Jumlah Petani Milenial di Wonogiri Ternyata Masih Minim, Alasannya?

Jumlah petani milenial yang terdaftar pada Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Wonogiri mencapai 702 orang.
SHARE
Jumlah Petani Milenial di Wonogiri Ternyata Masih Minim, Alasannya?
SOLOPOS.COM - Ilustrasi petani milenial (Freepik)

Solopos.com, WONOGIRI — Jumlah petani milenial yang terdaftar pada Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Wonogiri mencapai 702 orang. Jumlah tersebut dianggap masih sangat sedikit dibandingkan jumlah keseluruhan petani Wonogiri yang mencapai sekitar 172.000 orang.

Berdasarkan data Badan Pusat Satitistik (BPS) Wonogiri pada 2020, persentase penduduk Wonogiri yang bekerja pada sektor pertanian sebesar 43,49%. Sektor pertanian menjadi paling banyak digeluti masyarakat Wonogiri, disusul sektor perdagangan, rumah makan, dan jasa (sebesar 23,37%).

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

Data investasi Kabupaten Wonogiri pada triwulan I 2022 menunjukan sektor pertanian menempati urutan pertama dalam usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), yaitu sebanyak 2.198 investor. Kemudian disusul sektor perdagangan eceran makanan sebanyak 1286 investor.

Surat untuk Bunda Selvi Gibran

Urutan ketiga, sektor peternakan sapi potong sebanyak 900 investor. Sektor perdagangan eceran hewan ternak menempati urutan keempat dengan jumlah investor sebanyak 856. Urutan kelima ditempati sektor usaha rumah atau warung makan, yakni sebanyak 843 investor.

Kepala DPP Wonogiri, Baroto Eko Pujanto, mengatakan jumlah 702 petani muda bukan jumlah mutlak karena sangat mungkin ada petani milenial yang belum terdaftar. Jumlah itu pun masih dapat bertambah seiring berjalannya waktu.

Baca Juga: Petani Milinel Hanya 11,6 Persen, Pemerintah Berikan Berbagai Stimulus

“Kami menargetkan ada 1.000 petani milenial di tahun 2023. Kami masih terus mengampanyekan kepada anak-anak milenial agar mau terjun ke dunia pertanian. Mereka kami perlihatkan petani-petani muda yang sukses. Tujuannya agar terpacu mengikuti jejak petani muda yang sukses itu,” kata Baroto saat ditemui Solopos.com, Selasa (24/5/2022) siang.

DPP Wonogiri juga masih terus memberikan penyuluhan di kecamatan-kecamatan melalui balai penyuluh pertanian (BPP). Mereka bertugas mendampingi dan memberikan pelatihan-pelatihan kepada petani. Termasuk menyosialisasikan pertanian kepada anak-anak muda milenial.

DPP Wonogiri akan membentuk asosiasi petani di tiap-tiap kecamatan. Hal itu agar petani memiliki wadah untuk berkumpul, berbagi, dan saling belajar.

Mereka juga bisa bekerja sama menjaga kualitas dan harga produk pertanian. Harapannya dengan ada asosiasi banyak anak-anak muda yang akan bergabung menjadi petani. Sebab mereka bisa belajar melalui asosiasi petani tersebut.

Baca Juga: Waduh! Pemuda Wonogiri Emoh Jadi Petani

“Kami sudah punya rencana dan daftar petani. Tahun ini kami tergetkan sudah selesai terbentuk [asosiasi petani]. Kami juga akan membuat pasar pertanian. Tujuannya untuk menjual hasil-hasil pertanian lokal dan memamerkan kepada masyarakat khususnya anak muda agar mereka tertarik bertani,” ujar dia.

Upaya memamerkan kesuksesan petani milenial yang telah sukses dinilai efektif menumbuhkan petani muda. Sebab karakter anak muda sekarang harus diberikan bukti terlebih dahulu baru kemudian bersedia mengikuti.

Sukses

Baroto mencontohkan salah satu petani muda sukses di Desa Jimbar, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Siswanto. Menurutnya, Siswanto menjadi contoh baik di kalangan petani milenial.

Dengan keuletan dan kesuksesannya, ia bisa mengajak dan menularkan dunia pertanian kepada anak-anak muda di Pracimantoro. Ia bahkan membentuk kelompok tani milenial yang beranggotakan sekitar 30 orang.

Baca Juga: Agrowisata Tani Manunggal Selogiri Wonogiri Ajak Anak Muda Bertani

“Di samping itu, kami tetap terus memberikan pendampingan dan pelatihan kepada mereka. Kalau ada pelatihan [dari kementerian], mereka kami ikut sertakan,” ucap Baroto.

Modal

Petani milenial asal Pracimantoro, Siswanto, 37, mengatakan mengatakan menjadi seorang petani muda tidak bisa hanya bermodal niat. Petani muda harus tangguh, sabar, ulet, dan harus memahami dunia pertanian (mulai dari pembibitan sampai pemasaran).

“Semua itu harus dikuasai. Kalau tidak pasti akan mudah menyerah. Teman saya banyak yang sekali gagal kemudian tidak bertani lagi. Ada juga yang gagal kemudian merantau. Tapi kembali dan menanam lagi. Pokoknya harus ulet,” jelas dia

Tantangan lain sebagai petani muda, yaitu harus memahami bidang pemasaran. Hal itu penting agar petani tak mudah dipermainkan pasar atau tengkulak.

Baca Juga: Pemdes Jatisari Wonogiri Kembangkan Pusat Studi Porang dan Agrowisata

“Itu juga yang menjadi penghambat mengapa masih sedikit petani muda di Wonogiri ,” jelas dia.

Minim

Siswanto mengatakan pendampingan dan pelatihan dari pemerintah masih sangat minim dan tidak optimal. Pelatihan yang diberikan hanya mencakup di permukaan. Pelatihan tersebut tidak sampai kepada praktik di lapangan.

“Mohon maaf, bukan saya mau menjelekkan [pemerintah]. Mereka mendampingi tapi hanya satu kali. Seakan hanya untuk mengisi surat pertanggungjawaban (SPj). Setelah sekali ada pendampingan, mereka menghilang. Jadi programnya tidak berkelanjutan. Sehingga petani harus benar-benar mandiri, mandiri, dan mandiri,” kata Siswanto.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago