Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Indef: Inklusi Keuangan 76 Persen tapi Literasi Keuangan Baru 38 Persen

Literasi keuangan dan literasi digital masyarakat Indonesia masih rendah di tengah meningkatnya inklusi keuangan digital.
SHARE
Indef: Inklusi Keuangan 76 Persen tapi Literasi Keuangan Baru 38 Persen
SOLOPOS.COM - Ilustrasi transaksi digital keuangan. (bisnis.com)

Solopos.com, JAKARTA —  Literasi keuangan dan literasi digital masyarakat Indonesia masih rendah di tengah meningkatnya inklusi keuangan digital.

“Di tengah perkembangan pesat, literasi keuangan digital masyarakat masih rendah,” ujar Researcher Center of Digital Economy and SMes Indef, Izzudin Al Farras dalam webinar bertajuk Penguatan Literasi Keuangan Digital dan Problematika yang Dihadapi oleh goodmoneyID di Jakarta, Jumat (5/8/2022) seperti dilansir Antara.

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

Izzudin mengatakan angka literasi keuangan masyarakat Indonesia hanya sebesar 38 persen di saat inklusi keuangan telah mencapai 76 persen pada tahun 2019. Kebanyakan masyarakat sudah memiliki akun pada layanan keuangan namun belum memiliki pemahaman yang baik mengenai layanan keuangan.

Lanjut Izzudin, skor financial knowledge masyarakat Indonesia berada di angka 3,7 atau masih di bawah skor rata-rata negara OECD yang sebesar 4,6.

Skor ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih mudah tertipu berbagai modus investasi dan keuangan, masih kurang rasional dalam mengelola keuangan dan masih minim pengetahuan terhadap manajemen risiko.

Baca Juga: Pesan Wapres ke OJK: Dorong Sektor Keuangan Syariah

“Masyarakat kita mudah tertipu dari penipuan keuangan. Ini menjadi tugas kita semua meningkatkan pengetahuan keuangan masyarakat,” ujar Izzudin.

Sedangkan, Ia mengatakan literasi digital masyarakat Indonesia masih berada di angka 3,49 dari skala 0 sampai 5. Dengan angka ini, menurutnya, pemerintah perlu membangun infrastruktur digital yang inklusif dan merata di berbagai daerah di Indonesia serta ditujukan untuk berbagai kalangan sosial-ekonomi.

Lanjutnya, digital skill masyarakat Indonesia juga masih di angka 4,51 atau berada pada peringkat ke 10 diantara negara G20, ditambah inklusivitas internet juga masih berada di peringkat 57 dunia.

“Indonesia juga mengalami kondisi dimana sektor TIK [Teknologi Informasi dan Komunikasi] yang ekslusif, dimana hanya dinikmati oleh kalangan berada,” ujar Izzudin.

Baca Juga: Tahan Banting dari Tekanan Ekonomi Global, Kredit Mikro BRI Tumbuh 15%

Dengan masih rendahnya literasi keuangan maupun literasi digital ini, Izzudin berharap pemerintah berupaya memberikan pelatihan dan pendidikan keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat di berbagai daerah.

Kemudian, dibarengi dengan pembangunan infrastruktur digital, khususnya untuk daerah- daerah yang belum terjangkau Teknologi Informasi dan Komunikasi.

Izzudin memproyeksikan transaksi keuangan digital Indonesia akan meningkat pesat mencapai 146 billion US dolar pada 2025 atau setara 9,23 persen PDB Indonesia. Dengan itu, Indonesia harus mampu beradaptasi dengan perubahan jaman sehingga dapat mengambil peluang sekaligus mengantisipasi tantangan ekosistem keuangan digital.

Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan ekonomi digital Indonesia akan mencapai Rp4.500 triliun pada 2030 atau menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita
Part of Solopos.com
Punya akun? Silahkan login
Daftar sekarang...
Support - FaQ
Privacy Policy
Tentang Kami
Kontak Kami
Night Mode