top ear
Pengunjung melihat jadwal keberangkatan pesawat di Bandara Ahmad Yani Semarang, Jateng. (Bisnis-Alif Nazzala Rizqi)
  • SOLOPOS.COM
    Pengunjung melihat jadwal keberangkatan pesawat di Bandara Ahmad Yani Semarang, Jateng. (Bisnis-Alif Nazzala Rizqi)

Isi Perpres 63/2019: Bandara Pun Wajib Pakai Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia wajib dipakai untuk nama hotel, terminal, hingga bandara.
Diterbitkan Rabu, 9/10/2019 - 22:36 WIB
oleh Solopos.com/Amanda Kusumawardhani/Bisnis.com
2 menit baca

Solopos.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Peraturan Presiden (Perpres) No 63/2019 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia wajib dipakai untuk nama hotel, terminal, hingga bandara.

Peraturan tersebut diteken dengan mempertimbangkan bahwa Peraturan Presiden No 16/2010 tentang Penggunaan Bahasa Indonesia dalam Pidato Resmi Presiden dan/atau Wakil Presiden serta Pejabat Negara Lainnya belum mengatur penggunaaan Bahasa Indonesia yang lain sebagaimana diamanatkan dalam Pasal 40 UU No 24/2009.

Sebagaimana dikutip dari keterangan resminya, Rabu (9/10/2019), perpres ini menyebutkan penggunaan Bahasa Indonesia harus memenuhi kriteria Bahasa Indonesia yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah Bahasa Indonesia yang meliputi kaidah tata bahasa, kaidah ejaan, dan kaidah pembentukan istilah.

Tak hanya itu, Bahasa Indonesia juga wajib digunakan dalam peraturan perundang-undangan yang mencakup pembentukan kata, penyusunan kalimat, teknik penulisan, dan pengejaan. Perpres ini juga menyebutkan Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam dokumen resmi negara, paling sedikit meliputi surat keputusan, surat berharga, ijazah, surat keterangan, surat identitas diri, akta jual beli, surat perjanjian, dan putusan pengadilan.

“Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pidato resmi Presiden, Wakil Presiden, dan pejabat negara yang lain yang disampaikan di dalam atau di luar negeri,” bunyi Pasal 5 Perpres ini.

Ditegaskan dalam perpres ini, penyampaian pidato resmi Presiden atau Wakil Presiden pada forum nasional dan forum internasional yang diselenggarakan di dalam negeri dilakukan dengan menggunakan Bahasa Indonesia.

“Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia memberikan perlakuan yang sama dalam penggunaan bahasa terhadap kepala negara atau kepala pemerintahan, wakil kepala negara atau wakil kepala pemerintahan, sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa, dan/atau pimpinan tertinggi organisasi internasional yang melakukan kunjungan resmi ke Indonesia berdasarkan asas kedaulatan negara, asas resiprositas, dan kebiasaan internasional,” bunyi Pasal 9 Perpres ini.

Namun, jika diperlukan, Presiden dan/atau Wakil Presiden juga dapat menyampaikan pidato resmi dalam bahasa tertentu selain Bahasa Indonesia pada forum internasional. Bahasa tertentu sebagaimana dimaksud meliputi bahasa resmi Perserikatan Bangsa Bangsa yang terdiri atas bahasa Inggris, Prancis, China, Rusia, Spanyol, dan Arab, serta bahasa lain sesuai dengan hukum dan kebiasaan internasional.

Editor : Profile Adib M Asfar
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com
Kata Kunci : #bahasa Indonesia

berita terkini