Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Ironi SD Inklusi di Karanganyar Tak Punya Guru Inklusi, Ini Saran Pakar

Guru-guru di SD inklusi di Karanganyar diminta menerapkan konsep kurikulum akomodatif dalam pembelajaran di kelas yang terdapat anak berkebutuhan khusus (ABK).
SHARE
Ironi SD Inklusi di Karanganyar Tak Punya Guru Inklusi, Ini Saran Pakar
SOLOPOS.COM - Ilustrasi siswa sekolah inklusif didampingi guru (JIBI/Dok)

Solopos.com, KARANGANYAR — Guru-guru di SD inklusi di Karanganyar diminta menerapkan konsep kurikulum akomodatif dalam pembelajaran di kelas yang terdapat anak berkebutuhan khusus (ABK). Jika guru mengalami kesulitan, mereka bisa mendatangkan guru Sekolah Luar Biasa (SLB) untuk memberikan dukungan.

Senior Consultan World Bank atau Konsultan Senior Bank Dunia untuk Pendidikan Inklusif, Joko Yuwono, mengatakan di dalam konsep kurikulum yang akomodatif di dalamnya ada dua prinsip pokok. Yaitu tentang modifikasi dan adaptasi.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

“Artinya, ketika mengajar di kelas secara klasikal, guru harus punya keterampilan memodifikasi pembelajaran, sehingga ABK tetap bisa belajar bersama dengan anak-anak lainnya,” ujar Joko yang juga Kepala Program Studi (Kaprodi) S-2 Pendidikan Luar Biasa (PLB) FKIP Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini, Jumat (1/7/2022).

Misalnya ketika guru menggambar hewan dan meminta anak-anak melihat ke papan tulis, sedangkan di kelas itu ada anak yang memiliki disabilitas netra, maka guru meminta kepada siswa disampingya agar mendeskripsikan apa yang digambar itu.

Baca Juga: Ironis, Sejumlah SD Inklusi di Karanganyar Tak Punya Guru Inklusi

Atau, lanjut Joko, guru dapat menyiapkan miniatur hewan yang dimaksud untuk diraba oleh anak disabilitas netra tersebut supaya semua anak bisa belajar bersama-sama.

“Begitulah seharusnya, guru kelas bukan mendampingi secara individu kepada ABK, tetapi secara klasikal. Cuma memang kompetensi guru dalam menyeting kelas ini yang belum terlalu terlatih,” ujar Joko.

Tentang kebutuhan guru kunjung guru pedamping khusus (GPK) dari SLB, Joko mengatakan hal tersebut sangat memungkinkan. Guru SLB ini merupakan pusat sumber yang akan memberikan dukungan kepada sekolah inklusi.

“Guru kunjung adalah guru SLB. Mereka sebagai resource center yang memberikan dukungan kepada sekolah inklusi supaya anak-anak bisa belajar mendapatkan akses berkualitas dan nondiskriminatif. Panggillah guru SLB untuk mengunjungi. Mereka bisa berkolaborasi dengan sekolah umum,” imbuh Joko yang juga anggota peneliti di Pusat Studi Difabilitas LPPM UNS.

Baca Juga: Hore! Polanharjo Dicanangkan sebagai Kecamatan Inklusi Hlo

Diberitakan sebelumnya, SD inklusi di Kabupaten Karanganyar tidak memiliki guru inklusi untuk mendampingi siswa ABK di sekolah tersebut. Sementara itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Karanganyar akan meminta guru kunjung (inklusi) kepada Disdikbud Provinsi Jawa Tengah (Jateng).

Di antara SD inklusi di Karanganyar itu adalah SDN 4 Bejen. Kepala sekolah setempat, Sri Mulyani mengatakan sejak pengelolaan SLB dilakukan Disdikbud Jateng, para GPK hanya menangani siswa SLB. Sehingga SD-SD inklusi yang berada di bawah pengelolaan Disdikbud Karanganyar tak lagi mendapatkan kunjungan guru inklusi.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode