top ear
Tutup Iklan

Ilustrasi Persyarikatan Muhammadiyah/starjogja.com
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi Persyarikatan Muhammadiyah/starjogja.com

Islam dan Toleransi Lintas Peradaban

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (19/11/2019). Esai ini karya Pardiman, anggota Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Boyolali. Alamat e-mail penulis adalah pardimanuin@gmail.com.
Diterbitkan Rabu, 27/11/2019 - 07:00 WIB
oleh Solopos.com/Pardiman
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Dinamika kepemimpinan Persyarikatan Muhammadiyah dalam kurun waktu 21 tahun setelah reformasi mencerminkan kepemimpinan generasi kosmopolitan. Pascareformasi, Syafi’i Maarif meneruskan nakhoda kepemimpinan Muhammadiyah.

Sebelumnya, Amien Rais berijtihad politik dengan mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) pada 1998. Syafi’i Maarif terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2000-2005 di tengah tarik-menarik demokratisasi dan gejolak sosial politik menuju konsistensi peran kebangsaan dan netralitas Muhammadiyah.

Masa-masa sulit itu berhasil dilalui tanpa terperosok pada godaan pragmatisme politik. Demikian halnya dengan kepemimpinan Muhammadiyah di tangan Haedar Nashir, tokoh kelahiran Bandung yang alumnus Jurusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada.

Muhammadiyah sekarang mencoba menjadi gerakan pencerahan dengan membawa spirit Islam yang berkemajuan. Warga Muhammadiyah memang hidup berkembang di Indonesia, tetapi Muhammadiyah memilih berdialog dan berpikir keluar dari lingkup Indonesia untuk mempromosikan Islam berkemajuan.

Kiai berkemajuan menurut Abdul Mu’ti (2018) adalah pemimpin muslim yang menguasai ilmu agama, taat beribadah, berakhlak al-karimah, serta menguasai ilmu dan pranata sosial masyarakat modern. Islam berkemajuan memiliki lima fondasi.

Pertama, berakidah Islam yang murni atau tauhid yang murni. Kedua, memahami Alquran dan sunah Nabi Muhammad SAW secara mendalam dan komprehensif. Ketiga, melembagakan amal saleh yang fungsional dan solutif. Keempat, berorientasi kekinian dan masa depan. Kelima, bersikap toleran, moderat, dan suka bekerja sama.

Islam berkemjuan menurut Amin Abdullah adalah Islam yang berada di tengah-tengah arus globalisasi dalam praksis, globalisasi dan perubahan sosial dalam praktik hidup sehari-hari, dan bukannya globalisasi dalam teori.

Alam pikiran Muhammadiyah harus selalu berorientasi pada nilai-nilai peradaban yang kosmopolitan, melintasi sekat-sekat kultural, dan memperjuangkan tegaknya keadaban publik di bumi pertiwi.

Toleransi

Muhammadiyah saat ini diharapkan ikut berdialog dan berbagi dengan berbagai peradaban dunia. Islam berkemajuan yang berwawasan dunia, keluar dari kungkungan negara-bangsa. Tidak hanya sebagai penerima pengaruh asing tapi juga memengaruhi masyarakat dunia.

Inilah makna dari berkemajuan yang dalam aktivitas nyata diwujudkan dalam program internasionalisasi Muhammadiyah. Perpaduan antara pemikiran dan perenungan hati suci K.H. Ahmad Dahlan yang didasari etika welas asih dan hasil diskusi dengan rekan-rekannya mampu menghasilkan gerakan pelayanan sosial berbasis keagamaan.

Kemunculan Muhammadiyah pada 8 Zulhijah 1330 Hijriah yang bertepatan 18 November 1912 dipandang sebagai gerakan Islam, dakwah, dan tajdid yang membawa semangat pembaruan terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang pada saat itu masih di bawah penjajahan.

Sejarah yang sering dilupakan para pengikutnya dan juga orang-orang di luar Muhammadiyah adalah kenyataan tentang pribadi K.H. Ahmad Dahlan yang sangat toleran dalam praktik keagamaan pada zamannya. Sifat toleran yang agung ini membuat ia dapat diterima semua golongan.

Sifat toleran ini bisa dilihat dari kehidupan keseharian sebagai pribadi pembelajar, sebagai seorang murid yang kala itu dikenal istilah santri, sebagai seorang guru atau kiai. Ia mengajar agama untuk murid-murid di Kweekscholl dan sekolah yang ia dirikan sendiri di Karangkajen. Ia menjadi pengurus Boedi Oetomo dan Syariat Islam.

Fakta sejarah yang diungkap Ahmad Najib Burhani (2010) tentang “Muhammadiyah Jawa” terlihat bahwa organisasi ini serta pendirinya dan tokoh-tokoh masa awalnya telah menampakkan apresiasi yang besar terhadap beberapa unsur budaya Jawa.

Muhammadiyah pernah memiliki hubungan yang baik dengan budaya Jawa. Kedekatan Muhammadiyah dengan budaya Jawa dari tesis (Burhani) ini dapat diidentifikasi dari beberapa asumsi. Pertama, jika klasifikasi masyarakat Jawa ala Clifford Geertz dipakai untuk membaca penduduk Jawa kala itu, organisasi para santri dan Muhammadiyah adalah gerakan para priayi muslim.

Kedua, jika kita buka kembali foto-foto dan gambar pakaian pemimpin Muhammadiyah generasi awal mendekati budaya Jawa. Ketiga, bahasa Jawa adalah bahasa resmi di Muhammadiyah sebelum digantikan bahasa Indonesia, juga yang memperkenalkan khotbah Jumat dalam bahasa setemapat.

Keempat, Muhammadiyah secara organisasi memiliki ikatan kuat dengan Boedi Oetomo, sebuah organisasi kaum priayi yang ingin membangun kembali budaya Jawa. Kelima, Muhammadiyah tidak pernah menolak upacara grebeg yang diselenggarakan oleh Keraton Jogja.

Demikian pula analisis tentang empat varian anggota Muhammadiyah dan tesis pribumisasi (Mulkhan: 2013) yang meneliti masyarakat desa Wuluhan, Jember. Perluasan Muhammadiyah di daerah ini melalui dua jalur utama: pengajian dan modernisasi pendidikan.

Memperlebar Sayap

Di masyarakat yang sebagian besar petani tembakau ditemukan varian anggota Muhammadiyah. Pertama, kelompok al-ikhlas, yaitu Islam murni, tipe pengikut paling konsisten dan fundamentalis dalam mengamalkan Islam murni menurut syariat yang telah dibakukan dalam buku tarjih.

Kedua, kelompok Kiai Dahlan, yaitu Islam murni yang tidak mengerjakan sendiri tapi toleran terhadap praktik takhayul, bidah, dan khurofat. Tipe ini beribadah sesuai tarjih, tidak menghadiri undangan atau sesudah namanya diubah dan beberapa unsur dibuang.

Ketiga, kelompok Muhammadiyah-Nahdlatul Ulama atau munu, yaitu kelompok neotradisionalis. Tipe ini merupakan mayoritas pengikut yang terus memelihara tradisi. Keempat, kelompok Marhaenis-Muhammadiyah. Tipe ini paling terbuka dan pragmatis, sering terlibat tindakan sinkretis, dalam pendidikan mereka lebih berorientasi pada mutu, bukan Islam murni.

Hasil penelitian di Ende, Nusa Tenggara Timur, dan Serui, Papua, oleh Abdul Mu’ti dan Fajar Riza Ul Haq (2009) tentang Kristen-Muhammadiyah mempresentasikan perluasan basis sosiologis proses konstruksi identitas. Kristen-Muhamamdiyah bukanlah gejala sinkretis yang mensubordinasikan satu entitas di bawah yang lain.

Justru yang terjadi adalah proses dialogis kreatif yang meniscayakan lintas batas. Seorang kristiani tetap berpijak kuat pada sumber keyakinan seperti dialami para siswa bahkan wali murid di dua tempat penelitian tersebut.

Sebagai refleksi memasuki usia 107 tahun, Muhammadiyah kini telah dikenal berperan besar dalam dunia pendidikan (schooling), kesehatan (healing), dan sosial (feeding) dan memulai gerakan baru berupa gerakan peduli bencana, pemberdayaan masyarakat, dan filantropi Islam.

Di bidang politik, budaya, dan agama, Muhammadiyah dikenal sebagai tenda bangsa dengan menerapkan Islam wasathiyah atau Islam rahmatan lil ‘alamin. Muhammadiyah perlu memperlebar sayap peran ke bidang yang lain, yaitu ekonomi dan masalah internasional sehingga Muhammadiyah menjadi semakin bermanfaat.

Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com
Kata Kunci : #gagasan #Muhammadiyah

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkini