Intervensi Stigma dan Diskriminasi sebagai Upaya Indonesia Bebas HIV/AIDS 2030

Artikel ini ditulis Titik Haryanti, S.K.M., M.P.H., dosen Prodi Kesehatan Masyarakat FKM Univet Bantara Sukoharjo-Mahasiswa S3 IKM UNS
Intervensi Stigma dan Diskriminasi sebagai Upaya Indonesia Bebas HIV/AIDS 2030

Salah satu elemen yang paling mengejutkan dari stigma HIV adalah sifatnya yang ada di mana-mana bahkan di mana epidemi tersebar luas dan memengaruhi begitu banyak orang. Oleh karena itu, banyak komunitas HIV/AIDS mencatat bahwa penurunan stigma HIV merupakan langkah penting dalam membendung epidemi HIV/AIDS.

Stigma dan diskriminasi terkait HIV/AIDS dapat melemahkan upaya kesehatan masyarakat dalam memerangi epidemi. Stigma HIV/AIDS berdampak negatif pada perilaku pencegahan, perilaku pencarian tes HIV, dan perilaku pencarian perawatan pada diagnosis. Selain itu, stigma dan diskriminasi terkait HIV/AIDS dapat berdampak pada kualitas perawatan yang diberikan kepada pasien HIV positif, persepsi dan pengobatan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) oleh komunitas, keluarga, dan mitra.

Goffman (1963) mendefinisikan stigma sebagai “atribut yang tidak diinginkan atau mendiskreditkan apa yang dimiliki seorang individu sehingga mengurangi status individu itu di mata masyarakat”. Stigma sendiri lebih banyak dihubungkan dengan sikap yang tidak menyenangkan terhadap seseorang atau sesuatu tertentu. Sementara diskriminasi lebih pada tingkah laku baik terhadap individu maupun kelompok yang berdasarkan prasangka.

Stigmatisasi menurut definisi Goffman adalah proses dinamis yang muncul dari persepsi bahwa telah terjadi pelanggaran terhadap seperangkat sikap, keyakinan, dan nilai bersama. Masyarakat kemudian melabeli individu atau kelompok sebagai berbeda atau menyimpang dari sikap, keyakinan, dan nilai bersama tersebut. Stigmatisasi ini dapat mengarah pada pemikiran, perilaku dan atau tindakan yang merugikan baik pemerintah, masyarakat, pemberi kerja, penyedia layanan kesehatan, rekan kerja, teman, dan keluarga.

Berdasarkan karya Goffman, Link dan Phelan (2001) menggambarkan stigma sebagai fenomena sosial yang berbahaya yang dimungkinkan oleh adanya kekuatan sosial, politik, dan ekonomi yang mendasarinya. Stigma dimulai ketika terjadi pemberian label kemudian dikaitkan dengan stereotip negatif dan akhirnya kehilangan status dan diskriminasi bagi mereka yang membawa sifat tersebut.

Stigma HIV muncul dalam berbagai bentuk, termasuk gosip dan pelecehan verbal, penilaian dan nilai-nilai moral tentang orang yang hidup dengan HIV dan populasi yang lebih rentan terhadap infeksi. Hal ini dapat dimanifestasikan dalam bentuk diskriminasi termasuk kekerasan dan penganiayaan fisik serta kehilangan pekerjaan dan kurangnya layanan.

Dampak Stigma dan Diskriminasi

Salah satu hambatan utama dalam program pencegahan HIV, pengobatan, perawatan dan dukungan pada ODHA adalah stigma dan diskriminasi. Penelitian telah banyak menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi dapat menghambat upaya pencegahan HIV dengan membuat orang takut untuk mencari informasi tentang HIV, layanan dan modalitas yang dapat membantu mengurangi risiko infeksi dan mengadopsi perilaku yang lebih aman untuk mengurangi kecurigaan terhadap status HIV mereka.

Ketakutan akan terjadinya kekerasan mengecilkan hati ODHA untuk mengungkapkan status mereka bahkan kepada anggota keluarga dan pasangan seksualnya. Hal ini dapat melemahkan kemampuan dan kemauan mereka untuk mengakses pengobatan serta memengaruhi terhadap kepatuhan dalam berobat.

Stigma dan diskriminasi memengaruhi kehidupan ODHA dalam banyak hal dan kebanyakan berakibat merugikan. Stigma terkait HIV sering dikaitkan dengan tekanan psikologis seperti rasa malu, depresi, kecemasan, pemikiran bunuh diri, dan kualitas hidup. Selain itu, stigma terhadap ODHA di fasilitas layanan kesehatan dianggap sebagai salah satu hambatan utama untuk pengobatan yang optimal.

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa pengalaman stigma terkait HIV dapat mengakibatkan akses yang lebih rendah ke pengobatan HIV, pemanfaatan layanan perawatan HIV yang rendah, kepatuhan terapi antiretroviral (ART) yang lebih buruk dan hasil pengobatan yang lebih buruk juga.

Sejumlah faktor yang memengaruhi stigmatisasi telah diidentifikasi oleh penelitian-penelitian yang dilakukan. Faktor-faktor yang memengaruhi stigmatisasi tersebut diantaranya adalah pertama persepsi penularan. Persepsi ini terkait dengan ketakutan dan stigmatisasi. Banyak orang menanggapi dengan ketakutan dan penolakan sosial terhadap ODHA karena mereka takut akan tertular ketika berinteraksi langsung dengan ODHA meskipun AIDS tidak menular dalam kontak sehari-hari.

Kedua persepsi keseriusan AIDS terkait dengan stigmatisasi di mana orang cenderung menanggapi ODHA secara negatif karena sifat penyakit yang mengancam jiwa dan berhubungan dengan kematian. Masyarakat mengganggap bahwa AIDS adalah penyakit yang mengacam jiwa dan dapat menyebabkan kematian sehingga mereka mengucilkan ODHA dengan tidak berinteraksi atau menghindarinya.

Ketiga persepsi tanggung jawab terkait dengan reaksi stigmatisasi. Persepsi ini cenderung membuat orang merespons dengan rasa kasihan yang lebih sedikit, kemarahan yang lebih kuat, dan stigmatisasi yang lebih besar terhadap ODHA yang secara pribadi bertanggung jawab atas timbulnya penyakit. Misal ODHA bertanggung jawab terhadap penyakitnya karena perilaku seksual yang tidak aman.

Keempat perilaku melanggar norma. AIDS dikaitkan dengan adanya perilaku yang melanggar norma seperti perilaku seks bebas, hubungan homoseksual, dan penggunaan narkoba suntik yang cenderung menimbulkan emosi negatif dan stigmatisasi terhadap ODHA.

Faktor yang memengaruhi stigmatisasi tersebut memunculkan beberapa macam bentuk stigma yang diberikan kepada ODHA. Pertama stigma yang diinternalisasi. Stigma yang terinternalisasi atau disebut juga stigma diri terjadi ketika target stigma menginternalisasi sikap dan persepsi negatif yang diproyeksikan ke mereka (ODHA).

Kedua stigma yang diberlakukan. Stigma diberlakukan mengacu pada tindakan diskriminasi dan permusuhan terbuka yang diarahkan pada mereka yang dianggap memiliki status terstigmatisasi. Ketiga stigma yang diantisipasi. Stigma yang diantisipasi dihasilkan dari ketakutan akan stigma yang diberlakukan. Keempat stigma yang dirasakan. Stigma yang dirasakan berkaitan dengan bagaimana ODHA memandang pasangan, teman, keluarga dan masyarakatnya memperlakukan dan memandang HIV dan ODHA secara umum.

Berbagai bentuk stigma seringkali bersifat siklus dari macam stigma yang ada. Misalnya ODHA yang menghadapi stigma yang diberlakukan menyebabkan ODHA ditolak dalam mendapatkan layanan kesehatan yang pada gilirannya dapat memvalidasi ketakutan mereka akan stigma yang diantisipasi atau memaparkan mereka pada pengalaman negatif yang memperdalam stigma yang terinternalisasi.

Oleh karena itu, menghentikan stigma akan membutuhkan intervensi di banyak titik dalam siklus. Sifat sosialnya yang inheren juga akan membutuhkan intervensi multilevel yang menargetkan tidak hanya perilaku tingkat individu tetapi juga perubahan pada tingkat interpersonal, sosial, organisasi dan masyarakat.

Bentuk Stigma

Stigma dapat diberikan bukan hanya oleh masyarakat umum namun juga dari tenaga kesehatan. Bentuk stigma dan diskriminasi yang diberikan oleh masyarakat diantaranya adalah stereotip yaitu keyakinan tentang karakteristik yang terkait dengan kelompok dan anggotanya, prasangka yaitu evaluasi negatif terhadap kelompok dan anggotanya, sikap diskriminatif yaitu keyakinan bahwa orang dengan kondisi kesehatan tertentu tidak diperbolehkan untuk berpartisipasi penuh dalam masyarakat dan perilaku diskriminatif yaitu pengucilan dari acara sosial, perilaku menghindar, dan gosip.

Sementara bentuk stigma dan diskriminasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan ini sangat bervariasi, mulai dari penempatan papan status pasien secara terbuka pada tempat pelayanan, bergosip atau membicarakan tentang status pasien. Selain itu juga pelecehan secara verbal maupun sikap, menghindari untuk melayani pasien ODHA, mengisolasi pasien ODHA, membuka status HIV tanpa persetujuan ataupun merujuk tes HIV tanpa diberikan konseling, serta berbagai macam jenis lainnya. Dengan demikian, stigma dan diskriminasi melemahkan kemampuan individu dan masyarakat untuk melindungi diri dari HIV dan agar dapat tetap hidup sehat dengan status HIV-nya.

Oleh karena itu, upaya untuk menghindari terjadinya stigma dan diskriminasi dalam pelayanan kesehatan maka para tenaga kesehatan perlu memastikan adanya dukungan secara institusi melalui kebijakan dan panduan yang jelas serta adanya pelatihan dalam penanganan penyakit HIV dan AIDS. Berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah stigma HIV di pelayanan kesehatan dapat dilakukan dengan membantu penderita untuk mengatasi ketakutan terhadap status HIV/AIDS dan mengajarkan keterampilan dalam menangani penderita. Sementara upaya yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya stigma dan diskriminasi di masyarakat dapat dilakukan dengan melibatkan tokoh masyarakat dalam mempromosikan gerakan anti stigma.

Strategi Intervensi Penurunan Stigma

Upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka menunrunkan stigma dan diskriminasi baik oleh masyarakat dan tenaga kesehatan tersebut perlu strategi intervensi yang efektif. Intervensi HIV tidak dapat sepenuhnya efektif dalam lingkungan yang menstigmatisasi atau diskriminatif. Untuk itu perlu strategi intervensi dalam penurunan stigma yang efektif, berdasarkan kebutuhan yang menyeluruh, berdasarkan teori dan bukti serta perencanaan yang kolaboratif. Berdasarkan penelitian Thapa S (2017) beberapa strategi intervensi penurunan stigma dapat dilakukan dengan:

1. Menciptakan kesadaran

Intervensi ini berdasarkan fakta spesifik HIV, informasi berbasis komunikasi tertulis dan lisan, dan pendidikan sebagai komponen utama. Intervensi ini ditujukan pada populasi umum, populasi kelompok berisiko dan orang yang tinggal atau terkait dengan HIV. Intervensi ini diharapkan secara langung dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap, secara tidak langsung dapat mengubah perilaku stigmatisasi dan meningkatkan serapan test HIV. Bentuk intervensi dapat berupa: pendidikan sebaya, diskusi mendalam, kuliah, bermain peran, interaksi, iklan, siaran radio dan kurikulum di sekolah.

2. Memengaruhi perilaku normatif

Intervensi ini terkait dengan penyediaan layanan HIV, meningkatkan komunitas organisasi dan tindakan yang akan mempengaruhi kebiasaan manusia. Intervensi ini ditujukan pada populasi umum, populasi kelompok berisiko, dan orang yang tinggal dan terkait dengan HIV. Intervensi ini diharapkan secara langsung dapat mengubah sikap menstigmatisasi dan perilaku, serta secara tidak langsung meningkatkan serapan tes HIV.

3. Menyediakan dukungan

Intervensi ini khusus HIV yang memberikan dukungan dengan mengajarkan ketrampilan koping, konseling dan berhubungan langsung dengan ODHA. Intervensi ini ditujukan pada populasi kelompok berisiko dan orang yang tinggal dan terkait dengan HIV. Intervensi ini diharapkan dapat mengubah perilaku stigma secara langsung dan meningkatkan serapan tes HIV secara tidak langsung. Bentuk intervensi dapat berupa konseling pribadi, instruksi empati, konseling kelompok, kelompok pendukung, pelatihan dan kontak langsung dengan ODHA.

4. Mengembangkan peraturan dan hukum

Intervensi ini memasukkan kebijakan spesifik HIV dalam undang-undang yang melindungi dan menghormati ODHA serta mengganti hukum adat yang negatif. Intervensi ditujukan pada populasi umum, populasi keompok berisiko, dan orang yang tinggal dan terkait dengan HIV. Intervensi diharapkan dapat mengubah perilaku menstigmatisasi secara langsung dan meningkatkan serapan tes HIV secara tidak langsung. Bentuk intervensi seperti memberikan kompensasi, membatalkan hukum yang mengkriminalisasi HIV, insentif dan kebijakan kesehatan terkait HIV.

Sebagian besar kebijakan HIV secara nasional telah menyerukan adanya pengurangan stigma dan diskriminasi namun hanya sedikit program yang mampu mengoperasionalkan strategi pengurangan stigma yang efektif. Terwujudnya peran serta barbagai pihak dalam upaya menurunkan stigma dan diskriminasi yang dialami ODHA dibutuhkan berbagai penelitian aplikatif dan konsisten sehingga mereka akan mau untuk lebih terbuka mengenai penyakitnya.

Selain itu, semakin memudahkan upaya pencegahan penularan terselubung dan memudahkan ODHA mengakses pelayanan kesehatan yang adekuat tanpa rasa takut akan menghadapi stigma dan diskriminasi. Program untuk mengurangi stigma terkait HIV/AIDS kemungkinan besar akan efektif jika program ini didasarkan pada penilaian kebutuhan yang menyeluruh, strategi intervensi berbasis teori dan bukti serta perencanaan kolaboratif.

Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago