top ear
Bandung Mawardi (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Bandung Mawardi (Istimewa/Dokumen pribadi)

Indonesia Beraksara, Dulu dan Kini

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 8 September 2020. Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncel Bilik Literasi.
Diterbitkan Kamis, 10/09/2020 - 20:30 WIB
oleh Solopos.com/Bandung Mawardi
5 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Alkisah, seorang bocah buta huruf meski sudah kelas II SD. Di rumah ia tak mendapat bimbingan untuk belajar. Bapak dan ibu sudah tiada. Bocah bernama Fido hidup bersama sang nenek yang berusia 70 tahun.

Fido tak pernah mengalami sebagai murid TK. Ia bersekolah saja dengan segala masalah dan malu. Pada saat kelas II SD, ia belum bisa menghafal huruf-huruf. Fido belum berhasil menulis nama sendiri. Hari demi hari, Fido menjadi sasaran ejekan di sekolahan.

Semua gara-gara ia tak hafal huruf-huruf dan belum bisa membaca. Fido dipermalukan yang berakibat ia menikmati hari-hari di sekolahan dengan segala cuek, kenakalan, dan pesimisme. Semua berubah dengan kebaikan Tina, teman sekelas Fido.

Tina adalah murid baru, memiliki kemauan mengubah nasib Fido yang telanjur dijuluki ”si buta huruf”. Tina membujuk Fido dengan meminjamkan dan memberikan buku-buku cerita bergambar. Semula Fido menolak berdalih,”Aku tidak suka membaca!”

Tina tak berputus asa. Pada suatu hari, Tina memberikan buku cerita bergambar dengan tulisan-tulisan besar. Di kulit luar bagian depan ada gambar sapi yang bermata besar dan orang tidur-tiduran dengan baju zaman dulu.

Tina membimbing Fido membaca pelan-pelan, bergantian melihat kata dan gambar. Buku itu dibawa pulang. Di rumah, Fido berlagak membacakan buku kepada Nenek. Ia mengawur saja asalkan pandangan mata ke arah buku. Ia “berbohong” bisa membaca gara-gara mengetahui nenek juga buta huruf.

Di akhir novel berjudul Fido Bisa Membaca (2003) garapan Won Yoo-Soon dengan ilustrasi buatan Lee Hyun-Mi, pembaca terharu atas kesabaran Tina membantu Fido agar bisa membaca melalui buku cerita bergambar. Selama sebulan, Fido mulai lancar membaca.

Setiap istirahat, Tina dan Fido belajar bersama. Won Yoo-Soon menerangkan gambar ternyata sangat membantu Fido dalam bercerita. Di kelas, Fido diminta guru membaca tulisan satu halaman untuk pembuktian. Anak-anak sekelas ternyata dapat merasakan apa yang dirasakan Fido.

Ketika Fido berusaha sekuat tenaga untuk bisa membaca, hampir semuanya merasakan usaha yang dilakukan Fido. Mereka terharu melihat perjuangan Fido. Cerita itu mengenai bocah-bocah dan ikhtiar pemberantasan buta huruf di Korea Selatan.

Di Indonesia, kita masih sulit mencari cerita seperti gubahan Won Yoo-Soon itu. Pemberantasan buta huruf di Indonesia sering hanya mengemuka dalam bentuk pidato pejabat, slogan, spanduk, dan komentar-komentar sepintas lalu. Kita jarang mendapat cerita-cerita merangsang publik agar turut bertanggung jawab terhadap bocah-bocah agar bisa membaca dan menulis.

Pendidikan formal tak menjamin bocah-bocah lekas mahir membaca dan menulis. Kemauan orang-orang atau komunitas partikelir berbagi buku dan mengajak bocah-bocah dalam peristiwa-peristiwa keaksaraan sebenarnya lebih mujarab ketimbang menuruti kurikulum buatan pemerintah.

Pemberantasan buta huruf di Indonesia diselenggarakan sejak masa kekuasaan Presiden Soekarno. Di seantero Indonesia, perintah-perintah bertema keaksaraan dilaksanakan dengan mengadakan kursus pemberantasan buta huruf. Pemerintah dan pihak-pihak partikelir mengimbuhi dengan penerbitan buku dan majalah.

Terbitan-terbitan membangkitkan gairah dan kemauan publik mau belajar membaca, menulis, dan berhitung. Dana besar digelontorkan, sistem dibuat, dan para pengajar dikerahkan demi Indonesia melek aksara. Pada masa 1950-an, penerbit Masman & Stroink (Semarang) menerbitkan bacaan-bacaan yang menunjang pemberantasan buta huruf.

Buku-buku diterbitkan dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Bahasa Jawa diutamakan gara-gara sasaran program keaksaraan adalah publik (bocah, remaja, dan orang tua) hidup dalam latar sosial kultural Jawa. Sekian buku pernah terbit berjudul Pari Sawuli, Kasarasan, Putri Desa, dan Kjai Ageng Kedu.

Buku-buku tipis berpenampilan sederhana itu bermaksud agar harga buku terjangkau dan orang bersemangat untuk belajar membaca dan menulis. Masman & Stroink juga mencetak majalah buatan Inspeksi Pendidikan Masjarakat (Jogja dan Semarang) yang dinamakan Pustaka Marta.

Majalah bermaksud waosanipun para sadherek ingkang saweg sinau tuwin ingkang sampun tamat kursus PBH (pemberantasan buta huruf). Tahun demi tahun, pemerintah ingin mengurangi jumlah penduduk buta huruf. Pelbagai ikhtiar mulai menghasilkan kabar baik.

Orang-orang bisa membaca dan menulis tapi situasi politik dan ekonomi sering tak menguntungkan pada masa 1950-an dan 1960-an. Lakon hidup sering menjadi sulit dan mengakibatkan orang-orang yang lulus kursus tetap berisiko kembali buta huruf atau mengalami kepasifan.

Era Digital

Pesan pemerintah (1951) berbahasa Jawa: Aja nganggur ngethekur. Kudu sregep maca buku-buku sing migunani lan nenuntun marang kamajuan, ing kene bakal ngrasakake begjane wong bisa maca lan nulis. Sebab yen ora bakal dadi wong wuta sastra maneh. Kebiasaan membaca harus dilanjutkan agar semakin mahir, menghindari kepasifan dan kesia-siaan.

Pada masa Orde Baru, ikhtiar pemberantasan buta huruf tetap dikerjakan pemerintah. Pemerintah mengambil peran besar meski takaran keberhasilan masih meragukan. Pada masa 1980-an, Bagian Proyek Pendidikan Nonformal Jawa Tengah menerbitkan serial buku berjudul utama: Aksara dan Angka. Buku-buku tipis dengan sampul berwarna biru. Buku memuat tulisan-tulisan, tak lupa memuat gambar-gambar agar memikat pembaca.

Saya membuka buku berjudul Aksara dan Angka A2 (1984). Buku pelajaran membaca secara sederhana. Di halaman 14 ada gambar ibu mengenakan pakaian khas Jawa. Ia bercaping. Deretan kata di bawah gambar adalah: ini kebun ibu sani/ ibu sani tanam cabai saja di kebun/ kebun ini khusus untuk cabai/ sayur dan tomat ada di tempat lain/ banyak cabai di kebun ibu.

Cerita dalam buku bersifat keseharian. Pembaca mudah mengerti dan mengalami cerita-cerita dalam buku untuk melancarkan membaca dalam bahasa Indonesia. Serial buku digunakan memenuhi impian rezim Orde Baru demi Indonesia beraksara. Heroisme tentu tak setara dengan pemberantasan buta huruf pada masa kekuasaan Presiden Soekarno.

Pada abad XXI ini kita masih berurusan mencipta Indonesia beraksara. Indonesia masih memiliki masalah besar. Pemerintah terus berjanji menuntaskan pemberantasan buta huruf, terutama bagi warga di luar Jawa atau di kawasan Indonesia timur.

Program demi program diselenggarakan tapi lebih sering memunculkan slogan ketimbang berita atau cerita menggirangkan. Pendokumentasian program jarang kita peroleh. Kerja pemerintah mungkin berpatokan pada dana dan peraturan berbeda dengan gairah komunitas-komunitas partikelir atau individu dengan heroisme mengajak publik girang membaca dan menulis.

Mereka bergerak di pelbagai pelosok untuk mengajak orang-orang beraksara saat dunia sudah “terlalu” digital. Kini, peringatan Hari Aksara Internasional, 8 September 2020, dalam suasana pandemic Covid-19. Kerja-kerja keaksaraan masih saja bergerak meski kemampuan membaca dan menulis publik berdilema gara-gara ketagihan konten di platform digital dan gampang terjerat muslihat.

 

 


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

    berita terpopuler

    Iklan Baris

    Properti Solo & Jogja

    berita terkini