[x] close
top ear
Proses pembuatan mural tiga dimensi di Jembatan Balong Dusun Sukosari, Desa Kudi, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri, akhir Juli 2020. (Istimewa)
  • SOLOPOS.COM
    Proses pembuatan mural tiga dimensi di Jembatan Balong Dusun Sukosari, Desa Kudi, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri, akhir Juli 2020. (Istimewa)

Ini Alasan “Tersembunyi” Jembatan Peninggalan Belanda di Wonogiri Dihiasi Mural

Karang Tarura Dusuk Sukosari, Batuwarno, Wonogiri, punya alasan “tersembunyi” mengapa menghiasi Jembatan Balong dengan mural.
Diterbitkan Senin, 3/08/2020 - 12:30 WIB
oleh Solopos.com/Aris Munandar
2 menit baca

Solopos.com,WONOGIRI -- Karang Tarura Dusuk Sukosari, Desa Kudi, Batuwarno, Wonogiri, punya alasan “tersembunyi” mengapa menghiasi Jembatan Balong dengan mural tiga dimensi (3D).

Alasan tersebut dipaparkan pembuat mural kepada Solopos.com saat berkunjung ke jembatan peninggalan Belanda di Wonogiri tersebut, Minggu (2/8/2020).

Diberitakan sebelumnya, Jembatan Balong di Dusun Sukosari, Desa Kudi, Kecamatan Batuwarno, Wonogiri, kini dihias dengan seni mural oleh Karang Taruna Sukosari. Lantaran itu, warga berdatangan ke lokasi untuk berfoto.

Geger Video Viral Bendera Merah Putih Dibakar di Lampung, Pelaku Ditangkap

Permukaan jembatan terbuat dari kayu dan di bawahnya disangga beberapa besi. Di bawah jembatan mengalir aliran Sungai Wiroko yang tembus perairan Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri.

Kreator mural 3D sekaligus anggota Karang Taruna Sukosari, Hengky Setiyawan, mengatakan di balik kegiatan menghias Jembatan Balong tersebut, ada pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat dan pemerintah. Karang Taruna Sukosari berharap jembatan di Wonogiri itu tidak lagi dilalui kendaraan bermotor, seperti mobil dan truk.

Menurut Hengky, selama ini pengemudi kendaraan bermotor yang melintas jembatan tersebut mengira keadaan dan kontruksi jembatan masih bagus dan kokoh. Namun, jika diperhatian secara detail kondisinya cukup memprihatinkan.

Guru SMP Jadi Pasien Pertama Meninggal Akibat Covid-19 di Kota Madiun, Begini Riwayatnya

Besi Penyangga Tak Utuh Lagi

Saat Solopos.com diajak memerhatikan dari samping Jembatan Balong di Wonogiri, jika ada mobil melewati jalur tersebut, jembatan bergoyang.

Besi yang berada di bawah kayu tidak menyambung, melainkan terpotong-potong sepanjang tiang penyangga. Sedangkan besi yang masuk ke tiang penyangga hanya 30 sentimeter. Mungkin besinya kuat, namun dikhawatirkan tiang penyangga lama-lama tak kuat menahan berat beban.

"Sebelum terlambat, daripada terjadi insiden dan nantinya sepeda motor saja tidak bisa lewat. Maka kami berharap agar mobilitas bisa dikurangi. Selain itu jika jembatan ambles, nilai sejarahnya berkurang," ungkap dia.

Jika Purnomo Maju Cawali Solo, Putri Woelan Cucu PB XII Siap Jadi Cawawali

Hengky menambahkan dulu warga pernah membuat portal di jalan menuju Jembatan Balong di Wonogiri, namun menuai banyak kritikan. Jika portal yang membuat pemerintah, maka tidak akan ada protes dan semua mentaati.

Ia menambahkan Karang Taruna Suko Sari berharap frekuensi atau mobilitas kendaraan yang melintas di jembatan tersebut berkurang. Truk atau kendaraan bermuatan berat juga seharusnya dilarang melintas.

"Kami berharap nantinya tujuan kami bisa terealisasi. Kami juga berterima kasih kepada Mas Iko. Ia sebagai salah satu penyumbang ide dan penyumbang material kegiatan kami," kata Hengky.


Editor : Profile Tika Sekar Arum
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini