[x] close
Kaki Kram, Pendaki Asal Demak Digendong Turun dari Gunung Lawu
Solopos.com|soloraya

Kaki Kram, Pendaki Asal Demak Digendong Turun dari Gunung Lawu

Tim SAR gabungan dari sukarelawan Gentapala, tim SAR Karanganyar, PMI Cabang Karanganyar, dan warga setempat sebanyak 25 orang berupaya mengevakuasi pendaki Gunung Lawu itu.

Solopos.com, KARANGANYAR -- Pendaki asal Kelurahan Betokan, Kecamatan Demak, Kabupaten Demak, Sefa, 20, mengalami kram kaki saat perjalanan turun dari mendaki Gunung Lawu melalui jalur pendakian Tambak, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, pada Minggu (11/4/2021).

Informasi yang dihimpun Solopos.com dari Tim SAR Karanganyar, Sefa mendaki Gunung Lawu bersama seorang rekannya melalui jalur pendakian Tambak. Dia mendaki pada Sabtu (10/4/2021).

Sesuai rencana, dua orang itu turun dari puncak Lawu pada Minggu. Sayangnya, saat perjalanan turun sampai pos 3 jalur pendakian Tambak, Sefa mengeluh kejang otot kaki. Dia menyampaikan kepada rekannya bahwa tidak bisa melanjutkan perjalanan turun.

Baca juga: Evaluasi Uji Coba PTM, Disdikbud Karanganyar : Sekolah, Ortu, dan Siswa Taati Aturan

Komandan Markas SAR Karanganyar, Arif Sukro Yunianto, membenarkan adanya informasi tersebut. Tim SAR gabungan dari sukarelawan Gentapala, tim SAR Karanganyar, PMI Cabang Karanganyar, dan warga setempat sebanyak 25 orang berupaya mengevakuasi survivor. Proses evakuasi dimulai pukul 16.00 WIB.

"Basecamp mendapat informasi dari pendaki lain. Ada survivor membutuhkan bantuan. SRU [search and rescue unit] satu tim reaksi cepat [TRC] naik. Lalu disusul SRU dua pukul 16.30 WIB. Relawan Gentapala meminta bantuan tim SAR Karanganyar pukul 21.00 WIB. Kami mulai evakuasi pukul 22.00 WIB. Survivor sampai basecamp pukul 01.30 WIB [Senin dini hari]," jelas Sukro, sapaan akrabnya, saat dihubungi Solopos.com pada Senin (12/4/2021).

Informasi lain menyebutkan survivor diduga sudah mengalami kejang otot kaki saat perjalanan naik Gunung Lawu pada Sabtu. Tetapi, dia memaksakan naik. Ternyata, kondisi kram kaki memburuk saat perjalanan turun. Sukro menduga pendaki itu kelelahan dan kondisi medan tidak memungkinkan.

Baca juga: Apindo Karanganyar Imbau Perusahaan Tetap Bayar THR Karyawan

Proses evakuasi, lanjut Sukro, dilakukan secara manual dari pos tiga menuju pos satu. "Dari pos tiga ke pos dua itu kami ajak jalan kaki tetapi survivor enggak mampu. Akhirnya kami gendong sampai pos satu. Dari pos satu ke basecamp itu menggunakan sepeda motor milik warga. Kebetulan jalur bisa dilewati sepeda motor," tutur dia.

Jalur Tambak Ekstrem dan Licin

Sukro menuturkan tidak ada kendala besar selama evakuasi. Tetapi, dia mengakui jalur pendakian Gunung Lawu melalui Tambak tidak semudah dua jalur lain di Kabupaten Karanganyar, yaitu Candi Ceto dan Cemara Kandang. Menurut dia, pendaki membutuhkan ekstra tenaga saat mendaki Lawu melalui jalur Tambak.

Baca juga: Ternyata Banyak Pendaki Dituntun Jalak Lawu Saat Naik Gunung

"Jalur kan lebih ekstrem, licin. Jadi memang harus hati-hati. Kalau dibanding dua jalur lain, Tambak ini lebih jauh dan belum banyak pendaki familiar. Kira-kira bisa 7 jam hingga 8 jam. Kalau Cemara Kandang 5 jam hingga 6 jam bagi yang terbiasa. Akhir pekan hanya 20 orang naik lewat Tambak," ujar dia.

Informasi yang dihimpun Solopos.com, hingga berita ini ditulis, survivor masih berada di basecamp jalur pendakian Tambak. Dia masih beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan pulang.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago