Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Jangan Disepelekan! Skoliosis Bisa Mengganggu Aktivitas Sehari-hari

Hati-hati, skoliosis dengan kemiringan seperti ini bisa menimbulkan bahaya yang menganggu kesehatan paru-paru! Dilengkapi gejala skoliosis.
SHARE
Jangan Disepelekan! Skoliosis Bisa Mengganggu Aktivitas Sehari-hari
SOLOPOS.COM - Ilustrasi nyeri punggung. (Freepik)

Solopos.com, SOLO -- Skoliosis yang tidak ditangani dengan tepat dan cepat bisa menimbulkan bahaya pada kesehatan paru-paru.

Penyakit yang ditandai dengan kelainan tulang belakang yang melengkung ke arah samping membentuk huruf S atau C ini bisa dialami oleh anak-anak hingga lansia.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Akan tetapi, pada umumnya skoliosis lebih banyak terjadi pada anak-anak di masa pubertas. Seperti yang diungkapkan Dokter Spesialis Ortopedi RSUD Dr. Moewardi Solo, dr. Rieva Ermawan, Sp. OT (K).

Baca Juga: 5 Artis yang Suka Nonton Ikatan Cinta, Ada yang Rela Nyamperin ke Lokasi Syuting

Penyebab skoliosis sendiri dibedakan menjadi empat, yakni genetik dan juga kelainan sendi atau otot yang dialami bertahun-tahun (neuromuscular), kelainan postural dan juga Idiopatic atau tidak diketahui penyebabnya.

"Yang paling sering itu memang pada anak-anak. Pada usia pubertas menjelang menstruasi. Tapi tidak menutup kemungkinan di luar itu, seperti penderita oesteoporis," terang dia ketika dihubungi Solopos.com pada Jumat (19/3/2021).

Baca Juga: 5 Spot Foto Instragamable di Solo, Nomor 3 Lagi Ngehits Banget!

Selain anak-anak, skoliosis juga bisa muncul di usia tua karena sendi-sendi di tulang belakang tidak seimbang dan terdapat kelainan lain, seperti halnya saraf kejepit.

Rieva menjelaskan skoliosis yang bisa bahaya untuk kesehatan paru-paru jika kemiringannya lebih dari 60 hingga 70 persen persen. "Jika sudutnya besar lebih 60 hingga 70 derajat berdampak pada organ paru-paru dan otot-ototnya jadi tidak seimbang," beber dia.

Baca Juga:  Akui Sekarang Berkarisma, Aprilio Perkasa Manganang Punya Pacar?

Untuk penanganan skoliosis dengan kemiringan 60 persen yang bahaya untuk kesehatan paru-paru ini harus dilakukan tindakan medis operasi. Namun, jika tingkat kemiringan 20-40 persen tidak diperlukan tindakan medis yang serius, cukup menggunakan korset selama 22 jam.

"Tidak selalu harus dioperasi jika sudut kemiringannya 10 sampai 20 derajat kita tidak lakukan apa-apa. Kalau lebih dari 20 derajat kita gunakan korset dipakai 22 jam sehari sisanya untuk mandi. Dan atau lebih dari 40 derajat harus dilakukan operasi," kata pria yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini.

Baca Juga: Hati-hati! 5 Pola Asuh Seperti Ini Bisa Jadi Penyebab Anak Keras Kepala

Meski bisa menimbulkan bahaya untuk kesehatan paru-paru, sebetulnya skoliosis ini bukan merupakan penyakit yang tidak akut dan tak menganggu kenyamanan dalam beraktivitas sehari-hari.

"Sebetulnya skoliosis tidak bersifat akut atau saat itu. Artinya, ini sesuatu yang sudah terjadi lama. Biasanya keluhan-keluhan itu tidak terlalu menganggu tapi ketika dilihat orang lain dirasa menganggu kok bengkok. Kemudian, ada rasa enggak enak ya kok ngilu ya," jelas dia.

Baca Juga:  Jangan Main-main! Segini Besaran Denda Tilang Elektronik, Paling Mahal Rp750.000

Gejala Skoliosis

Dalam kesempatan itu pula, ia menyampaikan beberapa gejala dari skoliosis. Berikut ini di antaranya.

  1. Bahu miring
  2. Pinggang kiri dan kanan tidak sejajar
  3. Satu pinggul lebih tinggi dari pinggul lain
  4. .Adanya tonjolan tulang belikat pada satu sisi tubuh
  5. Satu kaki memiliki panjang yang berbeda
  6. Posisi kepala tidak berada tepat di tengah pundak
  7. Nyeri punggung, kesemutan, dan mati rasa

Baca Juga:  Bagaimana Cara Mengurus Tilang Elektronik di Solo dan Bayar Dendanya?

Rieva menambahkan skoliosis yang disebabkan idiopatik, genetik maupun penyakit kelainan saraf tidak bisa dicegah.

Akan tetapi, skoliosis yang dikarenakan usia tua bisa dicegah dengan melatih kebiasaan postur tubuh tegap.  Dan untuk pasien osteoporosis pada orang tua, skoliosis bisa dihindari dengan meningkatkan asupan kalsium dan vitamin D pada makanan, seperti sayuran hijau, ikan, telur, daging merah serta susu dan yogurt yang difortifikasi dengan vitamin.

Baca Juga:  Gejala Hipospadia: Ukuran Mr P Berbeda Hingga Lubang Kencing di Bawah

Bila ingin konsultasi lebih lanjut mengenai kesehatan tulang belakang Anda, bisa datang ke Bedah Orthopaedi RSUD Dr. Moewardi Solo atau bisa konsultasi video call melalui Telekonsul dengan dokter spesialis pilihan Anda melalui nomor 081 1267 1881.

Artikel ini hasil kerja sama RSUD Dr. Moewardi Solo dengan Bank Jateng. 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode