Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Ini Sejumlah Tradisi Lama di Gunung Lawu yang Masih Dilaksanakan

Masyarakat di lereng Gunung Lawu masih melestarikan sejumlah tradisi ritual lama yang diwariskan oleh leluhur.
SHARE
Ini Sejumlah Tradisi Lama di Gunung Lawu yang Masih Dilaksanakan
SOLOPOS.COM - Pemuda Dusun Nglurah memanggul makanan dari bahan jagung dan sayur untuk acara Dukutan, Tawangmangu, Karanganyar. (Istimewa/Pemkab Karanganyar)

Solopos.com, KARANGANYAR — Lawu dikenal sebagai salah satu gunung di Indonesia yang memiliki nuansa mistis yang kuat. Gunung yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur ini juga memiliki banyak tradisi yang masih berkembang dan dijalankan oleh masyarakat yang tinggal di lerengnya.

Berikut ini beberapa tradisi Gunung Lawu yang masih lestari hingga seperti yang dirangku Solopos.com dari berbagai sumber:

PromosiDaihatsu Rocky, Mobil Harga Rp200 Jutaan Jadi Cuma Rp99.000

Suroan

Pada malam Tahun Baru 1 Muharam atau yang disebut malam Sura oleh orang Jawa, Gunung Lawu akan ramai oleh para pendaki, khususnya orang lokal dari Magetan dan Karanganyar.

Ketika malam 1 Sura, banyak warga yang melakukan pendakian di Gunung Lawu untuk melakukan ritual atau basuh gaman. Suroan sudah menjadi tradisi warga sekitar sejak zaman dahulu karena di Gunung Lawu terdapat sumur atau sendang untuk dijadikan cuci sabuk atau gaman (jamasan).

Baca Juga: Asyik, Upacara Bendera di Puncak Gunung Lawu Ada Lagi Tahun Ini

Malam 1 Sura di Gunung Lawu diperingati berbagai kalangan mulai dari tua, muda, remaja, bahkan anak-anak, di mana semuanya memiliki tujuan yang sama, yakni agar diberikan keselamatan dan keberkahan dalam menjalani kehidupan di setahun kedepan.

Upacara Julungan

Upacara Julungan dilaksanakan pada Selasa Kliwon, Wuku Julungwangi, oleh masyarakat Desa Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Upacara ini dipusatkan di sebuah punden yang diyakini sebagai tempat moksanya leluhur mereka yang bernama Kyai Honggodito.

Upacara Julungan dimaksudkan untuk memohon keselamatan, kemakmuran, dan ketenteraman. Seiring berjalannya waktu, upacara ini mengalami perkembangan.

Baca Juga: Gunung Lawu Punya 5 Jalur Pendakian Loh, Ini yang Tercepat

Jika dulunya hanya berupa kenduri yang dipusatkan di punden Kyai Honggodito, kini menjadi semakin meriah dengan adanya kirab kesenian.

Upacara Mondosiyo

tradisi mondosiyo di karanganyar lempar ayam
Warga berebut ayam persembahan yang dilemparkan ke atap Pendapa Dusun Pancot saat Upacara Mondosiyo di Dusun Pancot, Kalisoro, Tawangmangu, Karanganyar, Selasa (10/3/2020). (Solopos/Candra Mantovani)

Upacara Mondosiyo dilaksanakan di Dusun Pancot, Kelurahan Kalisoro, Kecamatan Tawangmangu, dan Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar.

Di Dusun Pancot, upacara ini dilaksanakan pada Selasa Kliwon, Wuku Mondosiyo, dan dipusatkan di Punden Bale Pathokan. Di punden tersebut terdapat batu gilang yang menurut mitos menjadi tempat dibenturkannya kepala Prabu Baka oleh Putut Tetuko.

Upacara Mondosiyo dilaksanakan untuk memperingati kemenangan Putut Tetuko melawan Prabu Baka, di mana upacara ini dimaksudkan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap hasil bumi yang mereka peroleh.

Upacara Mondosiyo dilaksanakan di Dusun Pancot ini menampilkan kesenian tradisional yang berbeda tiap tahunnya.

Upacara Dukutan

tradisi dukutan tawangmangu
Warga Dusun Nglurah, RW 010 dan 011, Kelurahan Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu menyelenggarakan upacara adat Dukutan di Situs Menggung. (Solopos.com/Sri Sumi Handayani)

Upacara Dukutan dilaksanakan pada Selasa Kliwon, Wuku Dhukut. Tradisi turun temurun ini bertempat di Dusun Nglurah, Kelurahan Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu.

Upacara ini dipusatkan di Situs Menggung yang merupakan salah satu bangunan cagar budaya di lereng Gunung Lawu yang masih dikeramatkan oleh masyarakat setempat. Upacara Dukutan diyakini masyarakat aga mereka memperoleh keselamatan dan berkah dari Tuhan.

Baca Juga: Asal Usul Legenda Dusun Pancot Karanganyar, Berawal dari Sup Kelingking

Masyarakat meyakini Situs Menggung sebagai tempat asal leluhur mereka, yakni Kyai Menggung dan Nyai Rasa Putih.

Dalam upacara Dukutan, makanan sesaji yang sajikan tidak mengandung daging binatang dan tidak ada yang digoreng. Sebagian besar bahan sesajian dibuat dari bahan jagung.

Puncak upacara ditandai dengan tawur sesaji, yakni saling melempar sesaji antar masyarakat dari dua dusun yang berseberangan, yakni Nglurah Lor dan Nglurah Kidul.

Upacara Dawuhan

Berbeda dengan upacara Julungan, Mondosiyo, dan Dhukutan yang hanya dilakukan di desa-desa tertentu, upacara Dawuhan dilakukan di hampir seluruh desa di Kecamatan Tawangmangu, Ngargoyoso, dan Jenawi.

Upacara ini dipusatkan di sumber-sumber air, seperti: mata air, sendang, atau tepian sungai kecil.

Upacara Dawuhan bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas limpahan air untuk kebutuhan masyarakat. Selain itu, juga sebagai permohonan agar masyarakat senantiasa selamat dan tanaman yang mereka tanam dapat berhasil panen dengan baik.

Baca Juga: Ini Spot Wisata Petik Buah di Karanganyar yang Patut Dicoba

Sebelum melaksanakan upacara, masyarakat akan membersihkan mata air dan sumber air dari semak belukar atau tanaman-tanaman yang mengganggu aliran airnya. Setelah itu, masyarakat menghanyutkan sesaji berupa hasil bumi ataupun nasi tumpeng dan lauk pauknya.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode