Kategori: Sragen

Jauh & Perjalanan Lama, Ongkos Bantuan Air Bersih ke Gilirejo Baru Sragen Jadi Lebih Mahal


Solopos.com/Muh Khodiq Duhri,

Solopos.com, SRAGEN — Gilirejo Baru merupakan desa paling terpencil di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Meski hanya berjarak sekitar 35 km dari Kota Sragen, desa yang tengah mengalami krisis air bersih itu harus ditempuh dalam waktu 2,5 jam menggunakan sepeda motor.

Desa yang diapit Waduk Kedung Ombo (WKO) dan hutan milik Perhutani ini hanya bisa dijangkau melalui jalur Sragen-Gemolong-Kacangan (Boyolali)-Gilirejo Baru. Permukaan jalan menuju Desa Gilirejo Baru yang masuk wilayah Kemusu dan Andong Boyolali kebanyakan masih berupa bebatuan.

Aspal jalan yang pernah ada sudah mengelupas seiring berjalannya waktu. Sebagian permukaan jalan berupa tanah cadas yang bergelombang. Beberapa kendaraan roda empat biasa kesulitan melintasi jalan itu.

Jumlah Sekolah di Klaten Gelar Pembelajaran Tatap Muka akan Ditambah Tapi Tunggu Ini

Mereka harus melambatkan laju kendaraan karena rusaknya medan jalan. Pengguna jalan kerap dibuat kaget dengan suara benturan antara bagian bawah kendaraan dengan permukaan jalan yang bergelombang.

Sumur Mengering

Meski berada di pesisir WKO, warga Desa Gilirejo Baru Sragen sulit mendapatkan air bersih. Hal itu dipicu sumur-sumur warga sekitar yang mengering seiring datangnya musim kemarau pada tahun ini.

Warga setempat hanya bisa memanfaatkan air waduk untuk keperluan mandi, mencuci, dan memenuhi pakan ternak. Mereka biasa mengambil air dari waduk dengan menggunakan jeriken.

"Warga tidak berani memakai air dari waduk untuk dikonsumsi sendiri. Kalau untuk mandi, mencuci dan pakan ternak masih bisa," terang Sekretaris Desa (Sekdes) Gilirejo Baru, Jumiko, kepada Solopos.com, Senin (26/10/2020).

Desa terpencil dengan penduduk 3.600 jiwa itu mengalami krisis air sejak Mei lalu. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sragen biasa mengirimkan bantuan dua tangki air bersih dalam 2-3 hari. Sementara bantuan air dari pihak swasta datangnya tidak menentu.

"Dari bantuan air yang sudah ada, sebetulnya juga masih kurang mengingat jumlah warga kami itu ada sekitar 3.600 jiwa yang terbagi sekitar 1.000 KK," terang Jumiko.

Mahal

Kondisi medan jalan yang terjal dengan jarak yang cukup jauh membuat para sopir harus bekerja ekstra keras untuk membawa air bersih itu sampai kepada warga.

Karena masalah itulah, harga air bersih yang dibeli donatur untuk disalurkan kepada warga di Desa Gilirejo Baru Sragen bisa lebih mahal. Bahkan, selisih harga air bisa naik hingga 100% dari harga air yang disalurkan melalui BPBD Sragen.

"Pendistribusian air bersih ke Desa Gilirejo Baru melalui BPBD cuma Rp350.000 [per tangki dengan kapasitas 5.000 liter air]. Kalau lewat swasta [donatur], kurang lebih Rp800.000," papar anggota Satgas Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Sragen, Joko Ari Atmojo.

Share
Dipublikasikan oleh
Ginanjar Saputra