Ironi di Tengah Tradisi Mengusir Pandemi Ala Warga Kaki Gunung Wilis Madiun

Tradisi dongkrek yang dilakukan warga kaki Gunung Wilis, Kabupaten Madiun, tiap malam justru berpotensi jadi sumber penularan Covid-19 karena menimbulkan kerumunan.
Ironi di Tengah Tradisi Mengusir Pandemi Ala Warga Kaki Gunung Wilis Madiun
SOLOPOS.COM - Warga Desa Cermo, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, menggelar ritual dongkrek untuk mengusir pagebluk Covid-19 setiap malam, Sabtu(24/7/2021). (Solopos.com/Abdul Jalil)

Solopos.com, MADIUN — Udara dingin yang menyergap kulit pada Sabtu (24/7/2021) malam sekitar 22.00 WIB, tidak menyurutkan puluhan warga lereng Gunung Wilis di Desa Cermo, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun, menggelar ritual dongkrek. Mereka melakukan tradisi ini sebagai upaya untuk mengusir pagebluk Covid-19 dari bumi.

Warga yang mengikuti tradisi dongkrek membawa perkakas rumah tangga, seperti galon, ember, cangkul, dan lainnya. Ada juga yang membawa kendang. Alat-alat itu digunakan sebagai alat musik untuk mengiringi para warga yang menari menggunakan topeng buta atau roh halus.

Mereka berkeliling di lingkungannya masing-masing sambil menari dan menabuh alat-alat yang dibawa. Malam itu sedang terjadi bulan purnama, sehingga jalan-jalan kampung yang biasanya gelap menjadi terang.

Tradisi Dongkrek, Cara Unik Warga Lereng Gunung Wilis di Madiun Usir Pagebluk Covid-19

Warga yang mengenakan topeng roh halus terlihat berjoget-joget mengikuti irama musik. Mereka memulai ritual ini sekitar pukul 22.00 WIB dan rampung 01.00 WIB. Mereka baru menjalani ritual dengan tarian dongkrek ini sepekan terakhir.

Masyarakat Desa Cermo merasa pandemi Covid-19 yang terjadi lebih dari satu tahun tersebut membuat sengsara. Perekonomian masyarakat menjadi anjlok. Banyak orang yang sakit dan meninggal dunia.

Tak Sesuai Pakem

Kesenian dongkrek ini diikuti warga dari usia muda hingga dewasa. Masyarakat desa itu terlihat guyub dan memiliki harapan yang sama, yakni pagebluk corona segera sirna dari muka bumi.

Kesenian dongkrek yang dijalankan masyarakat Desa Cermo ini memang tidak sesuai pakem seperti di pentas. Seperti alat musik yang digunakan pun seadanya. Dongkrek yang bersifat seni pertunjukan menggunakan alat musik seperti kentongan, kenong, bedug, beri, korek, dan gong.

Sedangkan penggunaan topeng pun dalam kesenian dongkrek pun ada pakemnya. Seperti topeng genderuwo, topeng roro ayu, dan topeng roro peyot.

“Ini dongkrek sebagai ritual bukan kesenian. Jadi, penggunaan alat musik pun seadanya, apa pun yang ada di rumah dan bisa berbunyi boleh dibawa. Itu yang diajarkan leluhur kami,” kata tokoh masyarakat Desa Cermo, Parjan Demang, 50.

Penggunaan topeng berwajah seram, kata dia, memang sebagai perwujudan roh halus pengganggu manusia. Melalui ritual dongkrek ini, wabah diharapkan bisa segera sirna.

Baca Juga: Ribuan Pekerja Hotel dan Restoran di Malang Dirumahkan

Ironi Dongkrek

Menurut dia, ritual ini menjadi salah satu sarana untuk mengusir wabah. Selain itu, tentu upaya seperti protokol kesehatan perlu dijalankan.

Ironisnya, tradisi ini justru bisa menjadi sarana penyebaran Covid-19 karena menimbulkan kerumunan orang. Terlebih lagi dilakukan setiap malam.

Ketua RT 015/RW 001 Desa Cermo, Jumiran, mengatakan kegiatan dongkrek setiap malam ini inisiatif warga. Wabah corona yang sudah berlangsung selama 17 bulan ini benar-benar berdampak pada perekonomian masyarakat desa.

“Banyak warga yang terdampak. Mulai dampak kesehatan hingga ekonomi. Di lingkungan sini yang terpapar ada tiga orang. Selama pandemi, baru kali ini ada yang kena Covid-19,” ujar Jumiran.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago