Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

KRISIS AIR JATENG : Walhi Jateng Ajak Warga Hemat Air Bersih

SHARE
KRISIS AIR JATENG : Walhi Jateng Ajak Warga Hemat Air Bersih
SOLOPOS.COM - Ilustrasi (JIBI/harian jogja/wordpress.com)

Ilustrasi (JIBI/harian jogja/wordpress.com)

Krisis air bersih Jateng bisa menjadi ancaman serius jika masyarakat tidak melakukan penghematan. Terkait dengan hal itu, Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jateng mengajak warga Jateng hemat air bersih 

PromosiGelaran B20 di Jawa Timur Fokus pada Rantai Pasok UMKM

 

Kanalsemarang.com, SEMARANG– Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Tengah mengajak seluruh lapisan masyarakat menghemat penggunaan air bersih dalam kehidupan sehari-hari guna mengantisipasi terjadinya krisis air pada beberapa tahun ke depan.

“Jika perilaku boros air tidak diperbaiki mulai sekarang, masyarakat dan separuh penduduk di bumi diprediksi akan menghadapi krisis air bersih pada tahun 2030,” kata Direktur Eksekutif Walhi Jateng Ning Fitri di Semarang seperti dikutip Antara, Minggu (22/3/2015).

Menurut dia, sejak musim kemarau 1995 di Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sudah mengalami defisit air.

Ia menjelaskan bahwa defisit air terjadi selama tujuh bulan pada musim kemarau, sedangkan surplus air berlangsung lima bulan saat musim hujan sehingga diprediksi pada tahun 2020 terdapat 35 persen potensi air yang layak dikelola, yaitu 400 meter kubik per kapita per tahun.

“Angka ini jauh dari standar minimal dunia sebanyak 1.100 meter kubik per kapita per tahun,” ujarnya.

Khusus di pulau Jawa, kata dia, akan dihadapkan pada penurunan musim hujan, meningkatnya pencemaran air, laju kerusakan lingkungan yang sulit terbendung, dan bertambahnya penduduk akan makin memperberat penyediaan air bersih.

“Di Pulau Jawa lebih dari 80% kabupaten/kota memiliki defisit air bersih selama 1-8 bulan dalam setahun, sementara program hujan buatan dan pengeboran sumur adalah solusi singkat yang belum mengatasi masalah secara tuntas,” katanya.

Keterbatasan air bersih tanah, kata dia, harus dihemat dan dikelola secara maksimal dan negara atau pemerintah harus hadir dalam darurat air bersih ini.

“Oleh karena itu, melalui peringatan hari air sedunia pada tanggal 22 Maret 2015, kami meminta pemerintah harus menjamin ketersediaan air bersih secara berkelanjutan dan berkeadilan,” ujarnya.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode