Jangan Bertanya Mengapa

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu 7 Juli 2021. Esai ini karya Ayu Primadini, guru di Jakarta Selatan dan warga komunitas Mbokmbokan Malem Minggu.
Jangan Bertanya Mengapa

Solopos.com, SOLO — Masih terekam jelas dalam benak saya saat-saat duduk di bangku TK dan SD. Saya menjadi seorang anak yang suka bertanya. Bagi saya, dunia penuh misteri. Seharusnya ada jawaban atas semua misteri itu. Saya juga ingin tahu mengapa segala sesuatu terjadi atau mengapa kita harus melakukan sesuatu.

Pertanyaan-pertanyaan sering saya lontarkan kepada orang dewasa di sekitar saya. Mengapa kita harus makan terus? Mengapa Tuhan menciptakan Planet Bumi? Mengapa harus ke sekolah setiap hari? Mengapa agamaku sama seperti ayah dan ibu? Sayangnya, pertanyaan demi pertanyaan itu biasanya tidak mendapatkan tanggapan dan jawaban yang baik.

Ayah, ibu, paman, dan bibi lebih sering menertawai pertanyaan-pertanyaan itu. Guru agama dan guru di sekolah lebih suka saya bungkam dibanding bertanya. Biasanya mereka akan menjawab seadanya dan menyudahi pembicaraan, bahkan melarang bertanya. Teman-teman sekelas sama saja. Pertanyaan dari salah satu murid biasanya akan membuat jam pelajaran bertambah lama.

Jadilah jika saya bertanya teman-teman akan memandang penuh harap supaya saya jangan melanjutkan pertanyaan itu. Terpaksa pertanyaan-pertanyaan itu saya pendam. Kini, setelah dewasa dan berprofesi sebagai guru, saya bertekad meladeni segala pertanyaan murid-murid saya. Saya bahagia jika murid-murid kecil saya bertanya.

Setiap saya mempersilakan mereka bertanya umumnya mereka diam. Tak ada yang berani bertanya. Akhirnya, demi menciptakan iklim diskusi dua arah dalam kelas, saya yang mengajukan pertanyaan kepada mereka. Dengan mudah biasanya mereka menjawab pertanyaan yang jawabannya ya atau tidak. Beberapa contoh pertanyaan: Apakah kamu suka es krim? Apakah kamu memiliki kakak dan adik? Apa sekolahmu menyenangkan?

Saya mendapati pertanyaan semacam itu tidak efektif dalam membuat murid berbicara. Saya lantas menggantinya dengan pertanyaan terbuka: Makanan apa yang paling kamu sukai? Mereka cenderung mudah menjawab hal tersebut. Saya seperti memiliki tanggapan otomatis untuk memberikan pertanyaan lanjutan: Mengapa kamu suka makanan itu?

Murid saya biasanya akan terdiam, padahal sebenarnya saya hanya ingin agar mereka menyadari motif mereka menyukai sesuatu. Faktanya mereka sering tak tahu apa sebabnya. Jawaban klasik mereka biasanya ”tidak tahu” atau ”suka saja”. Saya mencoba menciptakan alur diskusi dua arah pada murid-murid yang sudah dewasa di ruang pendidikan yang lain. Banyak dari mereka yang mahasiswa, pekerja kantoran, orang tua, dan semacamnya.

Ketika sampai pada pertanyaan mengapa, mereka juga kerap terdiam. Mengapa bekerja sebagai akuntan? Ya, karena dulu kuliah akuntansi. Mengapa dulu kuliah akuntansi? Saya menjadi curiga, jangan-jangan karena dulu saat sekolah terbiasa dibungkam, tak boleh bertanya, maka saat dewasa juga jadi tak bisa menjawab pertanyaan yang agak berat.

Beberapa murid saya dengan jujur mengatakan pertanyaan ”mengapa” yang saya ajukan itu berat. Pertanyaan itu membuat mereka harus berpikir mendalam, sesuatu yang tak biasa mereka lakukan. Murid-murid di sekolah, terutama zaman dahulu, sering hanya duduk diam menerima pelajaran. Fakta-fakta yang disajikan tak menarik untuk ditelaah.

Jadilah mereka, termasuk saya, hanya menghafalkan fakta-fakta tersebut tanpa tahu alasan-alasan di baliknya. Pengetahuan hanya dikejar demi nilai-nilai ujian dan selembar ijazah. Akibatnya, setelah lulus ujian banyak pengetahuan itu yang menguap begitu saja. Hari demi hari kembali dilalui dengan hanya mengikuti apa saja tanpa tahu alasan di baliknya.

Jika sedang musim baju ala artis tertentu, berbondong-bondong orang akan mengikutinya. Jika seleb Instagram mempromosikan obat pelangsing, segera saja banyak yang mencoba. Jika katanya menjadi youtuber menghasilkan uang, banyak anak bercita-cita jadi youtuber. Kalau ditanya mengapa mereka melakukan itu atau ingin menjadi itu, mereka tak tahu jawabannya.

Salah satu kutipan Friedrich Nietzsche yang terkenal dan sering saya jadikan pegangan dalam bertanya adalah he who has a why to live for can bear almost any how. Ia yang memiliki alasan untuk hidup (mengapa), akan mampu mengatasi segala masalah teknis (bagaimana). Sebagai seorang guru, saya merasa penting membantu murid-murid saya menjawab pertanyaan ”mengapa”.

Sayangnya pertanyaan tersebut kerap berujung buntu. Alih-alih membantu, saya sering membuat mereka terdiam dan merasa bodoh karena tidak bisa menjawab. Pertanyaan ”mengapa” juga acap menghiasi keseharian kita. Seperti saat Yuni Shara berbuat kesalahan kepada kekasihnya, ia mempertanyakan dengan suara yang memelas:  Mengapa tidakkah kau maafkan?/ Mengapa kubertanya?/ Mengapa tiada maaf darimu?/ Kutahu pasti hatimu padaku.

Sering karena merasa jengkel hingga di ubun-ubun, kita memang sulit memaafkan orang lain. Saat ditanya, mengapa tiada maaf, kita kebingungan menjawabnya. Kita malu mengakui ego kita begitu besar untuk memaafkan. Biasanya juga kita gengsi untuk memaafkan, ingin dibujuk dengan lebih manis agar cinta sang pasangan semakin tampak. Sayangnya, lagi-lagi, gengsi itu terlalu tinggi untuk diakui.

Pertanyaan ”mengapa” seharusnya menjadi landasan memilih banyak hal. Sebagai ibu rumah tangga, misalnya, butuh menjawab pertanyaan mengapa kita menyajikan suatu menu kepada keluarga kita, mengapa memilih berkarier di luar atau di dalam rumah, mengapa melarang anak melakukan sesuatu, atau bahkan sesederhana mengapa memilih belanja di pasar swalayan dibanding pasar tradisonal, dan mengapa memilih merek sabun A, bukan merek B.

Pertanyaan Mengejutkan

Yang jelas, jawaban dari pertanyaan ”mengapa” memang tak bisa sekadar asal menjawab. Membutuhkan refleksi panjang yang mengaitkan visi hidup dan langkah-langkah harian. Pastor Chip Ingram dalam seri broadcast Rebuilding Your Broken World menjelaskan pertanyaan ”mengapa” biasanya menyakitkan karena harus menyentuh relung terdalam diri seseorang.

Bagi mereka yang tak terbiasa, pertanyaan ini biasanya cenderung membuat orang asal menjawab atau malah menuding orang lain. Mengapa saya yang mengalami nasib seperti ini? Mengapa Tuhan memberi saya penyakit ini? Sebagai ganti dari pertanyaan mengapa, Ingram mengatakan kita bisa menggunakan pertanyaan ”apa” atau what.

Apa yang bisa dipelajari dari kejadian ini? Apa yang sebenarnya aku takuti? Apa yang bisa dilakukan untuk membuat keadaan lebih baik? Psikolog Garry Wood mengemukakan pernyataan serupa. ”Mengapa” merupakan pertanyaan abstrak, filosofis, dan berorientasi pada masa lalu. Pertanyaan ini baik untuk memulai pembicaraan filosofis, tapi tak semua kondisi bisa menjadi diskusi filosofis.

Senada dengan Ingram, Wood menganggap pertanyaan what atau how come akan lebih efektif untuk membantu seseorang menemukan alasan alih-alih langsung bertanya ”mengapa”. Apa yang membuatmu tertarik pada hal ini? Apa yang membuatmu mengambil kesimpulan tersebut? Orang tua juga biasanya kerap kali menanyai anaknya dengan mengapa: Mengapa kamu melakukan itu? Mengapa kamu membuat ibu sedih? Mengapa kamu membolos sekolah?

Pertanyaan itu sepertinya secara otomatis keluar dari mulut orang tua saat merasa kecewa dengan anaknya. Biasanya anak-anak merasa kesulitan menjawab pertanyaan itu. Anak justru akan membuat kondisi semakin memburuk.  Seperti kisah Ned Flemming dalam film Why Him (2016), yang mendapati anak gadisnya yang cantik dan cerdas, Stephanie, memilih pacaran dengan lelaki urakan yang usianya terpaut 10 tahun dengannya.

Laki-laki itu juga kasar kata-katanya dan badannya penuh tato. Sang ayah yang tak suka anaknya berpacaran dengan lelaki seperti itu bertanya, ”You could date anyone, but why him?” Kau bisa berpacaran dengan siapa pun, tapi mengapa dengan dia? Mendapat pertanyaan seperti itu, Stephanie memutar bola matanya dan hanya menjawab dengan mengatakan ia mencintai lelaki itu.

Rasanya cinta saja memang tidak masuk akal untuk menjalin hubungan. Cinta bisa berubah seiring waktu dan perubahan-perubahan yang terus terjadi, sehingga sang ayah mengubah pertanyaan menjadi,”What do you like from him?” Apa yang kau suka dari dirinya? Dengan pertanyaan itu Stephanie merasa lebih bisa menjawab. Sembari menarik napas panjang ia mengatakan lelaki itu mengingatkannya pada sang ayah.

Tentu saja sang ayah terkejut. Bagaimana mungkin lelaki urakan seperti itu dibilang mirip dirinya? Dengan jawaban itu, sang ayah jadi memiliki keinginan untuk mengenal lelaki itu lebih dalam. ”Mengapa” akhirnya menjadi pertanyaan yang mengejutkan. Jawabannya juga menjadikan orang terkejut, yang selanjutnya ingin memahami pelan-pelan setelah reaksi marah dan tak percaya.

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago