Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Kalahkan GWK di Bali, Monumen Reog Ponorogo Dibangun Setinggi 126 Meter

Monumen Reog Ponorogo bakal dibangun dengan arsitektur yang estetik dan ketinggiannya mencapai 126 meter.
SHARE
Kalahkan GWK di Bali, Monumen Reog Ponorogo Dibangun Setinggi 126 Meter
SOLOPOS.COM - Desain Monumen Reog Ponorogo berjudul Taman Ragam Selaras yang memenangi lomba sayembara desain MRP. (Istimewa/Pemkab Ponorogo)

Solopos.com, PONOROGO — Monumen Reog Ponorogo yang bakal dibangun di atas perbukitan kapur Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, memiliki tinggi 126 meter. Monumen Reog ini digadang-gadang akan mengalahkan ketinggian Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali yang memiliki ketinggian 121 meter.

Saat ini progres pembangunan Monumen Reog Ponorogo (MRP) baru penentuan desain bangunan monumen tersebut. Pemkab Ponorogo mengumumkan pemenang sayembara desain MRP pada Sabtu (24/9/2022).

PromosiTokopedia Card Jadi Kartu Kredit Terbaik Versi The Asian Banker Awards 2022

Dalam sayembara itu, Pemkab memberikan total hadiah yang cukup fantastis yakni Rp175 juta. Pemenang pertama dengan judul karya Taman Ragam Selaras dengan mendapatkan hadiah senilai Rp100 juta. Pemenang kedua dengan judul karya Pelataran Reog dengan hadiah senilai Rp40 juta. Sedangkan pememang ketiga dengan judul karya Reog Agung, Ponorogo Cultural Heritage dengan hadiah senilai Rp25 juta. Dan dua pemenang harapan dengan hadiah masing-masing Rp5 juta.

Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, mengatakan sayembara desain ini bertujuan menjadikan MRP yang akan berdiri di atas perkubitan kapur kawasan Sampung menjadi karya arsitektur ikonik. Lima desain terbaik tersebut terpilih dari 61 peserta lomba rancang bangun monumen setinggi 126 meter.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Beruntun di Tol Malang-Pandaan, Sopir Bus Restu Meninggal

“Kelima karya peserta yang semuanya bekerja secara tim bersaing ketat untuk memenangi sayembara berhadiah total Rp175 juta itu,” kata Sugiri.

Dia menyampaikan lima besar desain MRP tersebut mengusung langgam arsitektur berbeda. Sugiri mengaku takjub atas desain dari para peserta.

Dewan juri yang dikomandani mantan Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur, Hari Sunarko, itu mematok syarat desain MRP harus menggambarkan barongan macan dan dadak merak. Selain itu, fasad bangunan juga wajib menandakan bentuk reog.

Selain itu, desain juga harus memperhitungkan kekuatan struktur bangunan karena berada di ketinggian bukit.

Baca Juga: Tersengat Listrik, 2 Warga Blitar Ditemukan Meninggal di Kandang Ayam

“Karena di MRP nanti ada museum, saya minta perjalanan sayembara desain ini dibukukan untuk koleksi. Menggambarkan perjalanan pembangunannya mulai dari perencanaan sampai eksekusi,” kata Sugiri.

Hari Sunarko berharap MRP bakal menjadi landmark nasional. Hal ini karena ketinggian bangunan MRP mengalahkan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bali yang hanya 121 meter. Berat GWK yang berbahan tembaga itu sekitar 754 ron.

Dewan juri, kata dia, mencermati secara detail kaidah arsitektur, ketepatan struktur, unsur budaya, dan nilai estetika.

“Kami memilih desain MRP yang berpikir tajam tentang budaya dan struktur,” jelas dia.

Baca Juga: Kronologi Kecelakaan Beruntun Maut di Madiun, Kondisi 3 Kendaraan Rusak Parah

Dari lima desain terbaik itu, ada karya yang abstraktif dan realis. Selain Hari, di deretan dewan juri juga ada arsitek kawakan asal Jogja, Eko Prawoto.

“Bagaimana orang langsung menangkap bahwa monumen tinggi menjulang itu adalah Reog Ponorogo ketika pertama kali melihat. Meskipun simbolik,” jelas Hari.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode