Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Ini Bahaya Depresi bagi Perempuan Hamil Seperti Dialami Remaja Wonogiri

Jangan disepelekan, ada sejumlah bahaya depresi bagi perempuan hamil.
SHARE
Ini Bahaya Depresi bagi Perempuan Hamil Seperti Dialami Remaja Wonogiri
SOLOPOS.COM - Ilustrasi perempuan hamil mengalami depresi. (Freepik.com)

Solopos.com, SOLO-Sebelum terlambat, sebaiknya kenali bahaya depresi bagi perempuan hamil seperti dialami remaja Wonogiri yang sempat hilang setahun. Simak ulasannya di info sehat ini.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Wonogiri menyebut kondisi remaja asal Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah yang sempat hilang hampir setahun lalu, MD, 17, tertekan secara psikis.  “Kalau sekarang hamil kan ada beban mental. Untuk urusan pendidikan, kami lihat kondisinya. Biasanya, akan diserahkan ke keluarga kalau anak mau melanjutkan sekolah dan orang tua mendukung. Kami akan mendampingi,” tuturnya.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Jangan disepelekan, ada sejumlah bahaya depresi bagi perempuan hamil seperti dialami remaja Wonogiri tersebut. Kehamilan seharusnya menjadi salah satu momen paling membahagiakan dalam hidup seorang wanita, tapi bagi banyak perempuan, masa-masa kehamilan adalah waktu yang membingungkan, menakutkan, penuh stres, dan bahkan depresi.

Baca Juga: Cemas & Depresi, Kondisi Remaja Wonogiri yang Sempat Hilang 1 Tahun

Depresi postpartum  atau baby blues mungkin jauh lebih dikenal, tetapi gangguan mood selama kehamilan itu sendiri lebih banyak terjadi pada ibu hamil daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Mengutip laman hellosehat.com pada Jumat (1/7/2022), depresi selama kehamilan seringnya tidak terdiagnosis dengan benar karena orang-orang berpikir bahwa gejala yang ditunjukkan hanya bentuk lain dari perubahan hormon, yang normal terjadi selama masa kehamilan.

Karena itu, penyedia layanan kesehatan mungkin akan cenderung kurang tanggap untuk menyelidiki kondisi kejiwaan ibu hamil, dan seorang ibu hamil mungkin akan merasa malu untuk mendiskusikan kondisi yang ia alami.

Baca Juga: Remaja Wonogiri Hamil 5 Bulan Sebut Guru Silatnya Orang Paling Berjasa

Sebanyak 33 persen ibu hamil menunjukkan gejala depresi dan gangguan kecemasan, namun hanya 20 persen dari mereka yang mencari pertolongan.  Kurang memadainya perawatan depresi pada ibu hamil akan berbahaya bagi sang ibu dan janin dalam kandungan.

Sebelum mengetahui bahaya depresi bagi perempuan hamil, ketahui terlebih dulu sejumlah pertanda dan gejalanya.  Mungkin akan sulit untuk mendiagnosis depresi selama kehamilan karena beberapa gejala depresi bisa tumpang tindih dengan gejala klasik kehamilan seperti perubahan nafsu makan, tingkat energi, konsentrasi, atau pola tidur.

Baca Juga: Remaja Wonogiri Hamil 5 Bulan, Ayahnya: Perut Kelihatan Buncit

Tanda dan gejala depresi selama kehamilan, termasuk:

– Terjebak dalam mood depresif setiap waktu.
– Kesedihan yang tak kunjung usai.
– Terlalu banyak atau sedikit tidur.
– Kehilangan minat secara drastis pada hal-hal yang biasanya Anda nikmati.
– Menarik diri dari dunia sekitar, termasuk keluarga dan kerabat dekat, rasa tidak berharga.
– Tidak berenergi, lemah lesu berkepanjangan,
– Konsentrasi yang buruk, atau kesulitan dalam membuat keputusan, perubahan nafsu makan (terlalu banyak atau sedikit), merasa putus asa, tidak memiliki motivasi, memiliki masalah ingatan, menangis terus menerus, serta mengalami sakit kepala, nyeri dan ngilu, atau gangguan pencernaan yang tidak kunjung sembuh.

Baca Juga: Remaja Wonogiri Hamil 5 Bulan, Ini Pengakuan Soal Ayah Bayinya

Penyakit mental ini bisa membuat ibu melampiaskan kesedihannya dengan mengonsumsi junk food, merokok, atau minum minuman beralkohol. Bahkan, pada depresi berat, ibu hamil bisa mencoba untuk mengakhiri hidupnya.

Bahaya depresi bagi perempuan hamil seperti dialami remaja Wonogiri yang hilang tersebut sebaiknya diwaspadai. Pasalnya hal ini bisa menyebabkan janin berisiko mengalami gangguan perkembangan, lahir dengan berat badan rendah, atau lahir prematur. Selain itu, jika depresi berlanjut hingga setelah melahirkan, ibu kemungkinan besar tidak memiliki keinginan untuk merawat bayinya.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode