Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi Kota Solo

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin, 17 Mei 2021. esai ini karya Anton A. Setyawan, guru besar Ilmu Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Jalan Panjang Pemulihan Ekonomi Kota Solo

Solopos.com, SOLO -- Pemerintah Indonesia menjadikan tahun 2021 sebagai tahun pemulihan ekonomi. Tahun ini menjadi tonggak awal untuk meraih pertumbuhan ekonomi positif setelah pandemi Covid-19 memukul perekonomian nasional sejak awal tahun 2020 lalu.

Pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2020 tercatat -2,07%. Kontraksi ini disebabkan pembatasan sosial yang berdampak pada aktivitas bisnis di Indonesia. Dalam konteks perekonomian daerah Kota Solo mengalami kondisi yang sama karena perekonomian di kawasan ini juga mengalami kontraksi.

Pada tahun 2020 perekonomia Kota Solo mengalami pertumbuhan -1,74%. Angka ini lebih baik dibandingkan pertumbuhan ekonomi Provinsi Jawa Tengah yang terkontraksi -2,65%. Indikator makro ekonomi lain yang juga memburuk adalah angka pengangguran dan kemiskinan di Kota Solo.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, secara nasional ada tiga sektor perekonomian yang mengalami penurunan drastis karena pandemi Covid-19. Sektor-sektor tersebut adalah transportasi dan pergudangan, akomodasi dan penyediaan makan minum serta perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan motor.

Perekonomian Kota Solo yang sangat tergantung pada sektor pariwisata, perdagangan, dan kuliner terdampak serius oleh pandemi Covid-19. Penurunan ekonomi di Kota Solo berdampak terhadap peningkatan jumlah pengangguran terbuka di kota ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kota Solo, angka pengangguran terbuka pada tahun 2020 mencapai 22.887 orang. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan pengangguran terbuka pada tahun 2019 yang mencapai 12.003 orang.

Hal ini berarti dalam satu tahun, yaitu dari 2019 ke 2020, ada penambahan jumlah penganggur sebanyak 10.874 orang. Jika dihitung dengan persentase, pada tahun 2020 angka pengangguran terbuka di Kota Solo sebesar 7,92%. Peningkatan jumlah pengangguran terbuka ini berdampak pada penduduk miskin di Kota Solo.

Pada tahun 2019 jumlah penduduk miskin di Kota Solo mencapai 45.200 orang atau 8,7% dari populasi. Angka ini meningkat menjadi 47.030 orang pada tahun 2020 atau 9,03% persen dari populasi.

Mulai dari Mana?

Pandemi Covid-19 saat ini belum berakhir. Tahapan vaksinasi baru pada tahap awal dan hasilnya masih dievaluasi. Kota Solo baru saja mempunyai pemimpin baru Wali Kota Gibran Rakabuming Raka dan Wakil Wali Kota Teguh Prakosa yang dilantik pada Februari 2021.

Pasangan wali kota dan wakil wali kota ini menghadapi tantangan berat untuk menyusun kebijakan pemulihan ekonomi di Kota Solo. Momentum pemulihan ekonomi pada triwulan I tahun 2021 dilewati dengan adanya pembatasan sosial berskala besar tanggal 11-25 Januari 2021.

Kemudian dilanjutkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat mikro yang dilaksanakan sampai dengan 3 Mei 2021. Hal ini berarti pemulihan ekonomi tidak bisa berlangsung tanpa ada pengurangan penularan Covid-19.

Mengapa perekonomian Kota Solo harus menjalani proses yang lebih sulit untuk pulih? Hal ini disebabkan perekonomian kota ini sangat tergantung pada aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan berkumpulnya masyarakat, yaitu pariwisata, perdagangan termasuk kuliner, dan jasa.

Hal ini kontradiktif dengan prosedur kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19 yang mengharuskan berdisiplin menaati pembatasan aktivitas. Memasuki bulan Ramahan hingga Lebaran ada harapan perekonomian membaik karena ada peningkatan konsumsi dari kelompok masyarakat kelas menengah.

Selain itu ada harapan pemerintah mengizinkan mudik sehingga perputaran uang akan terjadi saat aktivitas mudik menyambut hari Idulfitri. Perkembangan terakhir menunjukkan pemerintah memutuskan melarang aktivitas mudik sehingga pemulihan ekonomi terkendala karena kenaikan konsumsi dalam skala besar tidak terjadi.

Berdasarkan data dari Google Mobility Report per tanggal 14 April 2021 di Jawa Tengah pergerakan masyarakat menuju tempat wisata -16% dan pergerakan ke terminal, bandara, stasiun, dan pelabuhan -30%. Hal ini berarti sektor wisata dan transportasi belum mengalami perbaikan.

Pemerintah Kota Solo bisa sedikit berharap pada kebijakan mengizinkan pembukaan tempat wisata pada Idulfitri untuk meningkatkan permintaan domestik.  Kondisi ini menjadi tantangan berat bagi Kota Solo karena aktivitas wisata, perdagangan, dan jasa masih dibatasi.

Pilihan-pilihan apa yang bisa dilakukan untuk mendorong pemulihan ekonomi? Ada beberapa pilihan pemulihan ekonomi dengan risiko dan dampak jangka pendek atau jangka panjang bagi perekonomian Kota Solo secara umum.

Pilihan Rasional

Pemerintah Kota  Solo mempunyai dua pilihan untuk mendorong pemulihan ekonomi. Pilihan pertama adalah mencoba mendorong aktivitas ekonomi dengan melaksanakan event/kegiatan wisata dengan risiko menciptakan kerumunan, tetapi bisa membantu sektor wisata dan perdagangan untuk bangkit kembali.

Berputarnya kompetisi sepak bola nasional Liga 2 jika disetujui pemerintah juga bisa menjadi harapan bagi pemulihan ekonomi di Kota Solo mengingat antusiasme masyarakat terhadap event ini dan bisa mendorong konsumsi untuk meningkatkan prtumbuhan ekonomi.

Pilihan kedua yang bisa dilaksanakan oleh pemerintah Kota Solo terkait dengan pemulihan ekonomi adalah menata ulang kebijakan ekonomi jangka menengah dan jangka panjang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang saat ini dalam proses penyusunan.

Ada beberapa hal terkait dengan rencana pembangunan jangka menengah yang seharusnya menjadi prioritas bagi Kota Solo. Pertama, iklim investasi. Kota Solo pada tahun 2020 dianugerahi penghargaan peringkat pertama kota dengan daya saing daerah terbaik di Indonesia oleh Kementerian Riset dan Teknologi.

Penghargaan ini menjadi modal yang kuat bagi pemerintah Kota Solo untuk membangun iklim investasi yang baik. Kedua, melanjutkan pengembangan ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif adalah potensi Kota Solo yang tidak memiliki dukungan sumber daya alam.

Kota Solo bahkan termasuk dalam jaringan kota kreatif di Indonesia. Semua subsektor ekonomi kreatif yang berjumlah 17 ada dan berkembang di kota ini. Ekonomi kreatif juga merupakan salah satu sektor ekonomi yang menyerap banyak tenaga kerja.

Ketiga, memperkuat daya saing usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Perekonomian Kota Solo didominasi oleh UMKM, terutama di sektor perdagangan. Prioritas untuk memperkuat daya saing UMKM menjadi penting karena terkait dengan penyediaan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Kota Solo.

Tidak ada rumus yang mudah dan instan untuk memulihkan perekonomian Kota Solo, namun semua usaha harus dilakukan karena pemulihan ekonomi menjadi kunci bagi kesejahteraan masyarakat Kota Solo. Kerja keras harus dimulai sekarang.

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago