kantin instansi pemerintah atau swasta. Dampak gerakan ini tentu akan mengurangi beban tempat pembuangan akhir sampah. dari aspek pendidikan, manfaat yang dapat diimplementasikan kepada masyarakat ada dua hal.

Pertama, kampus hijau adalah kampus yang memberikan porsi mata kuliah dan dana penelitian tinggi dengan topik lingkungan.   Pada 2021 peran kampus dalam pengabdian kepada masyarakat dengan topik lingkungan akan mendapat apresiasi yang tinggi. Kedua, sisi pendidikan dapat ditularkan ke tingkat pendidikan yang lebih rendah, misalnya ke tingkat sekolah menengah.

Sekolah dapat didorong menuju sekolah adiwiyata, yaitu sekolah yang peduli lingkungan yang sehat, bersih, serta lingkungan yang indah. Sekolah dapat bekerja sama dengan kampus hijau untuk mewujudkan hal itu. Harapan besar terletak pada kampus hijau tempat persemaian bibit-bibit intelektual dan pemimpin masa depan. Pola pikir mahasiswa terbentuk hingga mereka memasuki dunia kerja.

Sebagai gambaran, bila setiap tahun Universitas Sebelas Maret sebagai kampus hijau meluluskan 8.000 orang maka terdapat harapan besar pada para wisudawan tersebut agar mengaplikasikan cara berpikir dalam pembangunan berkelanjutan. Tentu ini juga akan memengaruhi pengambilan keputusan.

 

 

 


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya