Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Kabar Duka: Tokoh Perdamaian Solo, KH Muhammad Dian Nafi' Meninggal Dunia

Tokoh perdamaian dan keberagaman Kota Solo yang juga Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muayyad Windan, Sukoharjo, KH Muhammad Dian Nafi' meninggal dunia, Sabtu (1/10/2022) malam.
SHARE
Kabar Duka: Tokoh Perdamaian Solo, KH Muhammad Dian Nafi' Meninggal Dunia
SOLOPOS.COM - KH Muhammad Dian Nafi'. (Solopos-Magdalena Naviriana Putri)

Solopos.com, SUKOHARJO – Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Muayyad Windan, Sukoharjo, KH Muhammad Dian Nafi‘, meninggal dunia di Jakarta, Sabtu (1/10/2022) malam pada pukul 19.00 WIB.

Hal itu disampaikan Ketua PC Fatayat NU Sukoharjo, Siti Muslimah, saat dihubungi Solopos.com, Sabtu malam. Dia mengatakan jenazah almarhum saat ini masih berada di Jakarta.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

“Iya betul [beliau meninggal] baru saja kemungkinan sekitar pukul 19.00 WIB. Kami mendapat informasi dari Jakarta. Posisi [K.H. Dian Nafi’] Masih di Jakarta,” terang Siti melalui pesan WhatsApp.

Meski demikian dia belum mengetahui jenazah akan dipulangkan kapan mengingat saat ini, almarhum Masih berada di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta sejak 14 September 2022 lalu.

Sebelumnya almarhum juga sempat dirawat di RS Moewardi, Solo sebelum dirawat di Jakarta.

Baca juga: Mengenal Lebih Dekat KH Muhammad Dian Nafi, Ketua RMI PBNU

Profil KH Muhammad Dian Nafi’

Dilansir dari nu.or.id, Gus Dian Nafi’ lahir di Sragen pada 4 April 1964. Ia adalah anak ketiga dari delapan bersaudara.

Gus Dian Nafi’ merupakan tokoh perdamaian, tokoh keberagaman, dan forum lintas agama. Mendiang juga aktif mengisi mimbar Jumat Harian Solopos.

Pertemuannya dengan beberapa tokoh rekonsiliasi kemudian membawanya bergabung dalam Tim Independen Rekonsiliasi Ambon (TIRA), Tim Pemberdayaan Masyarakat Pasca-Konflik (TPMPK) Maluku Utara, dan lembaga-lembaga lainnya.

Sebut saja Pusat Studi Keamanan dan Perdamaian (PSKP) Universitas Gadjahmada, Pusat Studi dan Pengembangan Perdamaian (PSPP) Yogyakarta, Pusat Pemberdayaan untuk Rekonsiliasi dan Perdamaian (PPRP) Jakarta, Crisis Centre Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Common Ground Indonesia, dan sebagainya.

Masih berdasarkan nu.or.id, pertemuan dan pendidikan yang diikuti di luar negeri adalah Disaster Management Training di Africa University Zimbabwe, Education in Religion for Communitiy Consultation di Agia Napa, Siprus (2001), Asia Africa People Forum di Kolombo (2003), Indonesia Pesantren Program di Amherst, Massachusetts, USA (2003), dan Summer Peace Building Institute di Harrisonburg, Virginia, USA (2005).

Baca juga: Catat! Ini Hari Khusus Malaikat Setor Laporan Amal Manusia

Ketua RMI PBNU

Sebelumnya, pada Maret lalu KH Muhammad Dian Nafi’ baru saja dilantik menjadi Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Rabu (23/3/2022). RMI NU adalah lembaga NU dengan basis utama ponpes yang mencapai lebih dari 26.000 ponpes di seluruh Indonesia.

Saat ditemui Solopos.com usai menggelar sajadah untuk para santrinya di Ponpes Al-Muayyad, Windan, Gumpang, Kartasura, Sukoharjo, Senin (4/4/2022), pria yang menyabet gelar Magister Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta itu menyatakan memiliki sudut pandang terkait fokus pondok pesantren

Sudut pandang tersebut di antaranya pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan yang secara tidak langsung telah dia terapkan sejak kecil.

“Dari tiga fokus pondok pesantren, program pokok RMI menyasar dua kelompok besar. Pondok pesantren dan madrasah diniyah yang tidak formal,” jelas anak ketiga dari delapan bersaudara itu.

Baca juga: Jelang 100 Tahun Nahdlatul Ulama Menurut Dian Nafi

Sebagai Ketua RMI, Dian Nafi menyoroti dua lembaga itu sudah berdiri jauh sebelum proklamasi kemerdekaan dan menjadi lembaga asli Bangsa Indonesia.

“Masyarakat muslim sudah sejak lama mendapatkan edukasi tentang kebangsaan melalui dua lembaga itu, maka lagu Yaa Lal Wathan dimulai awal Abad ke-20. Tahun 1936 sudah sangat terkenal lagu ini, isinya mengenal wawasan kebangsaan dan cinta Tanah Air,” jelas pria kelahiran 4 April 1964 itu.

Lebih lanjut, Dian Nafi’ mengatakan para kiai dan alumni pondok pesantren pada zaman dulu berusaha mengembalikan budi pekerti yang rusak akibat penjajahan yang terjadi di Indonesia melalui pesantren-pesantren yang didirikan di desa-desa.

“Awalnya pondok pesantren memang berdirinya di desa-desa, untuk kota yang ada pondok pesantrennya itu beruntung. Seperti Solo, di sini [Sukoharjo] beruntung pondok pesantren ada di tengah kota,” jelas lelaki yang juga lulusan FISIP UNS Solo itu.

Baca juga: Mengelola Kesibukan Menurut KH Dian Nafi`

Dia mengatakan kehadiran pondok pesantren yang berada di tengah kota itu merupakan salah satu bentuk dukungan dari Keraton Kasunanan Surakarta pada masa itu.

Menurutnya, Keraton kemudian membentuk Pondok Pesantren Mambaul Ulum dalam rangka memenuhi kebutuhan umat Islam, yang pada saat itu masih dalam suasana penjajahan Belanda, sehingga kesulitan mencari tempat untuk mempelajari ajaran agama Islam.

Hingga saat ini, menurut dia, RMI sebagai lembaga yang menaungi pondok pesantren di bawah naungan NU belum sepenuhnya memiliki RMI di 34 provinsi di Indonesia. “Belum semua provinsi membentuk RMI, dari 34 provinsi hanya 22 yang baru memiliki pengurus wilayah Rabithah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (PW RMI NU),” jelasnya.

Bicara tentang keaktifannya di organisasi NU, Dian Nafi’ yang sejak kecil telah menggeluti dunia pesantren mengaku sudah aktif mengikuti NU sejak 1989. Kala itu, dia menjadi Wakil Sekretaris NU cabang Kota Solo.

Baca juga: Pandangan Dian Nafi Soal Perubahan Tanpa Komunikasi

Dian Nafi’ membeberkan semasa kuliah dirinya aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), hingga berselang dua tahun kemudian masuk di GP Ansor. Setelah menjalani satu periode di GP Ansor, dia diminta menjadi Wakil Sekretaris NU di Solo.

“Kalau dihitung sejak IPNU [Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama] berarti sudah sejak saat SD masuk NU-nya,” terangnya sembari tertawa.

Pada 2015, Dian Nafi’ terlibat dalam Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah sebagai Wakil Rais Syuriah. Sebelum masa jabatannya berakhir dia diminta menjabat sebagai Ketua RMI PBNU.

Dikutip dari laman nu.or.id, Pengurus RMI PBNU masa khidmah 2022-2027 resmi dikukuhkan oleh Katib Aam PBNU KH Akhmad Said Asrori. Pengukuhan ini berlangsung di Aula Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), Cipakat, Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (24/3/2022) malam.

Baca juga: Mengenal Konsep Bakat dan Kemakmuran dari Dian Nafi`

Pengurus RMI PBNU disahkan melalui Surat Keputusan Nomor: 43/A.II.04/03/2022 dan ditandatangani oleh Rais Aam KH Miftachul Akhyar, Katib Aam KH Akhmad Said Asrori, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, dan Sekretaris Jenderal PBNU H Saifullah Yusuf pada Rabu (23/3/2022).

RMINU, sebagaimana termaktub dalam Bab V Pasal 17 Ayat 6 Anggaran Rumah Tangga PBNU, bertugas melaksanakan kebijakan Nahdlatul Ulama di bidang pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan.




Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode